Tidak diterima indekost

Saya baru saja selesai membaca tulisan yang menyampaikan semcam keluh kesah rekan-rekan setanah-air mengenai tindakan diskriminatif yang mereka terima. Sebaiknya, IMHO, tulisan tersebut tidak saya bagi di sini.

 

 

 

SULIT MENCARI TEMPAT INDEKOST

Salah satu poin yang disampaikan di tulisan itu adalah tentang bagaimana (sebagian dari) mereka kesulitan mencari kost (indekost). Ini poin yang berdasarkan sekelumit pengalaman pribadi saya, bisa diverifikasi. Artinya penulisnya (dengan bandingan pengalaman saya) tidak sekedar mengarang.

Sebenarnya keengganan menerima (maha)siswa yang hendak kost tidak hanya menimpa beberapa mereka yang berasal dari beberapa daerah di bagian timur Indonesia. Mereka yang berasal dari beberapa tempat di bagian barat Indonesia pun mengalami hal serupa. Hanya tampaknya tidak semenonjol berita mengenai penolakan mereka yang “berasal dari timur”.

Saya pernah mendengar sendiri. Memang jujur saja agak sulit menyalahkan para pemilik atau penjaga rumah kost atau kontrakan. Alasan mereka sering sulit ditolak. Misalnya ada yang diciri sebagai mereka yang suka ribut (dalam bersuara) bahkan hingga jauh malam, sering berkumpul (kedatangan teman-temannya sebagai tamu) hingga mengganggu penghuni dan tetangga yang lain, kadang mabuk-mabukan, gampang emosi dan berkelahi. Kalau ribut antar sesamanya saja sering sampai di jalanan. Yang ini saya pernah kebetulan pas sekali melihat dan mendengar ribut antara pria dan wanita, dari rumah sampai ke jalan.

Ada pula yang menulis (yang ini saya belum pernah mengetahui sendiri) bahwa mereka tidak bertanggung jawab. Kalau yang saya pernah dengar sendiri adalah persepsi bahwa mereka “lebih susah untuk diatur”. Untuk urusan ini bahkan yang dari daerah barat pun diciri dengan pola perilaku yang sama. Tidak peduli, tidak mau tahu dengan kenyamanan orang lain. Masih lumayan kalau kurang-lebih, ada lebihnya. Lha kalau yang ada kurang terus?

 

MEMISAHKAN DIRI

Saya bersimpati pada yang berusaha keluar dari “komunitasnya” dan mencari ketenangannya sendiri. Saya kenal secara pribadi beberapa yang begitu, dan … saya pun seperti itu. Ada yang menyampaikan ke saya bahwa dia tidak suka dengan lingkungannya yang terkesan tidak niat untuk belajar. Sering mabok tak terkendali, dan seterusnya. Sedikit kenakalan mungkin masih bisa ditolelir sebagai bagian dari perjalanan. Tapi kalau sudah jadi pola dan menu utama?

Tidak mudah untuk memisahkan diri, perlu kekuatan yang lebih. Mereka yang berjalan sendiri itu bisa dimusuhi teman sekampungnya. Saat bahaya (dalam bentuk apapun) mereka itu harus bertahan sendiri atau dalam kelompok yang jauh lebih kecil. Dari luar, mereka pun tidak mudah untuk diterima. Mereka terkena getah dari perbuatan orang-orang yang bisa jadi bahkan mereka tidak kenal sama sekali.

Biasanya kalau tidak menyamar sebagai bagian dari komunitas lain (bagi yang “beruntung”, terutama dalam hal penampilan fisik), ya mereka kost bersama teman kuliah yang sudah mengenal mereka sebelumnya. Teman ini menjadi semacam penjamin bagi mereka yang tergolong sebagai kelompok berisiko ini.

 

TIDAK MUDAH

Saya mengenal (cukup akrab) beberapa pemilik dan penjaga kost, tentu dalam jumlah sangat terbatas. Selain itu juga beberapa kali mendengar pembicaraan seputar masalah serupa ini. Yang perlu saya sampaikan di tulisan ini adalah bahwa saya belum pernah mendengar sendiri penolakan berdasar atas kebencian terhadap perbedaan penampilan fisik. Terutama di Yogyakarta (Jogja). Hanya alasan-alasan seperti yang sudah saya ungkap di atas, cuma seputar itu saja.

Ini memang menjadi sangat tidak adil bagi mereka yang tidak suka berbuat onar, tidak gampang marah sampai berkelahi fisik dan tidak suka rusuh. Pendeknya mereka datang dari jauh dengan niat baik untuk belajar, di kampus dan mengenal dunia lain selain yang sudah biasa mereka temui.

Juga harus bisa dipahami posisi dan sudut pandang dari pemilik dan (apalagi) penjaga indekost. Mereka mencari penghidupan dan kalau bisa bukan masalah tambahan. Seperti calon penghuni kost yang bisa memilih tempat yang ingin ditinggali, para pengelola kost pun memilih mana kira-kira calon penghuni yang mendatangkan keuntungan dan bukannya sejumlah masalah baru. Beberapa adil beberapa tidak, ya begitulah.

Yang bisa dilakukan oleh mereka yang sekarang tinggal di banyak tempat indekost adalah sebisa mungkin berbaik-baik kelakuan. Kalau anda-anda sering berbuat onar, berkelahi dan sejenisnya maka adik-adik tingkat dari daerah anda yang nanti akan sangat mungkin mengalami kesulitan. Menurut saya, orang Jogja masih sangat toleran. Dan sejujurnya saya masih lebih menghormati beberapa tukang parkir di Jogja bahkan dari yang bukan tukang parkir. Mereka yang saya tahu sangat friendly, tentu pasti tidak semua. Setidaknya itu Jogja yang saya tahu.

sumber gambar: http://greatadventure24.com/