KKNI, SNPT dan SKTTK

Dalam dunia kerekayasaan (engineering) dan kerekayasaan teknologi (engineering technology) sudah umum ditemui penggunaan standar (acuan) dalam merancang maupun dalam melakukan suatu kegiatan. Lebih dari itu, standar yang diacu pun seringkali merupakan standar Internasional. Standar-standar tersebut ditaati atau minimal tidak diabaikan begitu saja oleh mereka yang secara profesional maupun vokasional berkecimpung di bidang kerekayasaan. Benar atau salah suatu pilihan tindakan suatu saat akan diadili berdasarkan standar-standar itu, sengaja dengan ringan menyalahinya hanya akan mendatangkan bahaya.

Kodifikasi yang disepakati, diakui atau diadopsi oleh banyak negara sudah merupakan suatu keumuman di bidang engineering, khususnya bidang EEE (elecrtical & electronics engineering), nama-nama seperti IEC dan IEEE sudah tidak begitu asing lagi bagi banyak pelaku di dunia industri ini. Karena itu untuk bidang engineering education (pendidikan kerekayasaan), yang juga secara umum dulu disebut pendidikan teknik, kebiasaan mengikuti standar ini tidaklah aneh/janggal.

Dunia pendidikan yang meneliti dan membahas mengenai bagaimana manusia belajar sudah sejak lama memiliki teori-teori yang memudahkan proses pembelajaran. Meskipun berbeda dengan persamaan-persamaan “baku” di dunia engineering, teori-teori di dunia pendidikan masih terbukti membantu pembelajaran pada siswa/mahasiswa. 

Kampung Global

Setelah era kemudahan komunikasi dan transportasi membuat Bumi seakan-akan menjadi semakin kecil, dibutuhkan pengaturan baru agar pertukaran tenaga kerja antar negara tidak lagi mengalami hambatan yang sesungguhnya tidak diperlukan. Perlu adanya kesepakatan mengenai standar kemampuan (kompetensi) tenaga kerja. Kesadaran akan hal ini terus bergulir dan dibakukan dalam sejumlah kerangka (framework). Di masa datang hal semacam ini akan menjadi sangat umum seperti halnya keumuman standar-standar lain dalam bidang engineering.

Di Slideshare saya kutipkan mengenai rangkaian dari KKNI, SNPT (SN DIKTI) sampai SKTTK. Slides yang ada di sana tidak memaparkan secara rinci mengenai prosesnya, tetapi kutipan hanya saya pakai untuk menyampaikan mengenai arah penyelarasan dalam tiga bidang tersebut. Bagaimana bidang pendidikan (termasuk pendidikan tinggi) dan bidang ketenagalistrikan (dalam hal sumber daya manusia pelaksananya) secara logis mengacu pada pengaturan KKNI dalam bidang ketenagakerjaan.

Di bagian awal saya mempergunakan dua slide untuk mengutip bagian dari PUIL. Tujuanya semata-mata hanya untuk menunjukkan bahwa mengikuti standar internasional bukanlah hal yang aneh, bahkan untuk sebuah standar nasional. Melakukan ratifikasi bagi sebuah negara, negara maju sekalipun, adalah hal yang lumrah. Begitu pula bagi negara yang merupakan anggota suatu organisasi (bidang tertentu). Bagi negara yang sedang berkembang (tertinggal) dalam hal sains, kerekayasaan dan teknologi, mangacu atau bahkan mengikuti standar dari negara-negara yang lebih maju bukanlah hal yang tabu atau aneh. Justru dalam banyak hal, pilihan itu menyederhanakan dan mempermudah proses.

Pada bagian selanjutnya saya mencantumkan kutipan bagaimana standar PLN (SPLN) juga wajar mengacu pada standar IEC. Lalu berikutnya saya mengutip kerangka kualifikasi di Irlandia dan Eropa lainnya sebagai pembanding.

Pada bagian kutipan untuk pengaturan di dalam negeri, saya mengutip apa yang diproyeksikan untuk dimiliki oleh lulusan D3 maupun D4. Baik menurut standar tingkat di bidang ketenagakerjaan (KKNI), bidang pendidikan melalui SN-DIKTI (SNPT), maupun standar untuk pekerja/tenaga teknik ketenagalistrikan.

Tantangan Zaman

Perlu diingat juga bahwa di luar standar ini, kemajuan zaman juga terus berlangsung. Ada banyak proses yang sekarang beralih dari manual dengan tenaga hewan atau manusia menjadi proses yang telah terotomatisasi. Sebagian peran manusia telah dikurangi bahkan dihilangkan dari sistem. Padahal jumlah penduduk tidak tercatat berkurang setiap tahun, belum ada penurunan angka pertumbuhan penduduk yang signifikan  di Indonesia. Ini menghasilkan tantangan yang besar, ada peningkatan risiko jumlah pengangguran yang semakin besar sementara pelatihan dan pendidikan calon pekerja sulit untuk berubah.

Manusia pekerja masa depan harus dipersiapkan untuk menghadapi tantangan masa depan, bukan masa lalu. Pelatihan perlu diselaraskan dengan perkembangan teknologi dan proyeksi apa saja peran manusia di dalam suatu sistem, di industri dan di peradaban masa depan. Itu kalau mau selamat sejahtera sebagai sebuah bangsa/negara.

 

 

 

Belajar dan pembelajaran

Salah satu masalah (tantangan) bagi siswa, mahasiswa maupun bagi siapa saja yang belajar (pelajar) adalah pemahaman mengenai apa itu belajar (juga pembelajaran). Pelajaran tentang belajar tampaknya masih belum begitu sering diulang dan dipelajari. Maka ungkapan yang umum adalah,”Pokoknya belajar.”

Yang berubah seiring pergantian tahun dan zaman tidak hanya perangkat keras teknologi yang mudah terlihat oleh mata, seperti ponsel dan komputer elektronik. Sebenarnya yang jarang teramati oleh masyarakat umum adalah perubahan, perkembangan dan kemajuan dasar-dasar terwujudnya suatu produk teknologi, yaitu sains. Sains menjadi dasar dari bidang kerekayasaan (engineering) dan juga teknologi (technology). Dan dalam sains, manusia berusaha semakin mengembangkan pemahaman mengena banyak hal di alam semesta, termasuk pada diri manusia. Pemahaman itu terus menerus diperluas, diperiksa dan diperbaiki. Dalam sains tidak dikenal pemahaman manusia yang benar-benar absolut benar. Jika terdapat cukup bukti yang kuat maka suatu pendapat yang dahulu dipercayai dan “dipegang” bisa saja diganti. Masih ingat tentang perkembangan (evolusi) teori tentang atom? Bahkan suatu teori yang diterima setelah penjelasan-penjelasan ilmiahnya dikaji dengan seksama, suatu saat bisa tidak lagi dipakai. Kadang-kadang yang menggugurkannya cukup dengan penjelasan yang lebih baik yang diperiksa oleh banyak ahli.

Gambar 1. Evolusi model atom [sumber: Wikipedia]

http://2.bp.blogspot.com/-dCKSQInAi9g/T9fuVe--FgI/AAAAAAAAAA4/i79zaSWBSPs/s1600/FG05_26.jpgGambar 2. Model-model atom [sumber: Atomic History]

Perubahan pemahaman manusia tentang atom bukanlah satu-satunya perkembangan pemahaman manusia yang dituangkan dalam struktur sains (science). Pemahaman tentang diri manusia pun terus berkembang, termasuk tentang belajar. Bagaimana manusia belajar, apa saja penyebabnya, bagaimana prosesnya dan apa saja tantangannya. Pemahaman berkembang dari yang dulunya menanggap pelajar hanya seperti ember kosong yang hendak diisi menjadi agen belajar yang aktif.

Gambar 3. “Pembelajaran” mode TCL [sumber: slideshare oleh Ridwan]

Perkembangan tentang diri manusia baik sebagai individu maupun dalam kumpulan yang besar sebagai masyarakat dipelajari dan dikembangkan melalui berbagai macam cabang bidang ilmu. Dari awalnya berupa filsafat kuno sampai terbagi ke bidang-bidang khusus yang kemudian bertemu kembali dalam bentuk kajian multidisiplin, interdisiplin dan transdisiplin. Kajian-kajian psikologi, biologi, ekonomi dan antropologi antara lain menghasilkan sinergi dalam pemahaman bagaimana manusia belajar di rentang usia, gender dan budaya. Mirip dengan perkembangan pada pokok ilmu Fisika dan Biologi, semua ilmu-ilmu ini membantu kita untuk berusaha lebih paham mengenai diri kita sebagai manusia, bagaimana kita berpikir dan bertindak dan terutama (untuk kepentingan bahasan ini) mengenai bagaimana kita belajar.

Gambar 4. Ilustrasi pengembangan pengetahuan [sumber: liorzoref.com]

PictureGambar 5. Pentingnya membaca [sumber: furqanasif.com]

Sayangnya, upaya pemahaman ini agar jarang dilakukan di proses belajar di tahap dasar. Lebih celaka lagi, di tahap lanjut pun untuk beberapa bidang, sering diabaikan pula karena dianggap bukan bagian dari kajian. Padahal sama seperti fungsi oksigen dalam udara dan proses bernapas bagi manusia, pemahaman tentang belajar dan ciri-cirinya merupakan dasar atau fondasi bagi “bangunan” di atasnya. Kelemahan pada fondasi akan membahayakan tahapan berikutnya.

Mengejar kemajuan dengan dasar (atau arah) yang salah sedari awal itu bukan hanya tidak efisien tetapi sering tidak efektif. Dan lebih dari itu sering mengundang bahaya yang besar. Jutaan orang mati, literally, disebabkan dasar pemahaman yang salah.

Gambar 6. Mengejar kemajuan dengan arah dan cara yang salah

Gambar 7. Kemajuan sering tidak berarti kalau dilakukan dengan salah

Gambar 6 dan Gambar 7 menunjukkan bahwa sebelum mengejar kemajuan, harus diupayakan terlebih dahulu untuk menetapkan arah dan cara yang sebenar mungkin. Orang sering terpesona dan terlena dengan progress tetapi sering tidak peduli bahwa arahnya salah. Kalau arah sudah salah maka apa yang dianggap sebagai kemajuan tadi menjadi tidak berarti, bahkan lebih sering mendatangkan kerugian. Jadi, apakah kita berhasil menyelesaikan menebang pohon di hutan untuk kemudian menyadari kita menebang di hutan yang salah dan dengan arah yang salah pula? Atau, apakah kita berusaha untuk cepat menaiki tangga, padahal tangga itu kita sandarkan di dinding yang salah (seperti ilustrasi pada Gambar 8)?

Gambar 8. Memanjat tangga di dinding yang salah

 

Salah satu masalah dalam potensi masalah pembelajaran di perguruan tinggi dalam bidang yang bukan keguruan dan ilmu pendidikan adalah adanya pengabaian perkembangan dan pencapaian dalam teori/ilmu mengenai bagaimana manusia belajar. Terutama untuk bidang-bidang yang lazim dikenal sebagai eksakta, termasuk kerekayasaan (enginering) dan kerekayasaan teknologi (engineering technology). Pada satu sisi ini “bisa dipahami” karena bidang-bidang yang sering juga disebut sebagai ilmu-ilmu teknik ini dianggap sudah memiliki sejumlah besar kesulitan yang menjadi tantangan tersendiri. Karena itu ada keengganan untuk “menambahinya” dengan tantangan baru yaitu memahami cara pembelajaran. Namun demikian, seiring waktu disadari bahwa cara seperti itu tidaklah benar. Sebagaimana ada ilmu yang dikembangkan, misalnya, untuk memahami cara kerja dan pemanfaatan energi listrik, maka ada pula ilmu yang dikembangkan untuk membantu proses belajar. Dan tentu saja ilmu itu juga harus dipergunakan sebagaimana ilmu-ilmu yang lain. Pembahasan mengenai hal tersebut tercakup dalam engineering education.

Gambar 9 menampilkan contoh buku dalam Bahasa Indonesia yang relatif masih bisa diperoleh dengan mudah. Buku ini menurut saya bagus dan bermanfaat bukan saja untuk para pengajar tetapi bahkan untuk para pelajar. Dengan menggunakan buku ini, baik pengajar maupun pelajar dapat mengacu pada acuan yang sama untuk memformulasikan bagaimana proses belajar itu dapat berlangsung dengan lebih baik. Buku ini cukup ringkas dan praktis untuk dipergunakan bahkan untuk bidang engineering/engineering technology.

Beberapa bagian penting untuk fondasi proses pembelajaran saya kutip di sini semata-mata untuk keperluan pendidikan dan non komersial. Bila tertarik (dan disarankan) untuk membaca silakan membeli buku ini.

Gambar 9. Contoh sumber bacaan mengenai pembelajaran

Dikutip dari : E. Siregar, Teori belajar dan pembelajaran. Ghalia Indonesia, 2010.

A. Pengertian Belajar, Ciri-Ciri Belajar dan Mengapa Belajar?

Belajar merupakan sebuah proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak masih bayi (bahkan dalam kandungan) hingga liang lahat. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).

 

Dengan demikian, dapat simpulkan bahwa seseorang dikatakan telah belajar kalau sudah terdapat perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat dari interaksi dengan lingkungannya, tidak karena pertumbuhan fisik atau kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat—obatan. Kecuali itu, perubahan tersebut haruslah bersifat relatif permanen, tahan lama dan menetap, tidak berlangsung sesaat saja.

 

Orang yang bergerak dalam bidang pendidikan dan pelatihan, istilah “proses belajar mengajar” atau ”kegiatan belajar mengajar” adalah istilah yang tidak asing lagi. Dalam kedua istilah tersebut kita lihat, adanya dua istilah yaitu ”belajar” dan “mengajar”. Keduanya seolah- olah tak terpisahkan satu sama lain, ada anggapan bahwa kalau ada proses belajar tentulah ada proses mengajar. Seseorang belajar karena ada yang mengajar. Tetapi benarkah itu? Kalau mengajar kita pandang sebagai satu-satunya kegiatan atau proses yang dapat menghasilkan belajar pada diri seseorang, pendapat tersebut tidaklah benar. Proses belajar dapat terjadi kapan saja terlepas dari ada yang mengajar atau tidak. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya. Karena itu istilah “pembelajaran” mengandung makna yang lebih luas daripada “mengajar”, pembelajaran merupakan usaha yang dilaksanakan secara sengaja, terarah dan terencana, dengan tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan, serta pelaksanaannya terkendali, dengan maksud agar terjadi belajar pada diri seseorang.

 

Gambar 10. Pengajaran VS pembelajaran

#fairUse #educational #nonCommercial


Jika pengumpamaan pelajar seperti ember kosong yang akan diisi oleh orang lain tidaklah begitu tepat, maka analogi lain dari pelajar dapat diambil. Perbedaannya adalah pada letak peran utama yang diambil. Dalam pemahaman modern seperti yang sudah dijabarkan di bagian sebelum ini hingga Gambar 10, peran utama dalam proses pembelajaran ada pada pelajar, bukan lagi pada pengajar seperti pemahaman pada zaman dahulu.

Analogi baru yang dimaksud adalah seperti pada Gambar 11 berikut. Sebagian pengguna komputer elektronik seperti desktop PC maupun laptop  pernah mengetahui perlunya melakukan format pada hard disk (HDD). Format ulang bahkan kadang diperlukan untuk melakukan instalasi sistem operasi yang berbeda, terutama pada masa lalu. Misalnya sistem operasi Microsoft Windows cocok mempergunakan format partisi FAT, FAT32 dan NTFS. Kesulitan akan terjadi kalau format partisi HDD adalah ext3, misalnya. Format ini cocok untuk OS GNU/Linux seperti Ubuntu atau Slackware.

Perbedaannya adalah analogi dini dipakai untuk menjelaskan bahwa siswa/pelajar secara aktif melakukan format ulang sendiri terhadap dirinya. Faktor di luar hanya membantu, misalnya lingkungan manusia, pengajar dan sarana penunjang lainnya. Format ulang diperlukan kalau ingin mencapai hasil yang sesuai. Karena belajar adalah berubah, maka perubahan perlu terjadi dan perlu dilakukan di atas dasar yang sesuai dan benar.

Gambar 11. Format partisi di sistem GNU/Linux


Hal lain tentang belajar adalah pengungkapan secara informal suatu kegiatan. Sebagai contoh, jika seseorang ditanya tentang apa yang sedang dilakukannya ada kemungkinan ia menjawab bahwa ia sedang belajar. Sebenarnya ia sedang membaca, dan sebagaimana yang sudah dipahami membaca belum tentu berarti belajar, sungguh-sungguh belajar.

Katakanlah kita menerima ungkapan informal seperti itu maka ungkapan belajar secara informal dapat berarti dua hal. Mempelajari sesuatu yang baru atau mengulang sesuatu (yang dulu pernah dipelajari).

Mempelajari sesuatu yang baru sama seperti hakekat belajar yang sudah dibahas, hasilnya seharusnya adalah adanya perubahan. Tanpa adanya perubahan maka sesungguhnya seseorang tidaklah bisa dianggap telah belajar (sesuatu yang baru). Yang kedua adalah mengulang sesuatu yang telah pernah “dipelajari”. Hasilnya bisa saja berupa perubahan, karena hal yang sama bisa jadi dipelajari dengan sudut pandang yang berbeda, pendekatan yang berbeda, situasi/lingkungan yang berbeda dan cara yang berbeda. Tetapi secara umum, mengulangi suatu bahan lebih akan mungkin menghasilkan peningkatan ketepatan, kecepatan dan secara umum keterampilan.

Sungguhpun pencapaian tiap individu akan berbeda-beda tetapi secara umum pola yang akan dihasilkannya sama.

Gambar 12. “Belajar”


Tantangan untuk mahasiswa D3 dan D4 akan semakin besar seiring kemajuan zaman. Semakin maju peradaban manusia dalam sains dan teknologi akan semakin banyak pola kerja manusia yang berubah/bergeser. Dengan bantuan otomatisasi dan robotika peran manusia untuk pekerjaan yang mengandalkan kemampuan motorik akan semakin berkurang di banyak bidang industri.

Sesuai KKNI, maka tingkat pekerjaan yang harusnya disasar dan memang menjadi bagian dari kompetensinya tidak lagi bertumpu pada kemampuan psikomotorik semata. Sebagai contoh, pada Gambar 13 adalah kondisi ruang monitoring dan pengendali di salah satu pembangkit listrik. Pemantauan sudah dilaksanakan dengan bantuan teknologi komputasi dan komunikasi, menggunakan komputer elektronik. Operator tentu dituntut memiliki dasar kemampuan analisis data dan situasi yang lebih baik agar dapat menilai dan memvisualisasikan kondisi operasi sistem. Gambar 14 adalah foto dari ruang kendali pada pembangkit yang lebih baru. Adanya peningkatan otomatisasi memudahkan proses pemantuan dan pengendalian oleh manusia. Untuk sebagian besar operasi rutin telah dapat ditangani oleh algoritma komputasi. Hal seperti ini sudah umum terjadi saat ini. Sehingga pembelajaran untuk mahasiswa pun perlu disesuaikan ulang.

Gambar 13. Salah satu contoh ruang kendali pembangkit listrik

Gambar 14. Ruang kendali pembangkit yang lebih baru


Proses pendidikan di perguruan tinggi sesungguhnya tidak hanya melayani kepentingan mahasiswa dan orangtua mahasiswa, tetapi juga melayani kepentingan bangsa dan negara. Adalah kepentingan negara untuk dapat memiliki penduduk yang tiap kurun waktu terdapat perbaikan dalam hal kualitas sumber dayanya. Ini penting agar negara tersebut bisa bersaing di dunia internasional, bisa meningkatkan taraf hidup penduduknya dan memajukan peradabannya.

Hasil pendidikan tinggi bukan hanya berupa kecakapan kerja operasional di bidang spesifik, seperti pelatihan keterampilan tertentu saja. Hasil utama pendidikan tinggi sesungguhnya adalah perubahan cara dan pola pikir menjadi lebih terbuka dan lebih maju, Mampu menyerap kemajuan peradaban lain dan memajukan peradaban bangsa dan negaranya sendiri.

Sebagian dari bukti adanya perubahan cara dan pola pikir dapat dengan mudah dipantau di berbagai media sosial dewasa ini. Bagaimana berita fake dan hoax sangat sering disebarkan oleh orang-orang yang bahkan telah lulus pendidikan di perguruan tinggi. Padahal ciri telah belajar adalah adanya perubahan yang nyata. Berarti masih ada kesenjangan antara capaian dari pola pembelajaran dengan hasil pendidikan tinggi. Sesuatu yang harus secara nyata dan sistematis dibenahi.

Gambar 15 saya pahami sebagai gambar canda mereka yang bergerak di bidang TI. Saat musim liburan, saat beberapa personel sedang libur, tentu diharapkan sistem tidak mengalami gangguan. Tetapi untuk tulisan ini, gambar ini saya pakai untuk menyampaikan bahwa salah satu hasil dari pembelajaran di perguruan tinggi adalah adanya perubahan cara pikir menuju penghormatan terhadap korelasi dan kausalitas. Terutama untuk mahasiswa kerekayasaan/perekayasaan teknologi (engineering technology) yang juga sering dipanggil “anak teknik”. Ada cara-cara tertentu untuk melakukan sesuatu, ada prosedur, ada sistematika yang perlu diacu dan ditaati. Misalnya, kembali ke Gambar 15, seorang teknisi/technologist tidak bisa berharap sistemnya tidak akan mengalami gangguan hanya dengan melakukan hal seperti di dalam foto bercanda itu. Ada prosedur teknis yang harus diikuti, dilakukan untuk meminimalkan kemungkinan gangguan.

Gambar 15.  Bercanda, harapan sebelum ditinggal berlibur [sumber: twitter.com/Fluidityss/status/808629570115084288]

Berbeda lagi dengan Gambar 16, gambar ini dulu sering dipakai sebagai hoax dengan banyak versi tulisan (caption), menjadi meme yang viral. Setelah beberapa tahu berlalu dan faktanya sudah menjadi umum, meme serupa ini menjadi meme sarcasm yang menunjukkan kekonyolan banyak orang yang sering membagi hoax.

Image result for ular menyelamatkan ikanGambar 16. Hoax ular menyelamatkan ikan

Gambar 17 memiliki pola yang sama dengan Gambar 16, bedanya adalah dipakai untuk menunjukkan bagaimana bahkan sekarang media massa konvensional dianggap latah untuk ikut menyebarkan “berita” yang belum mereka verifikasi dengan baik sebagaimana lazimnya sebuah media massa.

Image result for ular menyelamatkan ikanGambar 17. “Ular pemberani”

Image result for ular menyelamatkan ikanGambar 18. Elang “menolong” ikan

Gambar 18 ini lebih mirip dengan Gambar 16, tentang hoax yang disebarkan tanpa memperhatikan logika dan fakta. Berita-berita palsu dan hoax seperti ini menjadi salah satu penanda berhasil tidaknya pembelajaran secara umum. Karena pembelajaran di perguruan tinggi bukan hanya berupa pelatihan keterampilan untuk satu bidang kegiatan semata. Ada pengembangan pola pikir di sana, ada pembiasaan pencarian informasi dan analisis informasi yang harusnya sudah menjadi bagian integral dari suatu pendidikan tinggi.

Sudahkah bersedia untuk berubah?

Save

Sistem alat praktik laboratorium elektronika daya

Kegiatan praktik di lab (laboratorium) adalah salah satu bagian dari upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pendidikan vokasi juga mengacu pada KKNI, yaitu tingkat (level) 5 untuk jenjang D3 dan tingkat (level) 6 untuk jenjang D4. Dengan mengacu pada level yang sesuai, maka kegiatan praktik mahasiswa perlu diatur agar tujuan pembelajaran tercapai. Misalnya untuk level 5: “Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja kelompok”, sedangkan redaksi untuk level 6: “Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.”

Sebagai konsekuensi dari level 5 dan level 6 maka kemandirian praktikan dalam kegiatan praktik perlu dijaga. Untuk dapat mencapat hal tersebut dan sekaligus juga tetap menjaga keselamatan diri, keselamatan orang lain dan keselamatan peralatan maka mahasiswa praktikan perlu menyadari, memahami dan melaksanakan hal-hal yang memang diperlukan dalam praktik. Sepanjang logis dan proporsional. Ini menyangkut pula mengenai bagaimana mahasiswa dinilai, yaitu unsur kognitif, psikomotorik dam afektif.

Gambar 1. Contoh tipikal sistem job praktik

Gambar 1 adalah contoh tampilan umum dari sistem alat per modul. Pada bagian paling kanan adalah alat yang disebut sebagai osiloskop digital (digital oscilloscope). Bagian tengah adalah papan sistem percobaan yang konfigurasinya bisa berbeda untuk tiap job. Sedangkan bagian paling kiri adalah catu daya utama sistem.

Gambar 2. Modul kendali

Pada Gambar 2 terlihat  bahwa modul kendali sistem terletak di bagian kiri. Kotak pengendali ini diberi nama sebagai microprocessor module. Pada praktikum di ELDA II, modul ini sebagai pengendali pada komponen seperti SCR, TRIAC, BJT, MOSFET dan IGBT. Sedangkan pada praktikum ELDA I akan berfungsi sebagai antar-muka interface untuk menampilkan bentuk sinyal tegangan dan bentuk (padanan) sinyal arus pada osiloskop melalui kotak modul DAS yang dipasang di bawahnya. Kotak di sebelah kanan kotak pengendali adalah modul yang akan dikendalikan atau modul percobaan. Sebagai contoh pada Gambar 2 adalah penyearah setengah gelombang.

Gambar 3. Catu daya

Gambar 3 menunjukkan kotak catu daya utama sistem (power electronics universal supply). Untuk tiap percobaan (job) perlu dilihat di panduan apakah konfigurasi daya lewat jumper sudah benar sesuai. Salah satu fitur pengaman pada modul ini adalam MCB, sedangkan lainnya adalah  sekring pemutusan cepat (fast-acting fuses) dengan penanda gG [full-range breaking capacity (overload and shortcircuit protection) for general applications].

Pemeriksaan yang baik untuk fast-acting fuses adalah dengan memeriksana secara fisik setiap kali akan memulai praktik dan setiap akhir dari praktik. Tetapi cara ini berisiko memberikan kelelahan mekanis. Karena itu cara yang merupakan kompromi adalah dengan melakukan pemeriksaan tegangan keluaran dari catu daya ini. Jika terdapat kejanggalan, baru kemudian bisa dilakukan pemeriksaan terhadap fuse. Setiap kali pertama mengawali praktik, setelah melakukan pemeriksaan terhadap wiring, praktikan harus melaporkan kondisi tegangan masukan kepada para instruktur.

Jika kemudian diperlukan pemeriksanaan terhadap sekring (fuse) praktikan dapat membuka tempat sekring (fuse holder) dengan cara menariknya dengan “kekuatan” yang secukupnya saja. Sekring akan terlihat seperti pada Gambar 4.

Gambar 4. Fuse holders

Pemeriksaan dapat dilakukan dengan mempergunakan DMM (digital multimeter). Carilah kabel yang ujungnya terbuka sehingga dapat menjangkau ujung dari sekring, atau jika tersedia gunakan probe dari DMM. Cara lain adalah dengan mempergunakan semacam test pen yaitu non-contact voltage detector (NCVD) / proximity tester / proximity detector seperti yang terilhat pada Gambar 5. Cara penggunaan alat ini sederhana, mempergunakan prinsip closed loop. Jika sekring dalam kondisi baik maka akan terjadi untai tertutup, lampu indikator merah akan menyala atau buzzer akan berbunyi (tergantung pada pilihan mode). Ujung NVCD yang berbentuk obeng minus (flat head) umumnya disentuhkan dengan baik ke ujung sekring, sedang ujung sekring lainnya disentuhkan dengan kulit jari tangan (misalnya jari jempol tangan kiri). Sedangkan jari telunjuk tangan yang memegang NVCD disentuhkan ke pelat kecil di bagian samping seperti yang terlihat pada Gambar 5. 

Gambar 5. NCVD

Gambar 6. Tombol emergency

Tombol emergency atau emergency push button seperti pada Gambar 6 dioperasikan hanya saat terjadi kondisi bahaya atau risiko bahanya. Caranya adalah dengan melakukan penekanan/dorongan pada tombol. Cara mengembalikan kembali ke kondisi siap operasi adalah dengan melakukan putar-kanan lalu lepas pada tombol tersebut.

Gambar 7. Voltage knob

Pengaturan tegangan keluaran pada catu daya utama adalah dengan memutar kenop yang wujudnya terlihat seperti pada Gambar 7. Putar dari 0% sampai 100%, tergantung pengaturan dan keperluan. Baca dan sesuaikan dengan panduan praktik tiap percobaan (job). Semakin mendekati nilai sasaran, putarlah dengan lebih pelan agar tidak sampai melampaui (overshoot). Sebelumnya pastikan DMM terhubung dengan baik ke sistem dan dalam mode tegangan (voltmeter). Pastikan pula mode pengukurannya sudah sesuai, misalnya pada mode AC atau DC (tergantung dari panduan job).

Dalam melaksanakan kegiatan praktikum unsur afektif dan psikomotorik perlu dikelola dengan baik. Hindari bercanda dengan kontak fisik yang banyak dan membahayakan manusia dan alat. Konsentrasi pada tugas dan urut-urutan kegiatan praktik. Kondisi alat saat selesai praktik seharusnya sama dengan kondisi alat pada saat memulai praktik. Seluruh anggota kelompok bertanggung jawab atas keselamatan alat dan sistem.

Bagian yang juga penting selain menjaga keselamatan manusia dan alat adalah kebersihan alat dan lantai. Sekalipun telah ada petugas yang membersihkan, kegiatan piket ruangan ini memiliki tujuan pendidikan yang penting terutama untuk pendidikan vokasi. Penggiliran tugas piket perlu dilakukan dan tidak boleh dihindari atau saling lempar “waktu pelaksanaan”. Pelanggaran akan setidaknya mengakibatkan penurunan nilai praktikan. Dalam rentang waktu tertentu tata letak kabel-kabel perlu diatur ulang dan juga merupakan bagian dari pelaksanaan “piket kebersihan”.

Gambar 8. Pelaksanaan piket kebersihan

Sebagai contoh dan pembanding, pola seperti ini bahkan sudah dianut Jepang. Dilaporkan bahwa (banyak) sekolah-sekolah di Jepang yang menyerahkan urusan kebersihan ruangan pada para siswa itu sendiri. Ini membangun budaya kerja yang baik.

Gambar 9. Membersikan ruangan

Gambar 9 adalah salah satu foto mengenai aktivitas menjaga kebersihan di sekolah di Jepang. Sumber: 10 distinctive features of the Japanese education system that made this nation the envy of the world.