Bacalah … [dan kami masih malas membaca]

Beberapa waktu lalu nama Zakir Naik kembali mencuat di beberapa bagian post jaringan pertemanan. Saya pernah menemukan unggahan video Ahmed Deedat berkata-kata kepada seseorang yang tampaknya seperti Zakir Naik, videonya bisa dilihat di link ini. Saya teringat kembali kepada Ahmed Deedat dan satu himbauannya yang tampaknya sampai sekarang masih belum terlaksana. Karena itu saya salin kembali apa yang pernah saya tulis dan rujuk dalam post blog saya yang lalu. Kalau ditemukan ada ketidakakuratan, tolong kebaikannya untuk memberi koreksi berikut rujukan ke acunannya.


Kisah ini adalah salah satu kisah yang paling membekas dalam ingatan saya. Kalaupun tidak sampai “titik dan komanya” saya ingat, esensi cerita ini sungguh membekas. Sudah lama ingin saya sampaikan, sayang buku versi terjemahannya tak lagi saya temukan, untungnya versi ebooknya sekarang tersedia.

Ini cerita yang ironis, tapi mengandung pelajaran yang tinggi sekali nilainya.
Moshe Dayan, seorang panglima dari angkatan bersenjata Israel yang merencanakan dan melaksanakan eksekusi operasi ‘The Sinai Campaign of 1956‘, mengungkapkan secara menyeluruh mengenai rencana induk (masterplan) peperangan tersebut dalam buku biografinya yang ditulis oleh Shabtai Teveth.

Di halaman 267 Dayan mengungkapkan peta rencana pergerakan tentara Israel. Bahkan karena sangat gembiranya dengan hasil yang dicapai dari peperangan itu ia sesumbar kalau suatu hari nanti perlu berperang lagi dengan negara-negara Arab maka ia akan mengulangi lagi semua manuver peperangan titik demi titik seperti yang telah diungkap dalam bukunya itu. Moshe Dayan menepati janjinya, ia menghajar telak tentara Mesir pada 1967 dengan gaya textbook (textbook-style).

Moshe Dayan sangat paham tidak bakal ada orang Arab yang akan membaca buku biografinya atau buku-buku lain tentang Yahudi dan/atau ditulis oleh orang Yahudi. Tidak peduli bahwa buku-buku tersebut sangat mungkin berisi informasi tentang rencana-rencana kaum Yahudi terhadap orang Arab atau bahkan detail rencana peperangan seperti yang terdapat dalam buku biografinya sendiri.

Perintah pertama yang turun adalah untuk membaca, “Bacalah!” dan dunia kaum muslim menterjemahkannya dalam praktik menjadi “Kami tidak akan membaca!” [terj]

Di buku itu Ahmed Deedat menceritakan sementara banyak orang Arab terbukti “cuek bebek”, sebaliknya tentara Israel terlatih secara teknis dengan baik. Bahkan mereka menganggap musuh mereka, orang-orang Arab, sebagai golongan yang mempunyai keunggulan fisik lebih baik. Dengan pengakuan kesadaran akan kelemahan yang dimiliki inilah tentara Israel mencari peluang untuk unggul, misalnya dalam hal penggunaan teknologi.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/87/Kac_1924-10-19_Pinsk_jews_reading_mishnah_colored.jpg
sumber gambar: wikipedia

Masih ‘pengen’ menang dari Yahudi ???

Dari buku (ebook) tulisan Ahmed Deedat “ARABS AND ISRAEL – CONFLICT OR CONCILIATION?” :

Moshe Dayan, the Commander-in-Chief of the Israeli Army who planned and executed ‘The Sinai Campaign of 1956’, tells it all in his biography by Shabtai Teveth, about his masterplan. On page 267 Dayan discloses a map of the planned Israeli advances, and was so tickled by his achievement, that he boasts that if it became necessary to have another go at the Arabs, he would point by point repeat the manoeuvres. And true to his promise he cut the Egyptian Army to shreds in 1967 – textbook style.

Dayan knew too well that no Arab would ever read his biography or any other book about the Jews by the Jews, to learn what their Semitic cousins were planning for them. MUSLIMS WILL NOT LEARN: In the very first word of the Quranic Revelation, God Almighty commanded the Prophet ( Peace be upon him) and through him commanded his followers ‘Read!’ To which the Muslim world in practice says ‘We will not read!’

Will we ever benefit from the open secrets revealed by the Jews in their own literature? It does not look as if we are ready to learn.What is the reason that we are discomfitured by the Jews time after time ?

The answer is simply superior planning and weaponry. In short, technology! ‘And technology is not a closed shop…’ I told the Jewish boys and girls at the Rondebosch meeting, after the ‘Six Day War’ in 1967.

Seven years later Martin Zucker reporting from Tel Aviv repeated my words almost word for word:

THE AVERAGE ARAB SOLDIER, ACCORDING TO THE ISRAELIS, CONTINUES TO BE AN INDIVIDUAL COMING FROM A PEASANT BACKGROUND WITH ABOUT SIX YEARS OF SCHOOLING … THE AVERAGE ISRAELI SOLDIER-CONSCRIPT, IN COMPARISON, HAS EIGHT TO 12 YEARS OF SCHOOLING, PART OF IT TECHNICAL………
….THE ISRAELIS RATE THEIR ENEMIES (the Arabs) AS BETTER PHYSICAL SPECIMENS THAN THEMSELVES.
‘The Daily News’ May 29, 1974.


UPDATE: 19 Maret 2016

https://ia802607.us.archive.org/6/items/Shk_Ahmed_Deedats_Books/Arabs_And_Israel_Conflict_Or_Conciliation.pdf

 

2016-03-19_09-34-42

sumber: http://www.dtic.mil/dtic/tr/fulltext/u2/a279681.pdf
NAVAL WAR COLLEGE Newport, R.I.
THE 1967 ARAB-ISRAELI WAR: AN OPERATIONAL STUDY OF THE SINAI CAMPAIGN
by Paul S. Grossgold
LCDR USN

 

2016-03-19_09-45-37 israel2
sumber: https://goo.gl/Psrhep

“A Guide to Documents on the Arab-Palestinian/Israeli Conflict: 1897-2008
#fairUse #edu