Untungnya masih suka (nonton) sepak bola

 

Di dunia kecil yang terlalu cinta keseragaman tanpa alasan selain sekedar solidaritas lokal, sakit dan sengsara bersama, saya bersyukur banyak orang masih suka menonton sepak bola. Di antara banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dari sepak bola, kemampuan individu yang disenergikan dengan baik adalah salah satunya. Ini tontonan paling vulgar dari kemampuan individual, keunggulan pribadi yang bukan hanya diapresiasi dengan bayaran tinggi tetapi juga dirayakan banyak orang.

Tengoklah video-video yang dirujuk pada link-link berikut. Saat-saat zaman keemasan Ronald Koeman, tendangan gledek Roberto Carlos, tendangan lengkung David Beckham, kumpulan pamer skills dari Zinedine Zidane, gaya gocek Messi, sampai betapa mengesalkannya Inzaghi.

Masing-masing dari mereka punya kelebihannya sendiri-sendiri. Menyamakan Inzaghi dengan Cristiano Ronaldo, tentu tidaklah pas benar. Tetapi keduanya efektif punya daya bunuh dengan caranya tersendiri.

Para pemain bola punya caranya sendiri-sendiri untuk membantu timnya menang. Mau tendangan bebas, mau dribbling, mau tendangan jarak jauh, mau mengandalkan tandukan  untuk memperoleh gol terserah lah. Silakan dengan kemampuan terbaik dan spesialisasinya masing-masing.

Semuanya dengan satu tujuan, mencapai kemenangan. Perpaduan (sinergi) dari yang berbeda-beda itu lebih baik daripada kompak sama seragam salah arah. Kompak cuma duduk di pinggir lapangan atau cuma menonton dari tengah lapangan saat sebenarnya mampu berkontribusi itulah salah satu bahaya yang sesungguhnya, bukan perbedaan keunggulan.

Setidaknya masyarakat ini sebagian besar masih suka menonton sepak bola. Masih bisa paham bahwa ada yang lebih penting dari skill yang seragam sama persis, antara lain kemauan dan kehendak kuat untuk menang untuk menjadi lebih baik. Bahwa ada hal-hal yang lebih mendasar, misalnya kemauan untuk berkontribusi mencapai kemenangan tim dengan cara-cara yang masuk akal. Misalnya dengan cara mau mengejar bola atau memberi operan yang terarah, bukan dengan cara membakar dupa di tengah lapangan. Bukan pula hanya melakukan tugas spesifiknya tapi juga peduli dengan unjuk kerja (anggota) timnya, seperti video para goal keeper yang marah ini.

Analogi seperti ini masih bisa dipakai, kecuali kalau memang penghobinya sekalipun hanya sibuk berebut sebuah bola.

 

Sumber gambar: UEFA

Penghalang kemajuan, tak lagi tentang buta huruf

…mencerdaskan kehidupan bangsa…

Dahulu, barangkali ada fase perjuangan pendidikan yang menitikberatkan pada kesadaran mengapa kita perlu bersatu sebagai sebuah bangsa untuk bisa merdeka. Lepas dari penjajahan fisik oleh bangsa dari negara asing. Lalu setelah itu berjuang agar setidaknya sebagian besar anggota masyarakat bisa baca tulis, tidak lagi buta huruf. Lalu apa selanjutnya?

 

BUTA HURUF MODERN

Seperti pada gambar di bawah ini Alvin Toffler menyatakan bahwa:

The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn. Alvin Toffler

 

Pengertian literasi (literacy / melek aksara) di dunia yang sudah banyak sekali aktivitas kehidupan dilakukan dengan cepat ini sudah bergeser. Literasi tidak lagi sekedar kemampuan dan keterampilan membaca dan menulis. Tetapi juga sudah termasuk pada penguasaan bagian-bagian dari sains dan teknologi, pada pemecahan masalah dengan pengetahuan yang dimiliki [1].

Lebih jauh jika merujuk pada ungkapan Alvin Toffler di atas, di dunia modern orang yang buta huruf bukanlah (hanya) orang yang benar-benar tidak bisa membaca dan menulis, tetapi bahkan termasuk mereka yang tidak dapat belajar, unlearn, dan belajar kembali.

Kata learn dalam bahasa Inggris mungkin lebih mudah untuk diterjemahkan dan dipahami. Kata learn  berarti belajar, relearn artinya belajar ulang. Nah yang menurut saya perlu usaha ekstra adalah memahami kata unlearn. Menurut saya kata unlearn tidak dapat begitu saja diterjemahkan menjadi “tidak belajar” atau “berhenti belajar”. Yang lebih cocok adalah penjelasan bahwa unlearn itu adalah suatu upaya atau proses untuk menghilangkan atau membuang suatu pengetahuan yang pernah kita miliki atau pelajari. Misalnya, kita sudah terbiasa untuk belajar pelajaran di sekolah hanya dengan cara menghafal buta karena dulu begitulah cara kita memulai belajar, nah saat kita sudah mengetahui bahwa cara ini salah maka kita mulai perlu unlearn. Kita perlu membuang kebiasaan lama yang salah itu. Setelah punya kesadaran itu, tahap berikutnya adalah mempelajari cara yang baru untuk hal yang sama, relearn. Misalnya untuk contoh ini, relearn cara belajar yang lebih efektif dari yang biasa kita lakukan, menghafal buta.

Berdasarkan pemahaman itu, mereka yang tidak pernah berubah, tidak berevolusi selama belasan atau bahkan puluhan tahun di era modern ini bisa jadi tergolong sebagai illiteratesekalipun ia bisa baca tulis bahkan dalam banyak bahasa.

Banyak hal di dunia ini yang memang cepat sekali berubah, terutama yang berkaitan dengan teknologi. Tantangannya adalah, teknologi itu masuk ke dalam hampir semua aspek kehidupan dan peradaban manusia. Karenanya peradaban pun terdorong untuk lebih cepat berubah.

Generasi saya di banyak tempat pernah mengalami peralihan dari mesin ketik sampai ke tablet. Pernah mengalami transisi dari telepon yang menggunakan rotary dial sampai telepon pintar dengan touchscreen. Dari komputer PC desktop kotak besar, sampai ke laptop, bahkan sekarang sudah mulai beredar komputer yang cuma sedikit lebih besar dari ukuran jempol (Intel Compute Stick). Beberapa orang dari generasi terdahulu yang sekarang masih hidup sempat mengalami sendiri era saat memprogram komputer dilakukan dengan menggunakan kartu berlubang. Yang dulu sempat belajar pemrograman komputer dari Quick Basic, Pascal, VB6, Delphi, Java sampai Python, sempat merasakan bagaimana sebagian pemahaman dan keterampilan berlanjut dan sebagian mesti diganti.

Zaman berubah, duduk santai di tengah jalan hanya berarti menyediakan diri untuk dilindas. Yang tetap begitu-begitu saja selama belasan bahkan puluhan tahun sebenarnya menjadi sangat bergantung pada lingkungan sekitar yang terdekat. Ini golongan yang paling rentan akan bahaya berbagai bentuk tsunami yang datang, saat ekonomi dibangun tanpa lokomotif yang terus diperbaharui, kondisi menjadi riskan. Saat Apple dan Samsung berperang dengan rilis produk baru saat yang sama kita meriang karena harga batu bara anjok. Negara-negara maju itu tampaknya selalu sibuk untuk mencari the next big thing, sementara negara-negara tertentu sekilas tampak merasa sudah cukup dengan apa yang ada. Sampai suatu saat ketika tsunami itu datang.

 

KORELASI DAN KAUSALITAS

Selain kemuan dan kemampuan untuk terus belajar dan mengganti cara dan pemahaman lama dengan yang lebih efektif tantangan kemajuan lainnya adalah tentang penghormatan yang tinggi pada korelasi dan kausalitas.

Sebenarnya bagian ini layak menjadi yang pertama, mendahului hal tentang literasi. Tetapi tanpa literasi, tanpa kemampuan membaca dan menulis, konsep korelasi dan kausalitas akan lebih sulit untuk diterima. Dan tanpa kemampuan untuk learn, unlearn dan relearn konsep ini akan jauh lebih sulit diterima, karena orang cenderung akan selalu nyaman dengan konsep lama yang dipegangnya, suatu yang sebenarnya masih manusiawi.

Korelasi dapat berarti suatu teknik khusus dalam bidang statistika [2]. Namun kita bisa mencoba mengambil esensinya tanpa perlu terjebak dalam detail teknik statistika, korelasi adalah keterhubungan antara satu hal dengan hal lainnya. Korelasi akan menjadi penghantar yang baik untuk konsep selanjutnya yaitu kausalitas.

Korelasi dalam bentuknya yang sederhana berperan penting untuk memerangi gathukologi, penghubungan paksa antara satu hal dengan hal yang lain. Pengenalan konsep sederhana korelasi mendorong orang untuk lebih bersedia menerapkan cara berpikir ilmiah dalam kehidupan sehari-hari. Untuk bersedia memikirkan apakah benar ada hubungan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain, meski belum tentu dalam bentuk hubungan sebab-akibat. Entah apakah korelasinya positif ataukah negatif.

Pemahaman dasar tentang korelasi berperan penting dalam mengamankan keterbukaan pikiran, suatu hal yang utama dalam sains. Dalam sains dan juga kehidupan, berpikiran terbuka sangatlah penting. Ada yang mengatakan pikiran itu seperti parasut, hanya akan berfungsi baik jika terbuka. Tetapi sebagai keseimbangan, berpikir terbuka tidak berarti kita percaya dan setuju pada semua hal, pada semua klaim. Seperti yang dinyatakan ulang oleh ilmuwan Carl Sagan;

Keeping an open mind is a virtue—but, as the space engineer James Oberg once said, not so open that your brains fall out.Carl Sagan

Dalam kaitannya dengan berpikir terbuka, konsep sederhana tentang korelasi berfungsi seperti rem yang menjaga kita tetap dapat melaju dengan aman menuju tujuan. Tanpa konsep dasar korelasi, bangunan sains akan tidak akan terstuktur baik seperti sekarang. Banyak hal hanya akan berlandaskan pada pijakan yang lemah, hasil lamunan semata dan pencocokan yang ngawur.

Setelah korelasi (hubungan, relationship) berikutnya adalah kausalitas (sebab akibat). Hubungan sebab akibat adalah bentuk khusus dari korelasi. Tidak semua hubungan dalam korelasi adalah hubungan sebab akibat. Inilah bagian yang memang mudah untuk disalahpahami. Ada banyak bahasan bagus mengenai hal ini, bagaimana dua hal yang berhubungan (correlated) tidak selalu merupakan hubungan sebab akibat. Dengan bantuan Google, carilah kalimat serupa ini:
Correlation vs. Causation atau correlation does not imply causation.

 

sci4

Pada gambar di atas, misalkan ditemui bahwa saat konsumsi ice cream meningkat maka saat itu juga angka orang yang tenggelam (drowning) meningkat. Tentu saja untuk contoh ini kita dapat mudah memahami bahwa angka orang yang tenggelam meningkat bukan sebagai akibat dari konsumsi ice cream, demikian pula sebaliknya jumlah konsumsi ice cream tidak meningkat sebagai akibat banyaknya orang yang tenggelam. Ada faktor lain di sana, faktor musim panas (summer). Sebagai akibat musim panas banyak orang yang mengkonsumsi ice cream dan di periode yang sama banyak orang yang berenang, dan karenanya jumlah orang yang tenggelam (drowning) meningkat. [3]

Contoh lain pada gambar berikut ini dapat mempermudah pemahaman tentang korelasi dan kausalitas (sumber: moz.com) >>Correlation vs. Causation (A Mathographic)

 

KEMAJUAN TANPA SEBAB

Baiklah, setelah mencoba memahami dasar tentang korelasi dan kausalitas, lalu apa? Apa hubungannya dengan kemajuan (atau penghalang kemajuan)?

Yang saya perhatikan langsung maupun tidak langsung dari berbagai macam bentuk media, penghormatan selayaknya terhadap kausalitas di masyarakat kita masihlah rendah. Bah, apa pula kausalitas perlu dihormati segala? Mungkin itu yang ada di benak sebagian pembaca. Mari kita buka sedikit lagi, pernahkah anda melihat kecelakaan di jalan raya lalu yang disalahkan adalah si komo atau mungkin juga macet gara-gara si komo? Untuk contoh se-vulgar itu, mudah bagi bayak orang untuk spontan bertanya, “Apa hubungannya?” Atau, “Ah ada-ada saja.”

Yah contoh pada paragraf sebelum ini adalah contoh yang vulgar, gampang dipikirnya. Tapi coba perhatikan banyak contoh lain yang tidak se-hitam-putih contoh itu. Saat pesawat terbang jatuh, saat gedung roboh, saat jembatan runtuh, saat malapraktik, sudahkah kita mengusut penyebabnya dengan mengacu pada pemahaman akan korelasi dan kausalitas? Bayangkan saat mahasiswa teknik elektronika menyalahkan tahun monyet sebagai biang kerok kesalahannya sendiri dalam memasang kabel penghubung. Bayangkan juga saat mahasiswa teknik sipil menjadikan zodiaknya yang sedang tidak bersinar minggu ini sebagai kambing hitam salah hitung di mata kuliah mekanika teknik. Mau jadi apa kita?

Benar bahwa sains dan teknologi (dan karenanya engineering) belum bisa memberikan jawaban tepat untuk semua pertanyaan yang pernah diajukan manusia. Tetapi jangan lupa, pertama, sejak puluhan tahun selalu ada progress yang nyata yang bisa dilihat dan dirasakan hasilnya. Kedua, yang sudah diketahui pun sudah banyak, sangat banyak. Yang itu saja jika diperhatikan dan diamalkan dengan benar akan mendatangkan manfaat yang amat besar. Jangan memperbodoh generasi masa depan dengan kekonyolan yang teramat sangat, seperti juga generasi terdahulu toh bahkan tidak mau mewariskan nasib buta-hurufnya kepada kita yang belakangan datang di bumi.

Dalam bidang sosial-politik (sebut saja begitu) contoh paling gampang adalah kebiasaan untuk melempar batu pada setan yang paling dianggap nyata. Dulu zaman orde baru, satu-satunya orang yang menjadi musuh adalah Pak Harto. Seolah-olah jika beliau jatuh, masalah selesai. Kenyataannya kan tidak, tidak segampang itu analisisnya. Awalan tidak boleh menjadi akhiran untuk hal semacam ini. Lalu yang sekarang dianggap pendosa tunggal adalah Presiden Joko Widodo. Semua-semua pokoke salah Jokowi. Edyan.

Dalam lingkup yang lebih kecil, penghargaan yang kurang pada korelasi dan kausalitas akan membuat orang, misalnya, malas membaca, malas belajar. Karena orang menganggap kemajuan yang bisa didapatnya bukan karena (dan/atau bahkan tidak ada hubungannya) dengan proses membaca dan belajar. Dengan pemahaman yang salah seperti itu akan menjadi lumrah jika ada orang yang beranggapan bahwa sukses tahun ini bisa diraih hanya karena tahun ini bertepatan dengan shio monyet. Sekonyol itu.

Katakanlah ini pemahaman dari satu orang, bagaimana jika yang berpikiran begitu ada seribu orang atau lebih? Apa jadinya? Dapatkah kita sebagai bangsa dan negara bisa maju tanpa sebab? Bangsa mana yang bisa kita contoh sebagai model yang berhasil dengan metode simsalabim seperti itu?

Saat tulisan ini saya kerjakan ada heboh tentang kopi beracun. Sekedar simulasi coba bayangkan pembela si A yang sudah sah terbukti dan mengakui menaruh racun di kopi si B melakukan pembelaan yang “ajaib”. “Benar client saya memang menaruh racun di kopi si B. Tapi apa hubungannya antara racun dalam kopi dengan kematian si B? Tidak ada hubungan antara minum racun dengan kematian seseorang!” #jrenggg. Itu dialog rekaan yang amat dahsyat, tapi tidakkah kita memang berpola seperti itu?

Kita ingin maju, ingin mengelola sumber daya alam secara mandiri, ingin punya cukup modal untuk mengelola alam kita. Kita tidak ingin dijajah bangsa asing, kita tidak ingin ini dan itu dan ini dan itu. Pertanyaannya sudahkah kita punya kesadaran bersama, kesadaran kolektif tentang apa-apa saja yang diperlukan untuk maju? Pengorbanan bersama (benar-benar bersama) apa saja yang perlu diberikan sebagai syarat mutlak? Atau maunya ribut saban tahun, anti asing dan aseng? Cuma itu?

Kalau USA, Jepang, China, Korsel bisa maju dan kita pun mengakui kemajuan mereka, sudahkah kita siap meniru mereka? Mengadopsi unsur-unsur yang menjadi faktor penting kemajuan mereka? Atau maunya gratisan lagi. Merasa bumi ini diwariskan pada kita, begitu saja?

Dari sedikit yang saya tahu salah satu ilmu paling dasar sebagai pendorong kemajuan mereka adalah penghormatan yang sangat tinggi pada korelasi dan kausalitas. Sederhananya; jika begini maka (akan sangat mungkin) akan begitu. Unsur keajaiban dan kemajuan berbasis proses acak tampaknya bukan menu utama mereka di negara-negara maju. Maju setahap demi setahap sambil melakukan perbaikan, sesekali mengambil risiko yang layak dengan melompat, itu yang mereka lakukan.

Mentalitas ini sepertinya tergambar baik bahkan pada kepercayaan tentang keberuntungan, sebagai mana yang diungkap jauh hari sebelumnya oleh Lucius Annaeus Seneca (c. 4 BC – A.D. 65):

Luck is what happens when preparation meets opportunity.Seneca

Kadang memang benar ada ikan yang jatuh dari langit, tetapi kalau lantas kita berharap ada hujan koin emas dari langit maka pertanyaannya kemudian adalah seberapa mungkin itu terjadi?

Selain tentang keberuntungan, prinsip yang sama juga berlaku tentang ketidakberuntungan. Saat tahun 1995 sebuah department store bernama Sampoong di kota Seoul, Korsel, runtuh maka pihak otoritas di sana tidak sebegitu konyolnya menuduh sihir hitam sebagai penyebabnya. Penyelidikan dilakukan dan penyebab bencana yang menewaskan sekitar 500 orang itu ditemukan. Cara pengelola gedung meletakkan dan memindahkan pendingin udara di atap bangunanlah yang menyebabkan retak yang kemudian malah diabaikan tanpa perbaikan.  Begitu pula saat pesawat ulang alik Challanger meledak pada tahun 1986, yang dituduh  sebagai penyebab bukanlah kekurangajaran manusia yang ingin menembus langit. Saat komite penyelidikan dibentuk, Richard Feynman, seorang ilmuwan Fisika teroritis yang menemukan penyebabnya (bisa dilihat di sini). Cincin berbentuk O (O-ring) yang ternyata menjadi material penyebab bencana.

Ada banyak contoh serupa ini yang terdokumentasikan dengan baik, bahkan dibuat dalam tayangan televisi yang naratif. Tontonan yang lebih mudah untuk dipahami. Beberapa bahkan sudah ada yang mengunggahnya di YouTube. Misalnya seri Mayday (atau dinamakan juga sebagi Air Crash Investigation(s) atau Air Disasters), sudah banyak diunggah di YouTube, hanya cukup menuliskan nama serialnya maka akan anda temukan cukup banyak episode yang bisa ditonton. Serial lain yang serupa tetapi untuk tema yang lebih luas (seperti tentang gedung dan jembatan) adalah engineering disaster. Seri dokumenter ini pun sudah banyak dijumpai di YouTube, silakan disaksikan. Dari dua serial dokumenter ini saja kita bisa belajar bagaimana (sebagian) orang di negara maju benar-benar menghargai korelasi dan kausalitas. Ada proses ada sebab dan ada akibat, entah sudah diketahui atau masih dicari. Tidak tiba-tiba ajaib begitu saja.

Bagi saya kurangnya penghargaan terhadap prinsip dasar korelasi dan kausalitas adalah penghalang kemajuan yang teramat nyata.

 

MEMBACA DAN BELAJAR 

Idealnya membaca dan belajar sebagai faktor kemajuan dibahas terpisah. Tetapi untuk cakupan artikel kali ini, sebaiknya disatukan saja dengan lingkup yang dibatasi. Lagipula bagi sebagian kita belajar dan membaca itu sudah seperti satu kesatuan. Padahal yang dibaca hanyalah komik Gerombolan Siberat, hahaha.

Baiklah, setelah literacy  dan korelasi serta kausalitas, pendorong kemajuan berikutnya adalah kemauan dan kebiasaan membaca. Dengan literasi kita paham bagaimana membaca dan menulis, bagaimana pentingnya belajar dan mengulangi pelajaran. Bahkan kita paham bahwa beberapa pelajaran harus dilupakan dan diganti dengan yang lebih baik. Kita berubah, kita berevolusi. Kita yang sekarang bukan kita yang sepuluh tahun yang lalu. Dengan korelasi dan kausalitas kita yakin apa yang kita lakukan (dan yang tidak kita lakukan) akan berdampak. Tidak ada yang ajaib, yang ada adalah yang belum dipahami, belum bisa dijelaskan. Ilmu bedah dan pengobatan medis yang tampak begitu mudah dan masuk akal bagi banyak orang sekarang, ribuan tahun yang lalu hal seperti itu akan dianggap sihir bin magic.

Kalau sudah yakin dengan apa-apa yang kita lakukan punya dampak, kalau sudah yakin bahwa alam ini bekerja dengan cara-cara tertentu yang terus menerus masih diusahakan untuk dipelajari umat manusia maka kita akan lebih tertarik untuk mempelajarinya. Salah satu cara yang paling efektif dari belajar adalah dengan membaca. Bayangkan kalau kita percaya seluruh proses di alam semesta (termasuk di bumi) ini bersifat acak. Akan lebih sedikit orang yang tertarik untuk mempelajarinya, karena toh “ilmunya” akan lebih banyak percuma, sia-sia. Orang belajar membuat  pesawat terbang agar bisa take-off dan landing dengan selamat itu karena orang percaya ada mekanisme alam tertentu yang kalau dipahami dan ditaati (atau diakomodasi) maka akan jauh lebih besar kemungkinan pesawat itu akan selamat daripada celaka. Logika sederhana yang enggan dipahami beberapa orang.

Minat baca di Indonesia yang masih rendah itu sudah rahasia umum. Cari saja beritanya di Internet, bahkan hasil penelitian yang dipublikasi pun ada atau perhatikan saja sendiri di kehidupan sehari-hari.

Sejujurnya saya pribadi sangat senang dengan fenomena smartphone dalam kaitannya dengan kegiatan membaca. Entah kenapa, membaca di tempat umum itu masih dianggap aneh. Beda dengan mendengar musik, nonton film atau bahkan bermain game. Dengan smartphone saya tidak lagi menarik perhatian di tempat umum, pura-pura saja bermain game atau menonton film, padahal sih sedang membaca buku.

Mengenai manfaat membaca berbagai bacaan bermutu yang memperluas wawasan itu sudahlah terlalu banyak yang membahas. Yang kurang adalah pelaksanaannya. Bagaimana mau mengungguli bangsa maju dalam sains dan teknologi kalau membaca saja sudah segan. Bagaimana dengan yang semacam YouTube atau Vimeo? Okelah kalau itu pembelaannya, tapi apa sih sebenarnya yang paling rajin ditonton?

Dengan membaca (dan sekarang plus lewat tayangan audio-visual) kita bisa belajar dari orang dan bangsa lain. Lagi; learn, unlearn and relearn. Tengoklah Jepang, mereka masih punya pedang samurai (katana) mereka masih punya kimono. Tapi apakah Jepang yang sekarang sama dengan Jepang seratus tahun yang lalu? Apa saja yang mereka pelajari, tiru, kembangkan dan sekarang unggul dari bangsa-bangsa Barat? Coba telisik bagaimana rata-rata minat baca orang Jepang, lalu bandingkan dengan Indonesia. Apakah kita sudah merasa perlu mengejarnya?

Budaya membaca paling strategis dikembangkan di perguruan tinggi. Inilah dojo, tempat akal pikir diasah. Apapun jenisnya murni akademik maupun vokasi. Yang membedakannya hanyalah titik beratnya. Khusus untuk engineering gambar berikut dari bunkclass dapat memberi gambaran perbedaan dan titik temu antara engineering technology  dan engineering (engineering science).

 

Saat menjelajah di Internet saya menemukan salah satu informasi yang menarik mengenai engineering technology, bahwa untuk dapat mengikuti pelajaran seseorang dituntut untuk memiliki kemampuan yang baik dalam membaca (www.pct.edu):

Students testing below MTH 005 are not permitted to take Electronics (EET) courses until MTH 004 has been successfully completed. Students testing deficient in three areas (mathematics, English, reading) are not permitted to take Electronics courses until remediation has been completed in all three areas. Students testing deficient in English and/or reading are required to remediate these areas during their first semester. Students testing into MTH 005 or MTH 006 are permitted to take first semester Electronics courses. Students need to be in MTH 180 or above in their second semester; otherwise, students need instructor permission to continue into a second semester Electronics course.

Jadi siapa bilang kemampuan membaca dan kemauan untuk rajin membaca itu tidak penting untuk mahasiswa teknik di jenis pendidikan vokasi (engineering technology)? Sayangnya untuk mahasiswa di jenis pendidikan apapun tampaknya budaya membaca ini belum luas diterapkan sehari-hari. Agak berbeda dengan budaya kongkow di pinggir jalan, hampir tiap hari ngalor-ngidul dipraktikkan, dan jadi semcam gaya hidup.

Tampaknya sejauh ini, tidak ada lagi tawar menawar untuk budaya rajin membaca dan belajar bagi kemajuan. Mau maju? Baca dan belajar!

 

PENGAJAR DAN MEDSOS

Konon kabarnya, #ehmmm, kontrak pengajar di Indonesia itu antara lain adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Itu pun bagi yang masih ingat, #ehmmm. Untuk itu tentu syarat pertamanya adalah kesadaran dan kemauan untuk mencerdaskan diri sendiri terlebih dahulu. Tetapi dengan kesadaran terhadap ruang waktu, kalau menunggu sampai usaha mencerdaskan diri sendiri sampai mencapai puncak, belum tentu banyak yang mampu. Bisa-bisa keduluan habis umur sebelum bisa mengajar. Karena itu menurut saya langkah yang lebih rasional untuk menjalankan tugas adalah dengan mengajar sambil selalu belajar dan karenanya memiliki mental sebagai pelajar.

Terus menerus belajar itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Terutama karena sebagai konsekuensi dari belajar, pelajar akan lebih mudah berada posisi yang vulnerable, posisi yang rentan. Untuk menjadi pelajar yang baik kita perlu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, pada titik tertentu perlu untuk bersikap sebagai orang yang masih bisa diajar (teachable). Ini yang sering berat bagi yang terbiasa merasa sudah tahu segalanya. Mereka yang sudah biasa menjadi sumber akan berpotensi mengalami kesulisan saat harus menjadi penerima. Untuk  bisa belajar dengan baik pikiran harus lebih terbuka, siap menerima. Siap mencoba sesuatu yang baru tetapi juga siap untuk mengganti bahkan membuang yang dulu pernah dengan susah payah dipelajari, siap untuk learn, unlearn and relearn.

Berbeda dengan belasan apalagi puluhan tahun yang lalu, sumber belajar online saat ini sudah begitu banyak. Dari MOOC (seperti EdX, Cousera, Udacity, MIT OCW), atau web site dari perguruan tinggi seperti Stanford, CornellUniversity of Michigan, Oxford, Cambridge, Yale, Berkeley. Bahkan bisa juga dari layanan video seperti YouTube. Dunia tampak mengecil dan banyak hal menjadi tampak lebih cepat.

Media sosial (medsos) seperti Blogspot, WordPress, Facebook, Twitter bahkan juga bisa menjadi sarana belajar. Menerima, memberi dan menyebarkan informasi menjadi relatif begitu mudah bagi lebih banyak orang sekarang. Persoalannya mau atau tidak. Di layanan jejaring sosial online sudah ada banyak kelompok peminatan yang berbagi informasi mengenai topik tertentu, mudah dijumpai. Mereka yang memiliki minat yang sama bisa saling berbagi. Ini potensi bagi para pengajar untuk terus belajar dan pada saat yang sama menyebar informasi.

Lewat Internet, misalnya orang bisa belajar bahasa Jawa, sekedar sebagai contoh. Tidak harus khusus pergi ke tanah Jawa, tutorial dan mentoring intensif pun bisa dilakukan lewat Internet. Potensi seperti ini tidak untuk diremehkan, buktinya hanya karena saya tinggal bertahun-tahun di Jawa belum tentu saya berhasil menguasai bahasa Jawa dengan baik. Sungguh-sungguh belajar walaupun hanya lewat Internet malah mungkin akan bisa mengalahkan orang yang berada secara fisik namun tidak benar-benar membuka pikiran dan panca inderanya untuk menyerap dengan baik.

Melalui media sosial, konsep literasi modern (learn, unlearn, relearn) dapat lebih mudah untuk disebarkan, lengkap dengan contoh dan argumen. Melalui berbagai berita, konsep sederhana tentang korelasi dan kausalitas yang menjadi fondasi sains dan teknologi modern dapat lebih mudah untuk dipahami. Begitu pula tentang pentingnya kemampuan dan minat baca bagi kemajuan pribadi dan bangsa. Dan akhirnya berita bagaimana masyarakat yang maju adalah masyarakat yang memiliki gairah untuk terus belajar, terus mengembangkan sesuatu yang baik, dapat menjadi pembanding untuk membangkitkan semangat. Kalau kita tidak ingin dikuasai dan didikte oleh bangsa asing, maka kita perlu maju. Dan untuk maju ada sejumlah syarat dan pengorbanan bersama untuk melaksanakannya. Tidak ada yang kemajuan yang ajaib didapat tiba-tiba, out of the blue, simsalabim.

Jepang jatuh bangun dalam mencapai kemajuan, tidak ada yang tiba-tiba, tapi itu bahan untuk tulisan di lain waktu. Kalau tidak bersedia melakukan langkah-langkah yang logis dan sistematis, saya khawatir kita hanya akan menjadi bagian dari ball and chain (seperti pada gambar di bagian paling atas). Bukannya menjadi bagian dari pendorong, kita malah menjadi bagian dari beban penghambat kemajuan.

Sudahkah kita berusaha dan berperan?

 

Udate terakhir: 7 Februari 2016

Footnotes    (↵ returns to text)

  1. What is Literacy?
    Defining literacy in our changing world is not easy. Several years ago, being literate meant being able to read and write a little. Now, being literate means being able to read and write at a level to be successful in today’s world and also being proficient at math, knowing how to use technology, and knowing how to solve problems and make decisions.
    http://literacy.kent.edu/Oasis/Workshops/facts/whatis_lit.html
  2. Correlation is a statistical technique that can show whether and how strongly pairs of variables are related. For example, height and weight are related; taller people tend to be heavier than shorter people. The relationship isn’t perfect. People of the same height vary in weight, and you can easily think of two people you know where the shorter one is heavier than the taller one. Nonetheless, the average weight of people 5’5” is less than the average weight of people 5’6”, and their average weight is less than that of people 5’7”, etc. Correlation can tell you just how much of the variation in peoples’ weights is related to their heights.
    Although this correlation is fairly obvious your data may contain unsuspected correlations. You may also suspect there are correlations, but don’t know which are the strongest. An intelligent correlation analysis can lead to a greater understanding of your data.
    http://www.surveysystem.com/correlation.htm 
  3. There is a well-established relationship between the consumption of ice cream (let’s say, measured in number of ice cream cones eaten), and the number of deaths by drowning. One can predict the number of drowning deaths from the number of ice creams consumed. However, ice cream consumption is not the cause of the drowning deaths (any more than the drowning deaths cause an increase in the amount of ice cream consumption). While ice cream consumption and drowning are correlated, the warm temperatures of summer are what lead to both increased ice cream consumption and the increased rate of deaths by drowning.
    http://www.openwindowlearning.com/topic/hypotheses-theories-laws/