Konektor yang aman

Safety connector seringkali diperlukan di laboratorium, untuk meningkatkan faktor keamanan. Keberadaannya memperkecil kemungkinan manusia teraliri oleh arus listrik, alias kesetrum.

Misalnya, banana plug (untuk yang laki/male) atau banana jack/banana socket (untuk yang perempuan/female). Khusus untuk yang female sering dikenal juga dengan sebutan binding post. Versi yang (lebih) aman dari yang biasa dipakai (yang bagian logam/metal-nya dapat tersentuh) disebut dengan tambahan kata safety. Contoh, safety banana plug, safety banana jack, safety binding post.

Gambar 1.

Misalnya pada Gambar 1, plug yang kebetulan berwarna biru itu lebih aman daripada yang berwarna merah. Yang berwarna biru memiliki pelidung. Sehingga bagian metal di dalamnya tidak mudah untuk tersentuh secara tidak sengaja. Bandingkan dengan yang berwarna merah. Kedua banana plug itu dipasang pada jumper. Jika tertarik lepas, maka bagian metal dari plug berwarna merah akan terlihat. Berbeda dengan yang berwarna biru.

Gambar 2.

Pada Gambar 2, terlihat bahwa banana jack/banana socket/binding post yang berwarna merah maupun yang berwarna hitam  bukan  berasal dari kelompok safety connector. Ada bagian cincin/ring metal yang terkespos pada binding post. Pada Gambar 2 juga terlihat banana plug, yang unsafe. Ada bagian plug dari metal yang gampang terlihat. Bagian ini bisa tersentuh oleh konduktor. Bisa juga dalam skenario yang lebih fatal, plug seperti ini tertarik lepas dari binding post padahal sedang dalam keadaan bertegangan (masukan bagi binding post). Berbahaya jika tersentuh oleh kulit manusia tanpa pengaman isolasi tambahan. Misalnya pada keadaan sumber tegangan di atas 50 VAC RMS.

Dengan demikian mudah untuk dilihat bahwa sebaiknya untuk kondisi situasi dan aktivitas (seperti di laboratorium riset/pendidikan) yang berpotensi terkena tegangan di atas 50 VAC, sebaiknya mempergunakan komponen yaang masuk dalam kelompok safe (safety…). Pilihan pertama adalah pada penggunaan safety banana jack/safety binding post, sehingga dengan demikian plug yang nanti akan dipergunakan juga bisa memiliki pelindung seperti misalnya, safety banana plug.

Masalahnya adalah pada ketersediaan komponen soket aman (safety socket) seperti itu di pasaran lokal Indonesia. Di toko-toko online Indonesia pun sepertinya belum dapat ditemui. Kalau pun impor langsung harganya sangat mahal dan tidak dijual dalam eceran dengan jumlah sedikit. Karena itu perlu dicari jalan lain.

Salah satu solusi tidak ideal yang masih bisa dipakai adalah dengan mempergunakan isolation tape, alias isolasi listrik. Banana plug dan banana jack (binding post) bisa direkatkan dengan mempergunakan isolasi listrik. Pertama menghilangkan kemungkinan tersentuh pada bagian metal dari komponen konektor dan yang kedua mengurangi kemungkinan banana plug mudah terlepas/tercabut/tertarik dari binding post.

 

Transaksi gagal di Tokopedia

Biasanya transaksi yang saya lakukan sebagai pembeli, di Tokopedia, berhasil. Tidak semuanya lancar, tapi barang sampai di tempat atau dibatalkan dari awal dengan konfirmasi.

Kali ini tidak. Sebelum bertransaksi saya bahkan sempat menanyakan apakah barang sudah “ready”. Namum setelah ditunggu berhari-hari, barang tidak sampai (karena memang tidak dikirim) dan tidak ada satu pun pesan dari penjualnya. Saya tidak dihubungi dengan cara apapun. Setelah saya cek di lapaknya barang yang saya pesan itu telah dihapus. Saya masih tidak menerima kabar dari penjualnya sampai hari ini.

Uang yang saya bayar memang otomatis kembali ke akun saya di Tokopedia. Tapi waktu menunggunya kan tidak.

[Klik gambar untuk memperbesar tampilan.]

  

Memindah koleksi bookmark dari Kifi ke Raindrop

Salah satu situs favorit dan aplikasi andalan saya, Kifi tutup buku. Menurut beberapa sumber, konon kabarnya perusahaan ini dibeli oleh Google untuk mengembangkan aplikasi mereka sendiri.

Kifi has shut down and is no longer operational. We care about your data, so please be sure to take it with you.

Penyelamatan data perlu dilakukan agar jerih payah selama ini masih bisa mendatangkan manfaat. Suatu saat nanti akan saya atur ulang, misalnya bisa ditempatkan secara untuk publikdi Bundlr. Tetapi sekarang yang paling penting adalah menyelamatkan datanya terlebih dulu.

ashampoo_snap5.png

Proses importing bisa diawali dari tautan : https://raindrop.io/other/import/import.html#/. Untuk pengalaman saya malam ini, proses impor data yang haya beberapa mega itu cukup cepat. Hanya saja, penyusunan ulang folder setelah berhasil diimpor yang perlu waktu. Ini pekerjaan paling memakan waktu malam ini. Proses semacam ini tiga kali saya alami, pertama dari Diigo lalu dari Kipt dan yang terakhir ini dari Kifi. Mudah-mudahan Raindrop dan Bundlr tidak mengalami nasib yang sama.

screenshot_20160912-232023.jpg

Layanan gangguan Telkom

Proses perbaikan tampaknya memang terus berlangsung¬† ūüôā . Kali ini catatan singkat pengakuan saya (dan mungkin diakui banyak pelanggan lain) terhadap kemajuan layanan Telkom. Ada banyak yang masih bisa ditingkatkan, tapi kemajuan nyata perlu dihargai. Perubahan yang bisa dilihat dan dibuktikan .

Pagi ini saya menemukan bahwa koneksi Internet di rumah terputus, begitu pula tampaknya jalur komunikasi suara via telepon kabel. Tidak bisa dihubungi lewat telepon genggam, singkatnya “mati total”. Saya lalu menghubungi 147 (tepatnya 0541147) dari telepon genggam. Setelah menekan beberapa kombinasi angka untuk memilih layanan signkatnya saya berhasil melaporkan gangguan.

Kemudian saya menerima email yang berisi pemberitahuan tiket pengaduan gangguan dan email pernyataan kemajuan (progress) penanganan pengaduan saya. Saya sebelumnya sudah menerima beberapa email billing statement. Suatu kemajuan, yang ini kemajuan (setidaknya yang saya tahu) lain lagi. Oke lah, sekedar pemanis layanan mungkin. Tapi saya sudah cukup senang saat itu, ada kemajuan. Ada penghargaan sistem di sana terhadap pelanggan.

ashampoo_snap4.png

Kemudian tanpa dihubungi oleh petugas Telkom, jalur telpon dan Internet kembali normal. Bisa diperbaiki tanpa mengganggu pelanggan. Lalu saya menerima email lagi, untuk meminta konfirmasi bahwa benar pengaduan saya sudah ditangani dan diselesaikan.

ashampoo_snap3.png

Baguslah, ini bentuk sederhana yang mungkin remeh tetapi bisa jadi contoh yang bagus untuk transformasi yang lebih besar. Bisnis dengan inti di seputar sistem dan teknologi informasi bisa menjadi pendorong yang kuat dan nyata untuk negeri ini menyesuaikan diri dengan “lagit yang lebih luas”. Bukankan katanya di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung? Langit suatu desa dan kecamatan, sekarang ini sangat mungkin sudah tidak lagi bisa “terpisah” seperti zaman nenek moyang dulu. Para pemimpin di beberapa era di Jepang, Korsel, Singapura dan China tampaknya sudah lama sadar tentang itu. Sekelumit yang saya pernah rasakan Tokopedia, Bukalapak dan Telkom mulai bergerak ke arah kelaziman dunia modern. Apalagi sudah banyak orang yang setidaknya bisa melongok ke dalam Amazon, eBay, Alibaba, atau AliExpress

IMHO, selama ada informasi, ada wawawasan, ada dorongan eksternal maka akan muncul keinginan. Lalu, katakanlah, menjadi renacana yang diwujudkan. Sumber daya diatur dan mungkin ditambah sampai bisa memberikan layanan yang memadai. Setidaknya cukup untuk mempertahankan keuntungan. Faktor kesesuaian sumber daya manusia tentu sangat penting, baik dari segi kemampuan maupun jumlah. Akan sangat riskan dan cenderung menggagalkan sistem kalau hanya mengandalkan para pegawai yang mampu tapi jumlahnya sangat kurang.

Soal paket TV dalam layanan sepertinya memang masih mengesalkan. Tapi untuk sistem layanan pengaduan, seingat saya sudah lebih baik. Tinggal, lagi, penyesuaian faktor human in the loop, memperkuat bukan melemahkan.

Baiklah, mumpung hari libur kerja bisa dilanjutkan. Layanan Google seperti docs dan drive sudah bisa diakses. Pemformatan ulang bahan bisa dilakukan. Pelayanan notifikasi update juga sudah dikirim ke 65 alamat email mahasiswa. Terinspirasi dari pelayanan Telkom ūüėÄ .

http://weknowmemes.com/wp-content/uploads/2014/04/basic-human-needs-wifi.jpg–image credit : weknowmemes.com

Pelajar terlalu happy?

Penyalinan

Berikut adalah salinan kutipan bahan pengawalan kuliah terdahulu, tentang tantangan penyesuaian di awal semester. Sebuah pola yang perlu diubah dan disesuaikan. Belajar dari kesalahan masa lalu untuk berjuang menghadapi masa depan.

Benar tidaknya menarik untuk dipikirkan. Juga menarik jika dihubungkan dengan naskah pidato pak Menteri pada post terdahulu.

— sumber : portraitindonesia.com

 

Pidato Menristekdikti Pada Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 2016

Sampai hari ini, saya masih alergi  dengan banyak hal yang merupakan hal yang sifatnya sebatas pada seremonial belaka. Tetapi pidato yang saya dengarkan pada saat upacara peringatan Hari Kemerdekaan tahun ini saya rasa berharga sebagai salah satu dari beberapa pijakan dasar untuk perkuliahan Elda musim semester ganjil ini.

Memang ada beberapa tentang kenyataan dunia keilmuan dan pendidikan yang jauh dari yang diharapkan. Misalnya beberapa hal dapat dipelajari dari ceramah pak Tjia May On (M.O. Tjia) di playlist yang telah saya buat di YouTube. Isi dari ceramah sebenarnya tidak persis sama dengan judul (FINS – Klub Sains Freedom Institute: Budaya Riset dan Situasi Mutakhir Fisika), tetapi lebih kepada penumbuhkembangan budaya ilmiah di Indonesia. Tema ini tampaknya adalah passion dari pak TMO yang berupakan Guru Besar Fisika di ITB ini. Dua tulisan mengenai beliau di situs ITB dapat dibaca di link ini: (1, 2).

Kembali ke isi pidato pak Menteri. Apa yang ada di dalam isi pidato ini bersesuaian juga dengan harapan dan perjuangan yang dilakukan oleh banyak ahli dan ilmuwan Indonesia seperti pak Tjia May On. Juga pada dasarnya memang bersesuaian dengan landasan berpikir yang telah diterapkan di negara-negara yang lebih maju dalam bidang IPTEK dan ekonomi. Dalam bidang pendidikan tinggi misalnya, apat ditemui hal-hal yang telah dijabarkan dalam standar ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology). Standar ABET ini juga menjadi acuan beberapa perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, misalnya oleh Teknik Elektro ITB. Tentang ABET dan filosofi pendidikan internasional yang telah menjadi acuan pendidikan tinggi di Indonesia akan saya usahakan untuk dijabarkan di lain tulisan (halaman).

Pidato pak Menteri yang dibacakan oleh para pejabat pendidikan tinggi di Indonesia saat upacara ini saya salin sebagaimana aslinya pada sumber. Pengecualian adalah pewarnaan tulisan yang saya lakukan untuk lebih memberikan penguat mengenai hal-hal yang sangat relevan dengan proses perkuliahan.


Pidato

MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

Pada Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan

Republik Indonesia ke-71

17 Agustus 2016

INDONESIA KERJA NYATA

Bismillahirrahmanirrahim,

Yang terhormat, ….

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat pagi, dan salam sejahtera untuk kita semua.

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan dan kekuatan bagi kita semua, sehingga kita masih diberikan kesempatan untuk menghadiri acara peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71.

Tujuh puluh satu tahun Indonesia merdeka merupakan rahmat yang tak ternilai harganya dari Allah Yang Maha Kuasa.  Dengan kemampuan yang kita miliki, Indonesia menapak di jalan yang telah dibangun oleh founding fathers Bangsa kita, untuk mewujudkan sebuah negara yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong.

Marilah kita ayunkan langkah bersama untuk bekerja secara nyata meneruskan pembangunan. Hanya melalui kerja nyata, cita-cita mulia bangsa kita sebagaimana ditegaskan dalam Pembukaan UUD 1945 dapat diwujudkan yakni dapat berdiri kokoh sebagai bangsa yang berdaulat. Kesadaran akan hal inilah yang mendasari pencanangan Gerakan Nasional ‚ÄúIndonesia Kerja Nyata‚ÄĚ dalam memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71.

Bapak, Ibu dan hadirin sekalian yang saya hormati.

Beberapa hari yang lalu, kita baru saja memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke 21. Perayaan tersebut merupakan  wujud penghargaan dan apresiasi atas keberhasilan dan prestasi putera-puteri bangsa Indonesia yang gemilang di bidang iptek, selain itu juga dipamerkan  berbagai produk inovasi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kemandirian dan daya saing bangsa.

Pada kesempatan yang sama juga telah dicanangkan tahun 2016 sebagai Tahun Inovasi. Diharapkan melalui pencanangan tahun Inovasi ini, ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economy) dapat segera diwujudkan.

Marilah kita lanjutkan cita-cita tersebut, dan kita isi kemerdekaan ini dengan komitmen dan semangat untuk terus bekerja nyata dalam menumbuh-kembangkan teknologi dan inovasi sebagai bekal bangsa Indonesia untuk mandiri dan berdaya saing di era globalisasi. Kita gelorakan Indonesia Kerja Nyata.

Teknologi dan inovasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita dan bahkan telah menjadi faktor penggerak pembangunan. Untuk itu kita tidak dapat lagi bertumpu pada sumberdaya alam (resource driven) yang akan habis jika dikonsumsi secara terus-menerus tetapi harus dapat melakukan terobosan dimana teknologi dan inovasi menjadi motor penggerak pembangunan (innovation driven). Pembangunan Indonesia memerlukan inovasi, sebagai tulang punggung industri dan untuk terciptanya ekonomi berbasis pengetahuan. Oleh karenanya, teknologi dan Inovasi, sekali lagi, harus menjadi bagian hidup kita sehingga kita bisa memperoleh nilai tambah dari keseharian kita, dan dari situlah ekonomi bangsa akan berkembang.

Bapak, Ibu dan hadirin sekalian yang saya hormati.

Inovasi merupakan sebuah proses yang antara lain ditentukan oleh tingkat keberhasilan riset dan pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi memegang peranan penting mempersiapkan putera-puteri bangsa, generasi penerus, menjadi inovator.  Sementara itu, institusi riset memegang peranan penting untuk memberikan kesempatan kepada putera-puteri bangsa melakukan karya cipta inovatif. Peneliti dan inovator yang produktif masih sangat diperlukan oleh bangsa Indonesia. Jumlah dan kualitas peneliti dan inovator di perguruan tinggi maupun institusi riset perlu terus kita tingkatkan, disamping kualitas penelitian, publikasi ilmiah dan jumlah paten yang diperoleh, serta inovasi yang diproduksi.

Komitmen Pemerintah terhadap upaya peningkatan kinerja penelitian dan inovasi akan terus ditingkatkan, terutama dalam peraturan dan regulasi, pendanaan dan peningkatan investasi, peningkatan kualitas dan peremajaan laboratorium, beasiswa bagi peneliti. Tanpa kerjasama dan komitmen dari bapak/ibu dan saudara-saudara, hal itu akan sia-sia.

Bapak, Ibu dan hadirin sekalian yang saya hormati.

Kemitraan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari strategi mengantarkan temuan penelitian menjadi inovasi dan produk iptek berskala pasar. Pemerintah mendorong terjalinnya kemitraan dengan berbagai lembaga dan industri yang akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas penciptaan inovasi. Dengan demikian, peneliti dan inovator bekerja tidak sendirian dalam menghasilkan inovasi, tetapi secara bersama-sama, konvergen dan sinergis dengan berbagai pihak. Pada akhirnya perguruan tinggi dan institusi riset yang memiliki peneliti dan inovator handal yang mampu menghasilkan produk inovasi yang secara signifikan meningkatkan meningkatkan daya saing dan kesejahteraan.

Untuk mengolah temuan ilmiah hasil riset menjadi inovasi diperlukan proses hilirisasi yang melibatkan bukan hanya perguruan tinggi atau institusi riset saja, tetapi juga kolaborasi dengan peneliti dari institusi dalam dan luar negeri, kemitraan dengan industri dalam dan luar negeri, serta berbagai pihak lainnya. Sistem pengelolaan proses hilirisasi yang akan mentransformasi temuan ilmiah hasil riset menjadi sebuah inovasi yang berdaya saing perlu kita bangun bersama. Dengan pengelolaan yang tepat, diharapkan akan terjadi peningkatan jumlah produk inovatif yang berskala pasar.

Bapak, Ibu dan hadirin sekalian yang saya hormati.

Selanjutnya, inovasi harus terjadi bukan hanya di dunia industri saja, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan untuk memberikan jawaban terhadap beragam tantangan yang dihadapi bangsa kita, misalnya kebakaran hutan, kemacetan lalu lintas, perubahan iklim, reformasi birokrasi, pembangunan infrastruktur, dan sebagainya.

Dalam era globalisasi saat ini, Indonesia dihadapkan pada tantangan munculnya persaingan bebas dalam perdagangan antar bangsa. Adanya persaingan bebas ini akan menyebabkan Indonesia ‚Äúdiserbu‚ÄĚ berbagai macam produk dan teknologi baru dari negara lain.

Dengan inovasi, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi bahkan juga dapat memenuhi pasar negara lain.

Bapak, Ibu dan hadirin sekalian yang saya hormati.

Dalam peringatan 71 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, mari kita wujudkan Gerakan Nasional Ayo Kerja Nyata Gelorakan Inovasi di bidang kerja kita masing-masing. Mari kita bekerja nyata ciptakan berjuta produk hasil inovasi¬† untuk kemajuan Indonesia. Dengan bekerja nyata, sesungguhnya kita merenda masa depan Indonesia ‚Äď yang maju dan unggul. Dan hanya bangsa yang mampu menghasilkan inovasi akan menjadi bangsa besar yang unggul dan berdaya saing.

Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Selamat bekerja secara nyata dan gelorakan inovasi.  Dirgahayu 71 tahun Indonesia Merdeka!

 

Wabillahit taufiq walhidayah, Wassalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

Jakarta,   17 Agustus  2016

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi

Mohamad Nasir

Halaman sumber: http://ristekdikti.go.id/pidato-menristekdikti-tentang-hut-ri-ke-71/

Sila unduh file pdf pada tautan berikut: Pidato Menristekdikti HUT RI ke-71

 

Preamp dan prasyarat

PREAMP

Di masa usia bersekolah di tingkat SMP dulu saya berkenalan dengan konsep preamp atau lengkapnya preamplifier. Apakah yang dinamakan preamp itu? Mari terlebih dahulu melihat beberapa sumber bacaan. Dari Wikipedia bisa didapatkan:

A preamplifier (preamp) is an electronic amplifier that prepares a small electrical signal for further amplification or processing. They are typically used to amplify signals from microphones, instrument pickups, and phonographs to line level. Preamplifiers are often integrated into the audio inputs on mixing consoles, DJ mixers, and sound cards. They can also be stand-alone devices.

Sumber lain, menyatakan beberapa kegunaannya yang spesifik:

A preamp may be designed to do any of these things:
-Increasing the gain
-Changing the tone
-Lowering the output impedance
-Converting from unbalanced to balanced
…Or any combination of those, to any degree.

Lalu mengapa orang memerlukan preamplifier? Untuk pertanyaan serupa dalam bidang sains dan teknologi, yang sifatnya universal, biasanya Q&A sudah pernah ada sebelumnya. Misalnya:

There are many reasons why you would want a pre-amp and a power amp. The easiest to understand is when your source and destination are far away from each other. In this situation a pre-amp can be helpful so that the noise that is picked up on the line to the power amp is minimal compared to the signal itself.

Another situation is if you were going to be performing some filtering on a signal. All of the filtering elements can add noise to your system and by adding a preamp the noise in the filtering is minimized compared to the signal. Also the preamp can act as a simple buffer between your source and the filtering equipment.

And yet another reason you would want it is because your preamp isn’t able to provide the current gain required for the power amp. You may still wonder why not just use a power amp? Power amps are more difficult to directly change the volume on while a preamp is much easier. So you can change your volume on the preamp and have a fixed gain on the power amp.

Ada banyak sumber pengetahuan yang membahas tentang preamp yang isinya kurang lebih serupa seperti yang telah saya kutip di atas. Dari ketiganya dapat ditarik simpulan sederhana bahwa preamp adalah sebuah penguat yang merupakan penguat awal. Dalam sebuah sistem yang disederhanakan preamp berada di antara sumber sinyal (misalnya microphone) dan penguat akhir/penguat utama (power amplifier). Ada beberapa alasan spesifik mengapa preamp diperlukan, sebagian besar pada dasarnya mengerucut pada pemahaman bahwa penguat akhir tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa adanya penguat awal. Misalnya karena diperlukan pengolahan dari sinyal masukan atau bahkan karena sinyal yang diterima oleh penguat akhir terlalu kecil nilainya, di bawah ambang batas minimum.

PRASYARAT

Menurut KBBI:

pra·sya·rat n syarat yg harus dipenuhi sebelum melakukan, mengikuti, atau memasuki pendidikan atau sesuatu kegiatan

Dalam tulisan ini, tepatnya, yang saya maksud adalah mata kuliah prasyarat. Bagi mereka yang pernah merasakan berkuliah dengan sistem SKS (Satuan Kredit Semester) tentu mengenal jenis mata kuliah ini. Belum berhasil di mata kuliah jenis ini akan berakibat tidak dapat mengambil mata kuliah di semester/tahun berikutnya yang memang mempersyaratkan sudah lulus mata kuliah sebelumnya yang menjadi prasyarat. Kalau jumlah sks yang bisa diambil di semester berikutnya masih bisa dinegosiasikan dengan dosen wali, untuk perihal mata kuliah prasyarat tidak ada ampunannya. Belum pernah mengambil atau masih gagal total ya jangan harap bisa mengambil lanjutannya. Itulah tantangan di mata kuliah yang menjadi prasyarat bagi mata kuliah lain (prerequisite)

Dua bagian kutipan yang dapat dibaca mengenai mengapa mata kuliah prasyarat itu penting:

What is a prerequisite?
A prerequisite is a specific course or subject that you must complete before you can take another course at the next grade level. To be accepted into some courses, you will have to prove that you have completed a similar course in the same or a related subject, at a lower grade level. Prerequisites are usually in the same or a related subject, at a lower grade level.

To be accepted into some courses, you will have to prove that you have a certain amount of knowledge about the subject already.

Why are prerequisites important?
Prerequisites are a way of making sure that students, like you, enter into a course or subject with some prior knowledge. This, not only helps the professor to teach at a certain academic level, but it also helps you to feel more comfortable and confident with the subject matter.

Menurut saya, seolah-olah ada dua jenis prasyarat dalam untuk sebuah mata kuliah, yang formal dinyatakan dan yang tidak dinyatakan. Yang formal telah saya coba ungkapkan di paragraf sebelumnya. Biasanya dalam silabus disebutkan, dituliskan dengan jelas. Nah yang juga sama berbahayanya adalah yang tidak dinyatakan. Suatu mata kuliah disusun dan diajar berdasarkan asumsi tertentu. Tentang syarat minimal pengetahuan tertentu yang harus dimiliki oleh mahasiswa untuk bisa mengikuti perkuliahan. Beberapa dari persyaratan itu dinyatakan dalam bentuk prasyarat. Terutama untuk hal-hal yang dianggap bersifat baru (bagi mahasiswa). Beberapa yang lain, menurut saya, diasumsikan telah dimiliki dan karenanya dianggap tidak perlu dinyatakan ulang untuk tiap mata kuliah.

Misalnya, tentu saja untuk mahasiswa di Indonesia diasumsikan sudah bisa membaca dan menulis dengan huruf latin dalam bahasa Indonesia. Hal semacam ini sudah dianggap merupakan suatu kewajaran dan tidak perlu selalu dinyatakan sebagai prasyarat di setiap mata kuliah. Calon mahasiswa sudah melalui proses ujian masuk perguruan tinggi, dan yang lebih penting sudah lulus jenjang pendidikan terdahulu. Secara klasik, mahasiswa adalah seorang yang telah lulus dari jenjang pendidikan menengah (SMA dan yang sederajat). Yang sebelumnya telah lulus dari SMP, begitu seterusnya. Karenanya mahasiswa Indonesia asli yang belum bisa membaca menulis dalam bahasa Indonesia adalah suatu keajaiban.

Contoh itu sekalipun konyol, adalah contoh yang kontras, hitam-putih. Yang lebih sulit untuk terdeteksi adalah contoh yang lebih “abu-abu”. Misalnya untuk memahami suatu perkuliahan yang sangat matematis, mahasiswa diasumsikan sudah memilki fondasi yang baik untuk beberapa bagian yang menjadi dasar pengajaran. Padahal tidak semua hal terujikan dengan baik pada saat menyelesaikan kuliah yang menjadi prasyarat. Begitupun dengan jenjang pendidikan sebelumnya. Sehingga dengan asumsi yang “meleset” seperti ini akan mendatangkan kesulitan yang cukup berat baik bagi mahasiswa maupun bagi pengajarnya.

Saya sendiri mengalami hal ini sebagai mahasiswa, ada fondasi yang tidak terolah baik yang menyulitkan saya untuk memahami perkuliahan pada mata kuliah yang mengasumsikan bahwa mahasiswa telah memiliki dasar yang baik. Kalau jumlah yang seperti saya ini banyak, waktu dan tenaga pengajar akan kurang efektif dipergunakan. Lebih baik dialihkan untuk hal lain yang lebih bermanfaat dalam bidang tugasnya.

Lalu bagaimana? Itulah pertanyaan yang akan muncul. Secara sederhana, untuk orang-per-orang mahasiwa, kalau “beruntung” maka yang bersangkutan akan gagal (tidak lulus) di mata kuliah lanjutan itu. Kenapa saya tulis “beruntung”? Kalau mata kuliah itu sangat penting untuk dasar profesinya maka kekurangan yang terdeteksi di awal (atau setidaknya belum sampai di akhir) akan dapat lebih cepat diperbaiki. Kalau “kebetulan” tidak terdeteksi, maka akan lebih berat bagi mahasiswa untuk menyadari sendiri kekurangnnya dan (lebih penting lagi) keperluannya untuk melakukan perbaikan.

MENCARI PREAMP

Mengubah kekurangan menjadi keunggulan adalah semacam credo bagi entrepreneur dan engineer, alike. Begitu pula perihal belajar dari pengalaman. Dan itu juga yang menjadi salah satu dari bagian kisah hidup saya. Pengalaman gagal memahami suatu subyek karena dasar yang tidak baik dan kuat itu sungguh sangat tidak menyenangkan. Dan dalam bahasa saya,”Buta huruf itu jangan diwariskan.” Pengalaman salah dari suatu generasi itu merupakan bahan pelajaran untuk generasi berikutnya. Tidak layak bagi suatu generasi untuk tidak memberikan peringatan sama sekali bagi generasi berikutnya agar tidak melakukan kesalahan yang sama dalam situasi yang tidak jauh berbeda. Bagi tiap generasi, akan lebih baik untuk membuat kesalahan baru yang lebih bermakna untuk membangun peradaban.

Dalam kasus saya, meperbaiki prasyarat yang gagal itu perlu saya lakukan sampai pada tahap membongkar fondasi/dasar. Tidak hanya sibuk dengan asap tetapi perlu untuk mencari smoking gun, mencari sumbernya (root-cause). Tidak mudah, perlu pengorbanan dan karena itu sepertinya jarang yang mau melakukan. Akan lebih mudah bertahan dengan program yang sama tahun demi tahun. Adapun bagi saya, perjalanan saya itu sebagian hasilnya bisa saya bagi untuk generasi baru. Agar mereka dapat lebih mempergunakan sumber dayanya untuk melakukan kesalahan-kesalahan mereka sendiri yang baru, yang perlu bagi kemajuan. Bukan kesalahan-kesalahan para pendahulunya yang sebenarnya lebih mudah untuk tidak diulangi.

Bagian ini saya namai mencari preamp karena memang itulah intiya. Kalau sudah terpikir bahwa kapasitas (baik individual maupun kolektif) itu terbatas maka meningkatkannya adalah langkah yang paling masuk akal, selama memungkinkan. Seperti pada paragraf-paragraf di awal, jika sinyal masukan terlalu lemah diterima oleh penguat akhir (power amplifier) apalagi mengandung banyak noise maka proses penguatan seperti itu sama dengan menyia-nyiakan energi. Kurang bermanfaat, sering tidak efektif dan tentu tidak efisien. Sumber daya yang dibuat mubazir. Begitu pula dalam belajar. Saya dan banyak orang yang mengakui kekurangan perlu mancari apa yang diumpamakan sebagai preamp itu. Langkah paling cepat dan sesaat boleh jadi dengan bekerja sama dengan teman yang lebih mampu. Tetapi dalam jangka menengah dan jangka panjang, proses perbaikan itu perlu dilakukan dan dijalani sendiri. Boleh dengan bantuan orang lain, tetapi kita sendirilah yang paling berperan dan berusaha, bukan orang lain yang membantu.

Preamp itu sangat perlu, jika tidak sinyal terlalu lemah itu akan tertindih oleh noise. Terjadi kekacauan pada informasi yang dibawanya. Yang kalau langsung diperkuat oleh power amplifier, boleh jadi malah akan lebih memperbesar noise. Memperbesar kekacauan informasi dan justru memperbesar kesalahpahaman.

Salah satu tulisan pengakuan yang paling baik mengenai perjalanan hidup dan perjuangan dalam belajar menurut saya berasal dari tulisan Prof. Ir. Armein Zainal Rahmat Langi M.Sc., Ph.D. seorang guru besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung. Beliau sekarang menjadi rektor di Maranatha. Berikut kutipan tulisan beliau:

Dan Januari 1990 kuliah S2 saya dimulai. Saya harus menyelesaikan enam kuliah. Witold Kinsner, profesor saya mengusulkan saya ambil dua kuliah tiap semester. Sebenarnya saya ingin cepat selesai, tapi Profesor Kinsner takut saya tidak sanggup.

Benar juga. Susah. Semua berbahasa Inggris. Saya sudah dipersiapkan dengan baik. Tapi tetap saja tidak mudah. Wah kayaknya saya sudah tua nih. Pelajaran kok sukar masuk. Otak saya beku. Saya harus cari caranya.

Saya mengerahkan semua usaha saya. Saya meyakinkan diri bahwa saya cuma punya satu tugas. Satu: belajar. Dari pagi sampai malam tugas saya cuma satu. Belajar. Pagi sudah bangun dan sarapan sambil menyiapkan bekal makan siang. Kemudian naik bus menembus salju ke kampus, ke Lab. Saat jam kuliah, pergi ke kelas. Setelah itu kembali lagi ke Lab. Sering lari ke perpustakaan untuk mencari bahan. Kemudian kembali lagi ke lab. Saat sudah malam pulang ke apartemen, sering dengan bus terakhir. Tiap hari.

Saya teringat satu ilmu sakti yang saya temukan sejak kecil di Tomohon: fokus dan pengulangan. Semua yang saya tidak bisa saya coba berulang-ulang sampai bisa. Semua tugas saya kerjakan satu persatu. Semua soal saya coba. Saya latihan semua soal yang ada di buku teks. Teman-teman saya, apalagi orang Canada, heran, ‚ÄúArmein, you need to work smarter not harder‚ÄĚ. Thanks, since I am not that smart I will work harder than anybody.

Saya datang ke Profesor Shivakumar, dosen kuliah ini. Saya jelaskan bahwa saya tidak bisa gagal. Saya bersedia diberi tugas apa saja untuk memperbaikinya. Kita ngobrol lama, dan dia memberi kesempatan sekali lagi. Dia berharap saya bisa nanti dapat C+, nilai minimal untuk lulus. Saya sebenarnya tidak berbakat matematika. Di rapor SMA pun hanya dapat enam atau tujuh. Nilai saya selama ini berkat kerja keras, harder than anybody. Saat saya berdiri di papan pengumuman, di pintu ruang Prof Shivakumar, saya nyaris menangis. Saya berhasil lolos, dan mendapat nilai B, bukan C+! Saya punya harapan untuk beasiswa. Sampai hari ini saya tidak akan lupa wajah dan nama Prof. Shivakumar. …

Di antara kutipan yang bagus dari tulisan yang bagus itu, ada dua hal yang perlu diberi warna tinta merah sebagai pengingat;

"Thanks, since I am not that smart I will work harder than anybody."

dan

"Nilai saya selama ini berkat kerja keras, harder than anybody."

 

doer01

Generasi belakangan jauh lebih beruntung dari generasi pendahulunya dalam hal sumber-sumber belajar. Bagi yang masih memungkinkan untuk mengakses Internet akan dapat mengakses sumber-sumber pengetahuan dunia. Lebih cepat dan lebih mudah dari generasi sebelumnya. Sebagai contoh kecil, untuk sumber-sumber belajar tinkering sebagian telah saya cantumkan di link ini. Belum lagi MOOC yang bebas akses hampir dari seluruh bagian dunia. Banyak hal bisa dipelajari dari MOOC (seperti EdX, Cousera, Udacity, MIT OCW), atau web site dari perguruan tinggi seperti Stanford, Cornell,  University of Michigan, Oxford, Cambridge, Yale, Berkeley. Bagi yang masih mengalami kesulitan mengenai bahasa, seperti juga saya, bisa mempergunakan bantuan Google Translate. Utamakan pemakaian untuk mengembangkan kemampuan belajar memahami bahasa asing, lebih dari sekedar menterjemahkan kata par kata. Mencari preamp (sebagai sebuah permumpamaan) sekarang ini relatif jauh lebih mudah. Jadi alasan apa lagi yang mau dipakai?

Sebagai seorang yang mengakui taraf kebodohan, tidak layak bagi saya untuk berpura-pura dan mengikuti “gaya belajar” orang yang dianggap pintar (setidaknya dalam pemahaman mitos di kalangan umum). Jika konon menurut umum orang pintar itu sekali dua kali belajar akan paham suatu pokok bahasan, maka saya tidak bisa begitu. Seperti yang diungkapkan Prof. AZRL; “…since I am not that smart I will work harder than anybody.” Saya perlu sadar diri.

Sebagai catatan tambahan tentang sadar diri itu tadi, alasan yang sama yang membuat saya tidak mendaftar menjadi seorang tentara lalu ingin masuk Kopasus, Marinir atau Paskhas. Kalau dengan kesadaran penuh, tanpa tekanan dan dengan informasi yang cukup baik saya mendaftar masuk menjadi anggota TNI maka saya pun harus bersedia berlatih dengan “menu yang ada”. Kalau, katakanlah, saya memaksakan diri dan, lagi katakanlah, saya berhasil masuk memulai pendidikan maka saya tidak hanya menyia-nyiakan sumber daya saya tetapi juga sumber daya pelatih saya. Posisi saya lebih baik diisi oleh orang yang lebih punya dedikasi tinggi dan benar cukup memenuhi syarat dasar. Saya sendiri pun bisa lebih berkembang di tempat dan bidang lain.

MENGOPTIMALKAN AMPLIFIER

Sebagaimana ada preamplifier dan power amplifier, kurang lebih begitu pulalah jenjang pendidikan dibagi-bagi. Supaya sistem berjalan dengan efektif dan efisien. Seorang profesor senior bisa saja membimbing mahasiswa untuk mulai belajar mengeja dan berhitung. Tetapi apakah itu cara yang paling tepat untuk memanfaatkan sumber daya sang profesor tadi? Di saat negara ini masih kekurangan jumlah orang dan kemampuan, yang ada perlu dimanfaatkan dengan lebih baik.

Dalam pengalaman saya dulu, tentulah saya sendiri yang harus “berakrobat” untuk mengatasi permasalahan “sinyal lemah” saya ini. Bukan bergantung, hanya pada pofesor pengajar saya. Saya minta bantuan teman-teman yang lebih mampu. Lalu untuk bagian-bagian yang strategis menurut saya untuk jangka panjang, saya bongkar sendiri. Perlu waktu dan biaya, tetapi hasilnya bisa dirasakan kemudian. Yang seperti ini, berproses seperti inilah yang tadi diistilahkan dengan “mencari preamp”. Berdasarkan pengalaman, saya nyatanya menemukan cukup banyak sumber yang berpotensi bisa dipergunakan sebagai preamp. Tinggal kemudian diperhatikan, dipikirkan yang mana saja yang paling sesuai.

Kalau merujuk ke pengalaman saya terdahlu, waktu dan tenaga profesor itu lebih baik dipergunakan untuk mengembangkan masukan yang sesuai. Sisanya perlu ditangani oleh yang lain, di jenjang yang berbeda. Itu kalau sistem mau lebih efektif dan efisien. Jangan lalu semua diserahkan, misalnya, ke para dokter spesialis atau hakim di Mahkamah Agung. Ya bisa macet sistemnya.

Cari perbandingan, akui kekurangan lalu jika setelah dipikir benar-benar memang perlu, carilah preamp.

 

image credit: Teachable >> http://www.aacleve.org/remaining-teachable/

Bacalah … [dan kami masih malas membaca]

Beberapa waktu lalu nama Zakir Naik kembali mencuat di beberapa bagian post jaringan pertemanan. Saya pernah menemukan unggahan video Ahmed Deedat berkata-kata kepada seseorang yang tampaknya seperti Zakir Naik, videonya bisa dilihat di link ini. Saya teringat kembali kepada Ahmed Deedat dan satu himbauannya yang tampaknya sampai sekarang masih belum terlaksana. Karena itu saya salin kembali apa yang pernah saya tulis dan rujuk dalam post blog saya yang lalu. Kalau ditemukan ada ketidakakuratan, tolong kebaikannya untuk memberi koreksi berikut rujukan ke acunannya.


Kisah ini adalah salah satu kisah yang paling membekas dalam ingatan saya. Kalaupun tidak sampai “titik dan komanya” saya ingat, esensi cerita ini sungguh membekas. Sudah lama ingin saya sampaikan, sayang buku versi terjemahannya tak lagi saya temukan, untungnya versi ebooknya sekarang tersedia.

Ini cerita yang ironis, tapi mengandung pelajaran yang tinggi sekali nilainya.
Moshe Dayan, seorang panglima dari angkatan bersenjata Israel yang merencanakan dan melaksanakan eksekusi operasi ‘The Sinai Campaign of 1956‘, mengungkapkan secara menyeluruh mengenai rencana induk (masterplan) peperangan tersebut dalam buku biografinya yang ditulis oleh Shabtai Teveth.

Di halaman 267 Dayan mengungkapkan peta rencana pergerakan tentara Israel. Bahkan karena sangat gembiranya dengan hasil yang dicapai dari peperangan itu ia sesumbar kalau suatu hari nanti perlu berperang lagi dengan negara-negara Arab maka ia akan mengulangi lagi semua manuver peperangan titik demi titik seperti yang telah diungkap dalam bukunya itu. Moshe Dayan menepati janjinya, ia menghajar telak tentara Mesir pada 1967 dengan gaya textbook (textbook-style).

Moshe Dayan sangat paham tidak bakal ada orang Arab yang akan membaca buku biografinya atau buku-buku lain tentang Yahudi dan/atau ditulis oleh orang Yahudi. Tidak peduli bahwa buku-buku tersebut sangat mungkin berisi informasi tentang rencana-rencana kaum Yahudi terhadap orang Arab atau bahkan detail rencana peperangan seperti yang terdapat dalam buku biografinya sendiri.

Perintah pertama yang turun adalah untuk membaca, “Bacalah!” dan dunia kaum muslim menterjemahkannya dalam praktik menjadi “Kami tidak akan membaca!” [terj]

Di buku itu Ahmed Deedat menceritakan sementara banyak orang Arab terbukti “cuek bebek”, sebaliknya tentara Israel terlatih secara teknis dengan baik. Bahkan mereka menganggap musuh mereka, orang-orang Arab, sebagai golongan yang mempunyai keunggulan fisik lebih baik. Dengan pengakuan kesadaran akan kelemahan yang dimiliki inilah tentara Israel mencari peluang untuk unggul, misalnya dalam hal penggunaan teknologi.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/87/Kac_1924-10-19_Pinsk_jews_reading_mishnah_colored.jpg
sumber gambar: wikipedia

Masih ‘pengen’ menang dari Yahudi ???

Dari buku (ebook) tulisan Ahmed Deedat “ARABS AND ISRAEL – CONFLICT OR CONCILIATION?” :

Moshe Dayan, the Commander-in-Chief of the Israeli Army who planned and executed ‘The Sinai Campaign of 1956’, tells it all in his biography by Shabtai Teveth, about his masterplan. On page 267 Dayan discloses a map of the planned Israeli advances, and was so tickled by his achievement, that he boasts that if it became necessary to have another go at the Arabs, he would point by point repeat the manoeuvres. And true to his promise he cut the Egyptian Army to shreds in 1967 – textbook style.

Dayan knew too well that no Arab would ever read his biography or any other book about the Jews by the Jews, to learn what their Semitic cousins were planning for them. MUSLIMS WILL NOT LEARN: In the very first word of the Quranic Revelation, God Almighty commanded the Prophet ( Peace be upon him) and through him commanded his followers ‘Read!’ To which the Muslim world in practice says ‘We will not read!’

Will we ever benefit from the open secrets revealed by the Jews in their own literature? It does not look as if we are ready to learn.What is the reason that we are discomfitured by the Jews time after time ?

The answer is simply superior planning and weaponry. In short, technology! ‘And technology is not a closed shop…’ I told the Jewish boys and girls at the Rondebosch meeting, after the ‘Six Day War’ in 1967.

Seven years later Martin Zucker reporting from Tel Aviv repeated my words almost word for word:

THE AVERAGE ARAB SOLDIER, ACCORDING TO THE ISRAELIS, CONTINUES TO BE AN INDIVIDUAL COMING FROM A PEASANT BACKGROUND WITH ABOUT SIX YEARS OF SCHOOLING … THE AVERAGE ISRAELI SOLDIER-CONSCRIPT, IN COMPARISON, HAS EIGHT TO 12 YEARS OF SCHOOLING, PART OF IT TECHNICAL………
….THE ISRAELIS RATE THEIR ENEMIES (the Arabs) AS BETTER PHYSICAL SPECIMENS THAN THEMSELVES.
‘The Daily News’ May 29, 1974.


UPDATE: 19 Maret 2016

https://ia802607.us.archive.org/6/items/Shk_Ahmed_Deedats_Books/Arabs_And_Israel_Conflict_Or_Conciliation.pdf

 

2016-03-19_09-34-42

sumber: http://www.dtic.mil/dtic/tr/fulltext/u2/a279681.pdf
NAVAL WAR COLLEGE Newport, R.I.
THE 1967 ARAB-ISRAELI WAR: AN OPERATIONAL STUDY OF THE SINAI CAMPAIGN
by Paul S. Grossgold
LCDR USN

 

2016-03-19_09-45-37 israel2
sumber: https://goo.gl/Psrhep

“A Guide to Documents on the Arab-Palestinian/Israeli Conflict: 1897-2008
#fairUse #edu

 

 

 

Puzzle

Pada tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan bagaimana saya meminta para mahasiswa untuk intensif membaca berbagai bahan bacaan yang sudah saya urutkan. Idealnya memang mahasiswa sudah lancar mencari semua bahannya sendiri. Tetapi sebagai pembimbing saya tentu harus pula adaptif dalam batas yang wajar. Budaya baca masih harus dikembangkan cukup jauh agar kemandirian untuk mencari sumber informasi bisa secara penuh dicapai.

Saya meminta mahasiswa untuk membaca sejumlah application note dari produsen komponen. Hal ini sengaja dan bukan tanpa tujuan. Idealnya memang mempelajari sesuatu itu dapat lebih mudah dari textbook atau kalau hendak memenuhi kaidah penelitian dan penulisan ilmiah haruslah mengutamakan dari paper dari jurnal-jurnal ilmiah peer reviewed yang terkenal memiliki reputasi yang bagus. Itupun sumber tulisannya primer, bukan kutipan-dari-kutipan-dari-kutipan. Tapi, ya itu idealnya. Texbook yang bisa diperoleh secara legal harganya cukup mahal dan itu pun sulit tersedia, termasuk yang berbentuk ebook. Jurnal pun setali tiga uang, sama saja, mahal dan aksesnya cukup sulit (untuk elektronika misalnya berbagai jurnal dari IEEE).

Tapi alasan utama yang sesungguhnya bukanlah hal-hal tersebut, yang walaupun caranya tidak ideal dan tidak benar masih dapat diatasi dengan cara sepanyol atau malah penuh. Memalukan memang, tapi itulah kondisi riilnya. Alasan sesungguhnya saya meminta mahasiswa untuk membaca berpuluh sumber bacaan itu adalah untuk melatih keterampilan mereka dalam menyusun puzzle. Seperti pada gambar di bagian paling atas tulisan ini yang saya peroleh dari business2community.com. Masing-masing informasi yang mereka peroleh itu persis seperti keping-keping puzzle. Mereka harus berusaha mengumpulkannya, menyeleksinya lalu menyusunnya menjadi satu bagian besar yang utuh.

puzzle-04
sumber gambar:science-all.com

Sekalipun terkesan remeh dan sederhana, kemampuan ini adalah kemampuan standar yang harusnya dimiliki oleh setiap lulusan perguruan tinggi. Untuk semua jenjang, berlaku sama. Dalam kehidupan tidak selalu semua informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah (problem solving) maupun pekerjaan lainnya datang dalam bentuk sesuatu yang utuh. Padahal untuk menyelesaikan dengan benar seringkali kita memerlukan informasi yang lebih lengkap dari yang sudah kita terima.

Ketidaklengkapan informasi ini sendiri menjadi peluang bisnis bagi banyak pihak. Contoh sederhananya adalah profesi wartawan, mereka mengumpulkan, menyeleksi dan merangkai berbagai informasi yang diterima menjadi suatu berita yang baik yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Begitu juga banyak jasa konsultasi yang mendasarkan bisnisnya pada upaya pengumpulan informasi bagi para client. Sayangnya bagi para engineer, technologist maupun technician, kemewahan berupa bantuan dan sokongan penuh dari para konsultan seperti itu tidak selalu bisa didapatkan. Misalnya karena nilai keekonomian pelayanan pengumpulan dan pengolahan informasi itu tidak dapat disetujui (unjustifiable). Seringkali bahkan informasi dari pihak ketiga yang telah berupaya mengumpulkan dan menyarikan informasi primer masih perlu dibandingkan dan diolah dengan sumber-sumber informasi lain.

Saya melihat kemampuan mencari, membandingkan, menyeleksi menyusun dan menggabungkan berbagai (sumber) informasi menjadi satu bagian besar yang utuh masih cukup lemah pada diri saya sendiri. Sayangnya saya juga melihat kelemahan ini pada cukup banyak pihak. Tentu saja saya bisa tidak peduli, toh itu orang lain. Tetapi dalam suatu tim, meskipun tim yang sangat besar, ini berisiko. Bukankah ada ungkapan;

A chain is only as strong as its weakest link.

Kemampuan untuk menyusun berbagai kepingan puzzle informasi dalam berbagai tingkat adalah keterampilan mutlak dari komponen suatu bangsa di era banjir informasi, bisa surfing di atasnya atau tenggelam bersama. Anak-anak muda ini sungguh-sungguh harapan masyarakat dalam pengertaian yang sesungguhnya. Jika nanti mereka gagal berjaya juga, kaum tua juga akan ikut menderita, bahkan mungkin akan lebih menderita dari kaum muda yang masih lebih berkemampuan.

Dalam tulisan yang sebelumnya (di sini) saya menuliskan kembali makna illiterate di dunia modern menurut Alvin Toffler, kemudian saya menyambungnya dengan bagian korelasi dan kausalitas. Menyusun keping-keping puzzle informasi itu menuntut kemampuan untuk paham tentang korelasi dan kausalitas untuk masing-masing bahasan. Sebaliknya dengan semakin sering berlatih menyusun keping-keping puzzle informasi kita sebenarnya semakin melatih keterampilan untuk melihat korelasi dan kausalitas antar bagian dari informasi yang kita kumpulkan. Ini mengurangi kebiasaan untuk menganut cocoklogi/cocokologi maupun gathukologi. Walaupun tidak semua yang masih bersifat spekulatif itu salah, hipotesis atau dugaan awal misalnya. Ini adalah sebuah titik awal atau kerangka yang memungkinkan dan memudahkan untuk menelaah dan menjelajah lebih lanjut.

N388
sumber gambar:harriscomm.com

Manfaat praktis lain dari latihan menyusun keping-keping puzzle informasi adalah kemampuan untuk dapat lebih melihat susunan informasi sebagai suatu gambaran yang lebih besar, lebih utuh. Cerita tentang gajah dari sengketa para tuna netra (yang difabel sejak lahir atau belum pernah meilhat citra gajah sebelumnya) adalah cerita yang sangat menarik dan analogi yang dahsyat. Tapi saya simpan untuk lain waktu saja. Intinya adalah seringkali kita tidak mampu melihat suatu (keping) informasi adalah suatu bagian dari sesuatu yang lebih besar. Informasi itu menjadi terisolasi, terasing seolah olah tidak ada korelasi, hubungannya dengan informasi yang lain. Padahal yang sebenarnya adalah kebalikannya, justru berhubungan satu sama lain. Pola ini berlawan arah dari cocoklogi/cocokologi atau gathukologi yang malah berusaha memaksakan agar dua hal yang berbeda dan tidak berhubungan menjadi suatu aliran informasi yang memiliki benang merah yang sangat kuat dan jelas. Phew!

 

Salahmu sendiri

MEMBACA

Sampai awal bulan ini (Maret) saya memberi para mahasiswa bimbingan saya target bahan bacaan. Sesuatu yang tampaknya dibenci banyak mahasiswa. Apalagi bahan bacaan itu (“kebetulan”) hampir semuanya berbahasa asing. Usahanya menjadi dua kali lipat, membaca untuk berusaha memahami dan (karena itu) sampai perlu membuka kamus atau menggunakan Google Translate.

2016-03-12_10-29-44

Tujuannya tentu bukan¬†gaya-gayaan atau untuk¬†keren-kerenan. Ini sebenarnya langkah dan tugas yang amat biasa di sistem yang lebih maju dalam sains dan teknologi. Saat tuntutan kemajuan dan kemampuan bersaing jauh lebih tinggi daripada sekedar membela kemalasan. Terlebih lagi bentuk kemalasan yang¬†minim mendorong kemajuan. Contoh bentuk “kemalasan” yang mendorong kamajuan adalah¬†remote control dan¬†wireless phone (kemudian¬†cell phone¬†lalu¬†smartphone). Budaya membaca dan belajar memang belum menjadi bagian dari budaya dan peradaban di sebagian masyarakat kita di Indonesia, jujur saja lah.

Ada beberapa tujuan yang bisa saya kemukakan dari tugas baca seperti pada gambar screenshot di atas. Pertama tentu saja agar mahasiswa yang mengerjakan tugas akhir memahami terlebih dahulu peta lebar pekerjaan yang akan dilakukannya. Dengan kata lain overview. Kedua, ownership. Di banyak tempat, sudah biasa bahwa Tugas Akhir / Skripsi adalah pekerjaan dari mahasiswa sepenuhnya. Mereka lah yang mati-matian berjuang dari awal sampai akhir, berjibaku. Konon di negara maju, kemandirian pengerjaan tugas sekolah/perguruan tinggi relatif amat tinggi, didukung dengan sumber bantuan seperti Internet, perpustakaan dan workshop. Ini pantas ditiru, langkahnya antara lain dengan banyak membaca bahan-bahan yang relevan dengan apa yang akan dikerjakan. Baik yang berkenaan langsung maupun bahan bacaan yang sifatnya mendukung. Terkadang bahan bacaan yang tidak langsung membahas apa yang akan dikerjakan oleh mahasiswa malah menjadi bahan yang mendasari dan menjadi bahan yang fundamental untuk karya yang akan dihasilkan. Bahasan yang bersifat filosofis umumnya menjadi bahasan dalam golongan ini. Sedari awal mahasiswa dilatih untuk memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap pekerjaannya dengan berinvestasi waktu dan sumberdaya lainnya pada bahan-bahan belajar yang menjadi dasar dari pekerjaaannya.

Ketiga, mahasiswa (siswa perguruan tinggi) yang telah lulus seharusnya telah berhenti menjadi pembeo. Orang yang hanya menuruti apa kata orang lain begitu saja tanpa pengkajian sama sekali, sekalipun itu sesungguhnya adalah kajian dalam bidangnya. Terlebih lagi sekedar mengekor sumber yang tidak terpercaya. Keprihatinan cukup banyak pihak juga menjadi keprihatinan saya, budaya membaca dan belajar masih sangat rendah. Karena itu, melalui tugas membaca sumber-sumber bacaan mahasiswa dilatih untuk mengacu pada sumber-sumber yang relatif dapat dipercaya, sumber-sumber primer dan sekunder. Sumber-sumber yang lebih dekat ke asal informasi dan mengurangi distorsi informasi yang tidak perlu.

Mahasiswa juga dilatih untuk memperbandingkan informasi yang datang dari berbagai sumber mengenai hal yang sama. Mengurangi kebiasaan membeo untuk hal-hal yang semestinya ditelusuri terlebih dahulu. Hal-hal yang sebenarnya merupakan bagian dari bidang pekerjaannya. Ini seperti mengumpulkan kepingan puzzle, memilih dan menyusunnya. Detail informasi sering perlu disusun sedemikan rupa agar menjadi gambaran yang pas/tepat dari sesuatu yang lebih besar. An overview, a bigger picture. Suatu keterampilan yang diperlukan kalau mau bersaing di bidang pekerjaan engineering di level lulusan perguruan tinggi. Salah itu biasa, tetapi kesalahan yang berasal dari keengganan akibat tidak terlatih adalah suatu pola. Pola yang merugikan dan berbahaya, termasuk di antaranya tidak terbiasa membandingkan sumber informasi.

 

BERLATIH BENAR DAN SALAH

Setelah fondasi membaca berbagai bahan bacaan untuk mendapatkan gambaran besar (overview) dari pekerjaan, berlatih untuk peduli terhadap pekerjaan yang dilakukan, mampu mencari kemudian membandingkan dan menyusun kepingan-kepingan informasi, maka langkah selanjutnya (dengan tetap meneruskan kegiatan membaca dengan intensif) adalah untuk berlatih melakukan pemrograman perangkat.

Kebetulan bimbingan saya tahun ini memiliki dasar penggunaan sistem yang sama, ada bagian pekerjaan yang seragam. Ini memudahkan proses belajar bersama. Keempatnya menggunakan sistem dengan komponen utama mikrokontroler. Komponen ini memerlukan pemrograman perangkat lunak untuk dapat beroperasi dengan benar sesuai yang dikehendaki.

Sebagaimana bagian lain, ada banyak sisi yang bisa menjadi cerita menarik yang dapat diangkat dari pekerjaan ini. Kali ini sisi yang dapat disebut sebagai “berlatih salah”. Tapi sebelumnya, ada baiknya untuk menyampaikan bagian yang benar, manfaat berlatih software programming, terlebih dahulu.

Ada banyak manfaat yang bisa didapat dengan belajar melakukan pemrograman. Di negara-negara maju, bahkan anak-anak sudah diajari dan dilatih untuk melakukannya. Ini sebenarnya, IMHO, bukan tentang program komputer, tetapi justru lebih tentang manusianya, tentang kemampuan berpikir [1]. Saya mengakui sebagai seorang amatir dalam hal ini, tetapi bahkan sebagai amatir sekalipun ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan pemrograman perangkat lunak (software) ini, yang bahkan tidak selalu mengenai software.

Misalnya, dengan berlatih melakukan pemrograman, kita akan lebih akrab dengan konsep what-if, bagaimana seandainya jika. Ini bagian penting dari kegiatan pemecahan masalah, perencanaan dan kreatifitas secara umum. Bagaimana jika ini yang dilakukan, apa akibatnya? Bagaimana jika yang terjadi sesuatu yang tidak justru tidak ingin diperoleh, apa antisipasi yang dapat dilakukan? Hal-hal seperti ini dapat dilatih dengan menggunakan branching (percabangan) pada flow control (pengendalian aliran program). Misalnya dengan if statement atau switch statement. Berlatih mengantisipasi dengan berandai-andai dalam pemrograman itu bukanlah lamunan pengandaian yang kosong. Ini justru melatih kesigapan pikiran. Melatih memperkirakan apa yang mungkin terjadi, apa antisipasinya. Setidaknya berlatih tabah dan tidak terkejut kalau sesuatu yang diperkirakan benar-benar terjadi tetapi kuasa kita atasnya amatlah kecil, hehehe.

Selain itu, masing dengan flow control, kita bisa berlatih meringkas. Berlatih melakukan otomasi proses yang sama yang berlangsung berulang-ulang. Kita bisa melakukannya dengan looping, seperti do dan/atau while, atau dengan for loop statement. Kita berlatih untuk mengidentifikasi hal-hal yang berlangsung berulang-ulang dan dapat diringkas menjadi suatu yang bersifat otomatis. Berlatih menggabungkan bagian yang sesungguhnya sama dari banyak proses yang berbeda.

2016-03-12_09-34-21c

Gambar tepat di atas paragraf ini adalah contoh hasil kompilasi dari listing program yang salah, kode yang salah. Kompiler memberikan pesan bahwa terjadi kesalahan sehingga program gagal dikompilasi. Ada dua bentuk kesalahan dalam pemrograman, yaitu kesalahan syntax dan kesalahan logika. Kesalahan dalam bentuk pertama secara umum biasanya dapat lebih mudah untuk ditangani, diperbaiki. Sekalipun belum tentu compiler menunjukkan letak tepat dari sumber kesalahan dalam bentuk kesalahan syntax tetapi setidaknya compiler telah berusaha menunjukkan bagian program yang menyebabkan kesalahan. Hal yang berbeda untuk kesalahan dalam bentuk kesalahan logika dalam melakukan pemrograman. Kadang saya menyebut bentuk kesalahan ini sebagai kesalahan gagal pikir. Secara tradisional compiler dikatakan sangat terbatas atau bahkan sama sekali tidak memeriksa bentuk kesalahan logika dalam kode program. Meski terbatas, salah satu perangkat bantu untuk mengurangi kesalahan adalah lint, keterangannya bisa dibaca di tautan ini dan di sini.

Rencananya sebagai awalan, setelah fondasi pemrograman diperkirakan cukup dilatih, saya akan belajar bersama dnegan mahasiswa bimbingan TA mengenai kelasahan dalam bentuk syntax error, seperti pada gambar. Bentuk kesalahan ini lebih sederhana, dan seperti manusia yang baru belajar yang umumnya belajar merangkak terlebih dahulu sebelum belajar melangkah tegak dan kemudian berlari, begitu pun pelajaran ini akan dilakukan.

Apa pentingnya kesalahan ini justru dilatih? Jawabannya sederhana, seperti dalam banyak hal di dunia nyata ada sejumlah skenario kesalahan yang sengaja dilatih. Dengan simulator, para pilot pesawat terbang berlatih penanganan kegagalan mesin saat penerbangan. Pasukan anti teror berlatih situasi penyanderaan. Pemadam kebakaran berlatih melakukan upaya pemadaman di gedung bertingkat. Semuanya menuju pada kesiapan dan kesigapan pada saat situsai yang sebenarnya terjadi. Mereka mengurangi kemungkinan gagap dan bahkan gagal berfungsi dengan baik saat situasi yang sebenarnya terjadi. Begitu pun untuk kegiatan pemrograman ini, berlatih agar siap dan sigap, agar terbiasa mengatasi kesalahan yang mungkin terjadi.

Bentuk syntax error dapat terjadi karena kita tidak/belum mengetahui bagaimana melakukan penulisan kode yang benar. Hal ini dapat diatasi dengan banyak mambaca dan menonton sumber-sumber yang relevan. Hal yang sudah dibahas di bagian awal tulisan ini. Kesalahan juga bisa terjadi karena kurang berlatih, itulah yang diusahakan ditangani dengan latihan ini.

Berlatih salah dengan sengaja dalam pemrograman, dalam waktu dan tempat yang tepat, sangatlah penting. Kita perlu berlatih sedapat mungkin dalam batas proporsional untuk dapat menerjemahkan dengan baik pesan kesalahan oleh compiler. Ini mempercepat proses perbaikan (debugging) dan menghindarkan rasa frustasi yang tidak perlu. Frustasi dapat menyebabkan kondisi emosional yang tidak baik yang justru akan mengganggu proses pengerjaan Tugas Akhir dan pekerjaan lainnya.

Salah satu manfaat lain dari berlatih pemrograman perangkat lunak komputer (dalam berbagai bentuk perangkat fisik) adalah berlatih untuk bertanggung jawab secara proporsional. Misalnya, saat kita berlatih syntax suatu bahasa pemrograman kita sedikit banyak terlatih secara otomatis untuk mengingat bagian-bagian yang paling sering kita lakukan dan bagian yang terpenting. Saat kita melakukan kesalahan menulis syntax kode karena lupa, kita tidak bisa menyalahkan orang lain. Dengan asumsi tidak ada gangguan luar yang signifikan, kita yang menulis sendiri kode itu, kita lah yang secara umum bertanggung jawab atasnya. Apalagi kalau kesalahan itu terjadi karena kita kurang rajin membaca, kurang rajin mati-matian belajar. Ini adalah suatu bentuk latihan yang baik. When you learn to code, you and you alone are the master of your own code.

 

Footnotes    (↵ returns to text)

  1. Marina Umaschi Bers is a professor both of child and human development and of computer science at Tufts University.¬†“Our research shows learning how to program has an impact in improving sequencing skills,” she told me in September. “If you get better at sequencing, it has a measurable positive effect on reading comprehension. A parent can have their kid engage in coding with the knowledge that a lot of kids won’t become programmers, but there is this broad-based benefit.”
    http://www.npr.org/sections/ed/2016/01/12/462698966/the-president-wants-every-student-to-learn-computer-science-how-would-that-work