Konektor yang aman

Safety connector seringkali diperlukan di laboratorium, untuk meningkatkan faktor keamanan. Keberadaannya memperkecil kemungkinan manusia teraliri oleh arus listrik, alias kesetrum.

Misalnya, banana plug (untuk yang laki/male) atau banana jack/banana socket (untuk yang perempuan/female). Khusus untuk yang female sering dikenal juga dengan sebutan binding post. Versi yang (lebih) aman dari yang biasa dipakai (yang bagian logam/metal-nya dapat tersentuh) disebut dengan tambahan kata safety. Contoh, safety banana plug, safety banana jack, safety binding post.

Gambar 1.

Misalnya pada Gambar 1, plug yang kebetulan berwarna biru itu lebih aman daripada yang berwarna merah. Yang berwarna biru memiliki pelidung. Sehingga bagian metal di dalamnya tidak mudah untuk tersentuh secara tidak sengaja. Bandingkan dengan yang berwarna merah. Kedua banana plug itu dipasang pada jumper. Jika tertarik lepas, maka bagian metal dari plug berwarna merah akan terlihat. Berbeda dengan yang berwarna biru.

Gambar 2.

Pada Gambar 2, terlihat bahwa banana jack/banana socket/binding post yang berwarna merah maupun yang berwarna hitam  bukan  berasal dari kelompok safety connector. Ada bagian cincin/ring metal yang terkespos pada binding post. Pada Gambar 2 juga terlihat banana plug, yang unsafe. Ada bagian plug dari metal yang gampang terlihat. Bagian ini bisa tersentuh oleh konduktor. Bisa juga dalam skenario yang lebih fatal, plug seperti ini tertarik lepas dari binding post padahal sedang dalam keadaan bertegangan (masukan bagi binding post). Berbahaya jika tersentuh oleh kulit manusia tanpa pengaman isolasi tambahan. Misalnya pada keadaan sumber tegangan di atas 50 VAC RMS.

Dengan demikian mudah untuk dilihat bahwa sebaiknya untuk kondisi situasi dan aktivitas (seperti di laboratorium riset/pendidikan) yang berpotensi terkena tegangan di atas 50 VAC, sebaiknya mempergunakan komponen yaang masuk dalam kelompok safe (safety…). Pilihan pertama adalah pada penggunaan safety banana jack/safety binding post, sehingga dengan demikian plug yang nanti akan dipergunakan juga bisa memiliki pelindung seperti misalnya, safety banana plug.

Masalahnya adalah pada ketersediaan komponen soket aman (safety socket) seperti itu di pasaran lokal Indonesia. Di toko-toko online Indonesia pun sepertinya belum dapat ditemui. Kalau pun impor langsung harganya sangat mahal dan tidak dijual dalam eceran dengan jumlah sedikit. Karena itu perlu dicari jalan lain.

Salah satu solusi tidak ideal yang masih bisa dipakai adalah dengan mempergunakan isolation tape, alias isolasi listrik. Banana plug dan banana jack (binding post) bisa direkatkan dengan mempergunakan isolasi listrik. Pertama menghilangkan kemungkinan tersentuh pada bagian metal dari komponen konektor dan yang kedua mengurangi kemungkinan banana plug mudah terlepas/tercabut/tertarik dari binding post.

 

Membaca Review >> Free Wolfram Programming Lab And Book

Kadang-kadang sebelum mengalokasikan waktu untuk tinkering kita perlu membaca beberapa review tentang sesuatu yang kita minati untuk pelajari. Ini semacam studi kelayakan (feasibility study) karena bagaimana pun waktu kita di muka bumi ini terbatas. Waktu yang diluangkan untuk mempelajari telaah beberapa orang seringkali lebih singkat daripada langsung mencoba tanpa pendahuluan sama-sekali. Salah satunya, misalnya telaah mengenai Wolfram Language ini.

Salah satu tindakan cerdas saat tertinggal, berada di barisan belakang, adalah mempelajari apa saja yang dialami oleh mereka yang sudah berada di depan. Kalau itu pun tidak dilakukan, akan rugi dua kali. Sudahlah tertinggal, dapatnya bisa jadi sisa-sisa dari yang di depan, akan celaka juga seperti yang sudah dialami oleh yang duluan. Membaca adalah kuncinya, sudah ratusan tahun resep itu tidak berubah. Sekarang ditambahi pula dengan yang semacam YouTube dan Vimeo (via vpn).

Wolfram has high hopes for its programming language and it is doing a lot to get attract attention to it. The real question is, will it go the final mile that is obviously needed to make it live beyond its current narrow confines.

wolframicon

Everyone seems to be impressed that Apple finally open sourced Swift and it has to be said that this succeeded in generating a lot of fresh interest in an otherwise unremarkable language. It seems that going open source, assuming you didn’t start out open source is something that companies are beginning to understand is essential to the success of a language. However, Wolfram Language is very very definitely closed source and proprietary.

Wolfram Language was really just the scripting language of Mathematica until suddenly Wolfram woke up to the fact that presented it as a separate entity it could somehow transcend the status of a proprietary math package.

The language itself is mostly unremarkable – a mix of list processing with optional functional and object-oriented programming features. You can write a Wolfram Language program using almost any paradigm you care to pick. It also features term rewriting which gives it the self modifying power of Lisp like languages. However when you are using Mathematica it isn’t really the quality of the language that attracts, it is the range of functions available.

wolflab3

What makes Wolfram Language powerful is that if you want to solve an equation you simply use the solve function. If you want to do a Fourier Transform then there is an FFT function. If you want to do a Principle Components analysis then use the PCA function and so on.

The language is chock full of big sophisticated functions that you can use to do big sophisticated things in just one or two function calls. This is what makes Wolfram programs look so terse and hence efficient.

Untuk membaca tulisan utuh silakan mengakses link ini.