Bacalah … [dan kami masih malas membaca]

Beberapa waktu lalu nama Zakir Naik kembali mencuat di beberapa bagian post jaringan pertemanan. Saya pernah menemukan unggahan video Ahmed Deedat berkata-kata kepada seseorang yang tampaknya seperti Zakir Naik, videonya bisa dilihat di link ini. Saya teringat kembali kepada Ahmed Deedat dan satu himbauannya yang tampaknya sampai sekarang masih belum terlaksana. Karena itu saya salin kembali apa yang pernah saya tulis dan rujuk dalam post blog saya yang lalu. Kalau ditemukan ada ketidakakuratan, tolong kebaikannya untuk memberi koreksi berikut rujukan ke acunannya.


Kisah ini adalah salah satu kisah yang paling membekas dalam ingatan saya. Kalaupun tidak sampai “titik dan komanya” saya ingat, esensi cerita ini sungguh membekas. Sudah lama ingin saya sampaikan, sayang buku versi terjemahannya tak lagi saya temukan, untungnya versi ebooknya sekarang tersedia.

Ini cerita yang ironis, tapi mengandung pelajaran yang tinggi sekali nilainya.
Moshe Dayan, seorang panglima dari angkatan bersenjata Israel yang merencanakan dan melaksanakan eksekusi operasi ‘The Sinai Campaign of 1956‘, mengungkapkan secara menyeluruh mengenai rencana induk (masterplan) peperangan tersebut dalam buku biografinya yang ditulis oleh Shabtai Teveth.

Di halaman 267 Dayan mengungkapkan peta rencana pergerakan tentara Israel. Bahkan karena sangat gembiranya dengan hasil yang dicapai dari peperangan itu ia sesumbar kalau suatu hari nanti perlu berperang lagi dengan negara-negara Arab maka ia akan mengulangi lagi semua manuver peperangan titik demi titik seperti yang telah diungkap dalam bukunya itu. Moshe Dayan menepati janjinya, ia menghajar telak tentara Mesir pada 1967 dengan gaya textbook (textbook-style).

Moshe Dayan sangat paham tidak bakal ada orang Arab yang akan membaca buku biografinya atau buku-buku lain tentang Yahudi dan/atau ditulis oleh orang Yahudi. Tidak peduli bahwa buku-buku tersebut sangat mungkin berisi informasi tentang rencana-rencana kaum Yahudi terhadap orang Arab atau bahkan detail rencana peperangan seperti yang terdapat dalam buku biografinya sendiri.

Perintah pertama yang turun adalah untuk membaca, “Bacalah!” dan dunia kaum muslim menterjemahkannya dalam praktik menjadi “Kami tidak akan membaca!” [terj]

Di buku itu Ahmed Deedat menceritakan sementara banyak orang Arab terbukti “cuek bebek”, sebaliknya tentara Israel terlatih secara teknis dengan baik. Bahkan mereka menganggap musuh mereka, orang-orang Arab, sebagai golongan yang mempunyai keunggulan fisik lebih baik. Dengan pengakuan kesadaran akan kelemahan yang dimiliki inilah tentara Israel mencari peluang untuk unggul, misalnya dalam hal penggunaan teknologi.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/87/Kac_1924-10-19_Pinsk_jews_reading_mishnah_colored.jpg
sumber gambar: wikipedia

Masih ‘pengen’ menang dari Yahudi ???

Dari buku (ebook) tulisan Ahmed Deedat “ARABS AND ISRAEL – CONFLICT OR CONCILIATION?” :

Moshe Dayan, the Commander-in-Chief of the Israeli Army who planned and executed ‘The Sinai Campaign of 1956’, tells it all in his biography by Shabtai Teveth, about his masterplan. On page 267 Dayan discloses a map of the planned Israeli advances, and was so tickled by his achievement, that he boasts that if it became necessary to have another go at the Arabs, he would point by point repeat the manoeuvres. And true to his promise he cut the Egyptian Army to shreds in 1967 – textbook style.

Dayan knew too well that no Arab would ever read his biography or any other book about the Jews by the Jews, to learn what their Semitic cousins were planning for them. MUSLIMS WILL NOT LEARN: In the very first word of the Quranic Revelation, God Almighty commanded the Prophet ( Peace be upon him) and through him commanded his followers ‘Read!’ To which the Muslim world in practice says ‘We will not read!’

Will we ever benefit from the open secrets revealed by the Jews in their own literature? It does not look as if we are ready to learn.What is the reason that we are discomfitured by the Jews time after time ?

The answer is simply superior planning and weaponry. In short, technology! ‘And technology is not a closed shop…’ I told the Jewish boys and girls at the Rondebosch meeting, after the ‘Six Day War’ in 1967.

Seven years later Martin Zucker reporting from Tel Aviv repeated my words almost word for word:

THE AVERAGE ARAB SOLDIER, ACCORDING TO THE ISRAELIS, CONTINUES TO BE AN INDIVIDUAL COMING FROM A PEASANT BACKGROUND WITH ABOUT SIX YEARS OF SCHOOLING … THE AVERAGE ISRAELI SOLDIER-CONSCRIPT, IN COMPARISON, HAS EIGHT TO 12 YEARS OF SCHOOLING, PART OF IT TECHNICAL………
….THE ISRAELIS RATE THEIR ENEMIES (the Arabs) AS BETTER PHYSICAL SPECIMENS THAN THEMSELVES.
‘The Daily News’ May 29, 1974.


UPDATE: 19 Maret 2016

https://ia802607.us.archive.org/6/items/Shk_Ahmed_Deedats_Books/Arabs_And_Israel_Conflict_Or_Conciliation.pdf

 

2016-03-19_09-34-42

sumber: http://www.dtic.mil/dtic/tr/fulltext/u2/a279681.pdf
NAVAL WAR COLLEGE Newport, R.I.
THE 1967 ARAB-ISRAELI WAR: AN OPERATIONAL STUDY OF THE SINAI CAMPAIGN
by Paul S. Grossgold
LCDR USN

 

2016-03-19_09-45-37 israel2
sumber: https://goo.gl/Psrhep

“A Guide to Documents on the Arab-Palestinian/Israeli Conflict: 1897-2008
#fairUse #edu

 

 

 

Dua hutang Jepang

Peralihan sejenak dari delapan jam pelajaran berurutan hari ini …

Kalau menyebut hutang-hutang bangsa dan negara Jepang pada dunia, terutama berkenaan dengan masa lalunya yang sempat menyerbu dan menjajah negara lain, ada kemungkinan responnya berkaitan dengan kejahatan perang yang mereka lakukan. Tapi bukan itu yang ingin saya tulis siang ini. Kali ini bukan tentang dosa-dosa (para pendahulu) bangsa Jepang pada bangsa-bangsa lain. Melainkan pada dua hal yang ikut mendorong Jepang menjadi negara maju seperti sekarang ini.

Bahasan seperti ini antara lain terpicu oleh diskusi dengan beberapa rekan, mengenai kemajuan dan mengapa orang bersedia untuk menjadi lebih maju. Secara primitif, bahasan antara lain mengerucut pada surga dan neraka. Betapa secara primitif manusia (sepertinya) perlu iming-iming hal-hal yang menyenangkan, surgawi, dan juga perlu ancaman yang menakutkan seperti neraka. Tepat seperti ungkapan carrot and stick (dijanjikan wortel dan diancam dengan tongkat).


sumber gambar: Wikipedia

Sederhananya bahkan untuk bidang pendidikan relatif tidak mudah untuk memasarkan ide constructivism, masih nyaman pada mode behaviorism. Berpusat pada hukuman dan hadiah. Karena itu untuk dapat bergerak maju, tampaknya perlu gula-gula yang menggoda, semacam surga dan perlu ancaman yang menakutkan, seperti kabar siksa neraka.

Lalu apa hubungannya dengan Jepang? Nah menurut catatan sejarah ada dua peristiwa yang memberikan semacam dosis neraka yang cukup untuk (sebagian) bangsa Jepang. Yang pertama adalah pembukaan paksa pelabuhan dan perdagangan Jepang oleh negara Amerika Serikat, diwakili oleh Commodore Matthew C. Perry. Ini bisa jadi lecutan pertama di era modern bagi bangsa Jepang yang membangkitkan dengan kuat semangat untuk maju dan sejajar dengan bangsa lain. Pandangan yang tertuang dalam bentuk tulisan mengenai kemajuan Jepang dalam industri dan hubungannya dengan peristiwa seperti ini dapat dibaca pada tautan-tautan berikut: link 1, link 2.

Hutang kedua Jepang bisa jadi datang dalam bentuk penderitaan dan malu yang amat sangat, bencana bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Saat itu Jepang bahkan sudah maju bila dibanding banya negara lainnya, terbukti mereka berani menantang dan berperang melawan negara-negara Barat, dan mereka terbukti berperang dengan baik. Jepang kalah karena tekanan Amerika Serikat dan Soviet di bawah Stalin. Dua peristiwa ini (bersama hal-hal lainnya) mampu ikut mendorong dengan sangat sehingga Jepang menjadi negara maju seperti sekarang.

Bisa diperkirakan bahwa tidak ada bangsa waras yang senang untuk ditodong dan dipaksa oleh bangsa lain, seperti Jepang ditodong oleh pemerintah Amerika Serikat dahulu lewat Komodor Perry. Tidak ada pula bangsa bernalar baik yang nyaman dalam pengetahuan bahwa keberadaan mereka dapat dihilangkan atau dimusnahkan kapan saja. Meraka harus melakukan sesuatu dalam satu dan lain cara untuk mempertahaankan keberadaan mereka. Jepang mengejar ketertinggalan melalui kemajuan teknologi. Sekian puluh tahun kemudian dunia mengenal cukup banyak produsen asal negara mereka. Mereka memimpin dalam damai melalui sains, teknologi dan ekonomi.

Aplikasinya ke negeri ini, pertanyaannya adalah,”Apakah yang bisa menjadi padanan (persamaan) dua peristiwa yang dialami Jepang dahulu itu?” Apa yang cukup membuat kita merasa sangat terancam secara kolektif?

 

Puzzle

Pada tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan bagaimana saya meminta para mahasiswa untuk intensif membaca berbagai bahan bacaan yang sudah saya urutkan. Idealnya memang mahasiswa sudah lancar mencari semua bahannya sendiri. Tetapi sebagai pembimbing saya tentu harus pula adaptif dalam batas yang wajar. Budaya baca masih harus dikembangkan cukup jauh agar kemandirian untuk mencari sumber informasi bisa secara penuh dicapai.

Saya meminta mahasiswa untuk membaca sejumlah application note dari produsen komponen. Hal ini sengaja dan bukan tanpa tujuan. Idealnya memang mempelajari sesuatu itu dapat lebih mudah dari textbook atau kalau hendak memenuhi kaidah penelitian dan penulisan ilmiah haruslah mengutamakan dari paper dari jurnal-jurnal ilmiah peer reviewed yang terkenal memiliki reputasi yang bagus. Itupun sumber tulisannya primer, bukan kutipan-dari-kutipan-dari-kutipan. Tapi, ya itu idealnya. Texbook yang bisa diperoleh secara legal harganya cukup mahal dan itu pun sulit tersedia, termasuk yang berbentuk ebook. Jurnal pun setali tiga uang, sama saja, mahal dan aksesnya cukup sulit (untuk elektronika misalnya berbagai jurnal dari IEEE).

Tapi alasan utama yang sesungguhnya bukanlah hal-hal tersebut, yang walaupun caranya tidak ideal dan tidak benar masih dapat diatasi dengan cara sepanyol atau malah penuh. Memalukan memang, tapi itulah kondisi riilnya. Alasan sesungguhnya saya meminta mahasiswa untuk membaca berpuluh sumber bacaan itu adalah untuk melatih keterampilan mereka dalam menyusun puzzle. Seperti pada gambar di bagian paling atas tulisan ini yang saya peroleh dari business2community.com. Masing-masing informasi yang mereka peroleh itu persis seperti keping-keping puzzle. Mereka harus berusaha mengumpulkannya, menyeleksinya lalu menyusunnya menjadi satu bagian besar yang utuh.

puzzle-04
sumber gambar:science-all.com

Sekalipun terkesan remeh dan sederhana, kemampuan ini adalah kemampuan standar yang harusnya dimiliki oleh setiap lulusan perguruan tinggi. Untuk semua jenjang, berlaku sama. Dalam kehidupan tidak selalu semua informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah (problem solving) maupun pekerjaan lainnya datang dalam bentuk sesuatu yang utuh. Padahal untuk menyelesaikan dengan benar seringkali kita memerlukan informasi yang lebih lengkap dari yang sudah kita terima.

Ketidaklengkapan informasi ini sendiri menjadi peluang bisnis bagi banyak pihak. Contoh sederhananya adalah profesi wartawan, mereka mengumpulkan, menyeleksi dan merangkai berbagai informasi yang diterima menjadi suatu berita yang baik yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Begitu juga banyak jasa konsultasi yang mendasarkan bisnisnya pada upaya pengumpulan informasi bagi para client. Sayangnya bagi para engineer, technologist maupun technician, kemewahan berupa bantuan dan sokongan penuh dari para konsultan seperti itu tidak selalu bisa didapatkan. Misalnya karena nilai keekonomian pelayanan pengumpulan dan pengolahan informasi itu tidak dapat disetujui (unjustifiable). Seringkali bahkan informasi dari pihak ketiga yang telah berupaya mengumpulkan dan menyarikan informasi primer masih perlu dibandingkan dan diolah dengan sumber-sumber informasi lain.

Saya melihat kemampuan mencari, membandingkan, menyeleksi menyusun dan menggabungkan berbagai (sumber) informasi menjadi satu bagian besar yang utuh masih cukup lemah pada diri saya sendiri. Sayangnya saya juga melihat kelemahan ini pada cukup banyak pihak. Tentu saja saya bisa tidak peduli, toh itu orang lain. Tetapi dalam suatu tim, meskipun tim yang sangat besar, ini berisiko. Bukankah ada ungkapan;

A chain is only as strong as its weakest link.

Kemampuan untuk menyusun berbagai kepingan puzzle informasi dalam berbagai tingkat adalah keterampilan mutlak dari komponen suatu bangsa di era banjir informasi, bisa surfing di atasnya atau tenggelam bersama. Anak-anak muda ini sungguh-sungguh harapan masyarakat dalam pengertaian yang sesungguhnya. Jika nanti mereka gagal berjaya juga, kaum tua juga akan ikut menderita, bahkan mungkin akan lebih menderita dari kaum muda yang masih lebih berkemampuan.

Dalam tulisan yang sebelumnya (di sini) saya menuliskan kembali makna illiterate di dunia modern menurut Alvin Toffler, kemudian saya menyambungnya dengan bagian korelasi dan kausalitas. Menyusun keping-keping puzzle informasi itu menuntut kemampuan untuk paham tentang korelasi dan kausalitas untuk masing-masing bahasan. Sebaliknya dengan semakin sering berlatih menyusun keping-keping puzzle informasi kita sebenarnya semakin melatih keterampilan untuk melihat korelasi dan kausalitas antar bagian dari informasi yang kita kumpulkan. Ini mengurangi kebiasaan untuk menganut cocoklogi/cocokologi maupun gathukologi. Walaupun tidak semua yang masih bersifat spekulatif itu salah, hipotesis atau dugaan awal misalnya. Ini adalah sebuah titik awal atau kerangka yang memungkinkan dan memudahkan untuk menelaah dan menjelajah lebih lanjut.

N388
sumber gambar:harriscomm.com

Manfaat praktis lain dari latihan menyusun keping-keping puzzle informasi adalah kemampuan untuk dapat lebih melihat susunan informasi sebagai suatu gambaran yang lebih besar, lebih utuh. Cerita tentang gajah dari sengketa para tuna netra (yang difabel sejak lahir atau belum pernah meilhat citra gajah sebelumnya) adalah cerita yang sangat menarik dan analogi yang dahsyat. Tapi saya simpan untuk lain waktu saja. Intinya adalah seringkali kita tidak mampu melihat suatu (keping) informasi adalah suatu bagian dari sesuatu yang lebih besar. Informasi itu menjadi terisolasi, terasing seolah olah tidak ada korelasi, hubungannya dengan informasi yang lain. Padahal yang sebenarnya adalah kebalikannya, justru berhubungan satu sama lain. Pola ini berlawan arah dari cocoklogi/cocokologi atau gathukologi yang malah berusaha memaksakan agar dua hal yang berbeda dan tidak berhubungan menjadi suatu aliran informasi yang memiliki benang merah yang sangat kuat dan jelas. Phew!

 

Salahmu sendiri

MEMBACA

Sampai awal bulan ini (Maret) saya memberi para mahasiswa bimbingan saya target bahan bacaan. Sesuatu yang tampaknya dibenci banyak mahasiswa. Apalagi bahan bacaan itu (“kebetulan”) hampir semuanya berbahasa asing. Usahanya menjadi dua kali lipat, membaca untuk berusaha memahami dan (karena itu) sampai perlu membuka kamus atau menggunakan Google Translate.

2016-03-12_10-29-44

Tujuannya tentu bukan gaya-gayaan atau untuk keren-kerenan. Ini sebenarnya langkah dan tugas yang amat biasa di sistem yang lebih maju dalam sains dan teknologi. Saat tuntutan kemajuan dan kemampuan bersaing jauh lebih tinggi daripada sekedar membela kemalasan. Terlebih lagi bentuk kemalasan yang minim mendorong kemajuan. Contoh bentuk “kemalasan” yang mendorong kamajuan adalah remote control dan wireless phone (kemudian cell phone lalu smartphone). Budaya membaca dan belajar memang belum menjadi bagian dari budaya dan peradaban di sebagian masyarakat kita di Indonesia, jujur saja lah.

Ada beberapa tujuan yang bisa saya kemukakan dari tugas baca seperti pada gambar screenshot di atas. Pertama tentu saja agar mahasiswa yang mengerjakan tugas akhir memahami terlebih dahulu peta lebar pekerjaan yang akan dilakukannya. Dengan kata lain overview. Keduaownership. Di banyak tempat, sudah biasa bahwa Tugas Akhir / Skripsi adalah pekerjaan dari mahasiswa sepenuhnya. Mereka lah yang mati-matian berjuang dari awal sampai akhir, berjibaku. Konon di negara maju, kemandirian pengerjaan tugas sekolah/perguruan tinggi relatif amat tinggi, didukung dengan sumber bantuan seperti Internet, perpustakaan dan workshop. Ini pantas ditiru, langkahnya antara lain dengan banyak membaca bahan-bahan yang relevan dengan apa yang akan dikerjakan. Baik yang berkenaan langsung maupun bahan bacaan yang sifatnya mendukung. Terkadang bahan bacaan yang tidak langsung membahas apa yang akan dikerjakan oleh mahasiswa malah menjadi bahan yang mendasari dan menjadi bahan yang fundamental untuk karya yang akan dihasilkan. Bahasan yang bersifat filosofis umumnya menjadi bahasan dalam golongan ini. Sedari awal mahasiswa dilatih untuk memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap pekerjaannya dengan berinvestasi waktu dan sumberdaya lainnya pada bahan-bahan belajar yang menjadi dasar dari pekerjaaannya.

Ketiga, mahasiswa (siswa perguruan tinggi) yang telah lulus seharusnya telah berhenti menjadi pembeo. Orang yang hanya menuruti apa kata orang lain begitu saja tanpa pengkajian sama sekali, sekalipun itu sesungguhnya adalah kajian dalam bidangnya. Terlebih lagi sekedar mengekor sumber yang tidak terpercaya. Keprihatinan cukup banyak pihak juga menjadi keprihatinan saya, budaya membaca dan belajar masih sangat rendah. Karena itu, melalui tugas membaca sumber-sumber bacaan mahasiswa dilatih untuk mengacu pada sumber-sumber yang relatif dapat dipercaya, sumber-sumber primer dan sekunder. Sumber-sumber yang lebih dekat ke asal informasi dan mengurangi distorsi informasi yang tidak perlu.

Mahasiswa juga dilatih untuk memperbandingkan informasi yang datang dari berbagai sumber mengenai hal yang sama. Mengurangi kebiasaan membeo untuk hal-hal yang semestinya ditelusuri terlebih dahulu. Hal-hal yang sebenarnya merupakan bagian dari bidang pekerjaannya. Ini seperti mengumpulkan kepingan puzzle, memilih dan menyusunnya. Detail informasi sering perlu disusun sedemikan rupa agar menjadi gambaran yang pas/tepat dari sesuatu yang lebih besar. An overview, a bigger picture. Suatu keterampilan yang diperlukan kalau mau bersaing di bidang pekerjaan engineering di level lulusan perguruan tinggi. Salah itu biasa, tetapi kesalahan yang berasal dari keengganan akibat tidak terlatih adalah suatu pola. Pola yang merugikan dan berbahaya, termasuk di antaranya tidak terbiasa membandingkan sumber informasi.

 

BERLATIH BENAR DAN SALAH

Setelah fondasi membaca berbagai bahan bacaan untuk mendapatkan gambaran besar (overview) dari pekerjaan, berlatih untuk peduli terhadap pekerjaan yang dilakukan, mampu mencari kemudian membandingkan dan menyusun kepingan-kepingan informasi, maka langkah selanjutnya (dengan tetap meneruskan kegiatan membaca dengan intensif) adalah untuk berlatih melakukan pemrograman perangkat.

Kebetulan bimbingan saya tahun ini memiliki dasar penggunaan sistem yang sama, ada bagian pekerjaan yang seragam. Ini memudahkan proses belajar bersama. Keempatnya menggunakan sistem dengan komponen utama mikrokontroler. Komponen ini memerlukan pemrograman perangkat lunak untuk dapat beroperasi dengan benar sesuai yang dikehendaki.

Sebagaimana bagian lain, ada banyak sisi yang bisa menjadi cerita menarik yang dapat diangkat dari pekerjaan ini. Kali ini sisi yang dapat disebut sebagai “berlatih salah”. Tapi sebelumnya, ada baiknya untuk menyampaikan bagian yang benar, manfaat berlatih software programming, terlebih dahulu.

Ada banyak manfaat yang bisa didapat dengan belajar melakukan pemrograman. Di negara-negara maju, bahkan anak-anak sudah diajari dan dilatih untuk melakukannya. Ini sebenarnya, IMHO, bukan tentang program komputer, tetapi justru lebih tentang manusianya, tentang kemampuan berpikir [1]. Saya mengakui sebagai seorang amatir dalam hal ini, tetapi bahkan sebagai amatir sekalipun ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan pemrograman perangkat lunak (software) ini, yang bahkan tidak selalu mengenai software.

Misalnya, dengan berlatih melakukan pemrograman, kita akan lebih akrab dengan konsep what-if, bagaimana seandainya jika. Ini bagian penting dari kegiatan pemecahan masalah, perencanaan dan kreatifitas secara umum. Bagaimana jika ini yang dilakukan, apa akibatnya? Bagaimana jika yang terjadi sesuatu yang tidak justru tidak ingin diperoleh, apa antisipasi yang dapat dilakukan? Hal-hal seperti ini dapat dilatih dengan menggunakan branching (percabangan) pada flow control (pengendalian aliran program). Misalnya dengan if statement atau switch statement. Berlatih mengantisipasi dengan berandai-andai dalam pemrograman itu bukanlah lamunan pengandaian yang kosong. Ini justru melatih kesigapan pikiran. Melatih memperkirakan apa yang mungkin terjadi, apa antisipasinya. Setidaknya berlatih tabah dan tidak terkejut kalau sesuatu yang diperkirakan benar-benar terjadi tetapi kuasa kita atasnya amatlah kecil, hehehe.

Selain itu, masing dengan flow control, kita bisa berlatih meringkas. Berlatih melakukan otomasi proses yang sama yang berlangsung berulang-ulang. Kita bisa melakukannya dengan looping, seperti do dan/atau while, atau dengan for loop statement. Kita berlatih untuk mengidentifikasi hal-hal yang berlangsung berulang-ulang dan dapat diringkas menjadi suatu yang bersifat otomatis. Berlatih menggabungkan bagian yang sesungguhnya sama dari banyak proses yang berbeda.

2016-03-12_09-34-21c

Gambar tepat di atas paragraf ini adalah contoh hasil kompilasi dari listing program yang salah, kode yang salah. Kompiler memberikan pesan bahwa terjadi kesalahan sehingga program gagal dikompilasi. Ada dua bentuk kesalahan dalam pemrograman, yaitu kesalahan syntax dan kesalahan logika. Kesalahan dalam bentuk pertama secara umum biasanya dapat lebih mudah untuk ditangani, diperbaiki. Sekalipun belum tentu compiler menunjukkan letak tepat dari sumber kesalahan dalam bentuk kesalahan syntax tetapi setidaknya compiler telah berusaha menunjukkan bagian program yang menyebabkan kesalahan. Hal yang berbeda untuk kesalahan dalam bentuk kesalahan logika dalam melakukan pemrograman. Kadang saya menyebut bentuk kesalahan ini sebagai kesalahan gagal pikir. Secara tradisional compiler dikatakan sangat terbatas atau bahkan sama sekali tidak memeriksa bentuk kesalahan logika dalam kode program. Meski terbatas, salah satu perangkat bantu untuk mengurangi kesalahan adalah lint, keterangannya bisa dibaca di tautan ini dan di sini.

Rencananya sebagai awalan, setelah fondasi pemrograman diperkirakan cukup dilatih, saya akan belajar bersama dnegan mahasiswa bimbingan TA mengenai kelasahan dalam bentuk syntax error, seperti pada gambar. Bentuk kesalahan ini lebih sederhana, dan seperti manusia yang baru belajar yang umumnya belajar merangkak terlebih dahulu sebelum belajar melangkah tegak dan kemudian berlari, begitu pun pelajaran ini akan dilakukan.

Apa pentingnya kesalahan ini justru dilatih? Jawabannya sederhana, seperti dalam banyak hal di dunia nyata ada sejumlah skenario kesalahan yang sengaja dilatih. Dengan simulator, para pilot pesawat terbang berlatih penanganan kegagalan mesin saat penerbangan. Pasukan anti teror berlatih situasi penyanderaan. Pemadam kebakaran berlatih melakukan upaya pemadaman di gedung bertingkat. Semuanya menuju pada kesiapan dan kesigapan pada saat situsai yang sebenarnya terjadi. Mereka mengurangi kemungkinan gagap dan bahkan gagal berfungsi dengan baik saat situasi yang sebenarnya terjadi. Begitu pun untuk kegiatan pemrograman ini, berlatih agar siap dan sigap, agar terbiasa mengatasi kesalahan yang mungkin terjadi.

Bentuk syntax error dapat terjadi karena kita tidak/belum mengetahui bagaimana melakukan penulisan kode yang benar. Hal ini dapat diatasi dengan banyak mambaca dan menonton sumber-sumber yang relevan. Hal yang sudah dibahas di bagian awal tulisan ini. Kesalahan juga bisa terjadi karena kurang berlatih, itulah yang diusahakan ditangani dengan latihan ini.

Berlatih salah dengan sengaja dalam pemrograman, dalam waktu dan tempat yang tepat, sangatlah penting. Kita perlu berlatih sedapat mungkin dalam batas proporsional untuk dapat menerjemahkan dengan baik pesan kesalahan oleh compiler. Ini mempercepat proses perbaikan (debugging) dan menghindarkan rasa frustasi yang tidak perlu. Frustasi dapat menyebabkan kondisi emosional yang tidak baik yang justru akan mengganggu proses pengerjaan Tugas Akhir dan pekerjaan lainnya.

Salah satu manfaat lain dari berlatih pemrograman perangkat lunak komputer (dalam berbagai bentuk perangkat fisik) adalah berlatih untuk bertanggung jawab secara proporsional. Misalnya, saat kita berlatih syntax suatu bahasa pemrograman kita sedikit banyak terlatih secara otomatis untuk mengingat bagian-bagian yang paling sering kita lakukan dan bagian yang terpenting. Saat kita melakukan kesalahan menulis syntax kode karena lupa, kita tidak bisa menyalahkan orang lain. Dengan asumsi tidak ada gangguan luar yang signifikan, kita yang menulis sendiri kode itu, kita lah yang secara umum bertanggung jawab atasnya. Apalagi kalau kesalahan itu terjadi karena kita kurang rajin membaca, kurang rajin mati-matian belajar. Ini adalah suatu bentuk latihan yang baik. When you learn to code, you and you alone are the master of your own code.

 

Footnotes    (↵ returns to text)

  1. Marina Umaschi Bers is a professor both of child and human development and of computer science at Tufts University. “Our research shows learning how to program has an impact in improving sequencing skills,” she told me in September. “If you get better at sequencing, it has a measurable positive effect on reading comprehension. A parent can have their kid engage in coding with the knowledge that a lot of kids won’t become programmers, but there is this broad-based benefit.”
    http://www.npr.org/sections/ed/2016/01/12/462698966/the-president-wants-every-student-to-learn-computer-science-how-would-that-work