Preamp dan prasyarat

PREAMP

Di masa usia bersekolah di tingkat SMP dulu saya berkenalan dengan konsep preamp atau lengkapnya preamplifier. Apakah yang dinamakan preamp itu? Mari terlebih dahulu melihat beberapa sumber bacaan. Dari Wikipedia bisa didapatkan:

A preamplifier (preamp) is an electronic amplifier that prepares a small electrical signal for further amplification or processing. They are typically used to amplify signals from microphones, instrument pickups, and phonographs to line level. Preamplifiers are often integrated into the audio inputs on mixing consoles, DJ mixers, and sound cards. They can also be stand-alone devices.

Sumber lain, menyatakan beberapa kegunaannya yang spesifik:

A preamp may be designed to do any of these things:
-Increasing the gain
-Changing the tone
-Lowering the output impedance
-Converting from unbalanced to balanced
…Or any combination of those, to any degree.

Lalu mengapa orang memerlukan preamplifier? Untuk pertanyaan serupa dalam bidang sains dan teknologi, yang sifatnya universal, biasanya Q&A sudah pernah ada sebelumnya. Misalnya:

There are many reasons why you would want a pre-amp and a power amp. The easiest to understand is when your source and destination are far away from each other. In this situation a pre-amp can be helpful so that the noise that is picked up on the line to the power amp is minimal compared to the signal itself.

Another situation is if you were going to be performing some filtering on a signal. All of the filtering elements can add noise to your system and by adding a preamp the noise in the filtering is minimized compared to the signal. Also the preamp can act as a simple buffer between your source and the filtering equipment.

And yet another reason you would want it is because your preamp isn’t able to provide the current gain required for the power amp. You may still wonder why not just use a power amp? Power amps are more difficult to directly change the volume on while a preamp is much easier. So you can change your volume on the preamp and have a fixed gain on the power amp.

Ada banyak sumber pengetahuan yang membahas tentang preamp yang isinya kurang lebih serupa seperti yang telah saya kutip di atas. Dari ketiganya dapat ditarik simpulan sederhana bahwa preamp adalah sebuah penguat yang merupakan penguat awal. Dalam sebuah sistem yang disederhanakan preamp berada di antara sumber sinyal (misalnya microphone) dan penguat akhir/penguat utama (power amplifier). Ada beberapa alasan spesifik mengapa preamp diperlukan, sebagian besar pada dasarnya mengerucut pada pemahaman bahwa penguat akhir tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa adanya penguat awal. Misalnya karena diperlukan pengolahan dari sinyal masukan atau bahkan karena sinyal yang diterima oleh penguat akhir terlalu kecil nilainya, di bawah ambang batas minimum.

PRASYARAT

Menurut KBBI:

pra·sya·rat n syarat yg harus dipenuhi sebelum melakukan, mengikuti, atau memasuki pendidikan atau sesuatu kegiatan

Dalam tulisan ini, tepatnya, yang saya maksud adalah mata kuliah prasyarat. Bagi mereka yang pernah merasakan berkuliah dengan sistem SKS (Satuan Kredit Semester) tentu mengenal jenis mata kuliah ini. Belum berhasil di mata kuliah jenis ini akan berakibat tidak dapat mengambil mata kuliah di semester/tahun berikutnya yang memang mempersyaratkan sudah lulus mata kuliah sebelumnya yang menjadi prasyarat. Kalau jumlah sks yang bisa diambil di semester berikutnya masih bisa dinegosiasikan dengan dosen wali, untuk perihal mata kuliah prasyarat tidak ada ampunannya. Belum pernah mengambil atau masih gagal total ya jangan harap bisa mengambil lanjutannya. Itulah tantangan di mata kuliah yang menjadi prasyarat bagi mata kuliah lain (prerequisite)

Dua bagian kutipan yang dapat dibaca mengenai mengapa mata kuliah prasyarat itu penting:

What is a prerequisite?
A prerequisite is a specific course or subject that you must complete before you can take another course at the next grade level. To be accepted into some courses, you will have to prove that you have completed a similar course in the same or a related subject, at a lower grade level. Prerequisites are usually in the same or a related subject, at a lower grade level.

To be accepted into some courses, you will have to prove that you have a certain amount of knowledge about the subject already.

Why are prerequisites important?
Prerequisites are a way of making sure that students, like you, enter into a course or subject with some prior knowledge. This, not only helps the professor to teach at a certain academic level, but it also helps you to feel more comfortable and confident with the subject matter.

Menurut saya, seolah-olah ada dua jenis prasyarat dalam untuk sebuah mata kuliah, yang formal dinyatakan dan yang tidak dinyatakan. Yang formal telah saya coba ungkapkan di paragraf sebelumnya. Biasanya dalam silabus disebutkan, dituliskan dengan jelas. Nah yang juga sama berbahayanya adalah yang tidak dinyatakan. Suatu mata kuliah disusun dan diajar berdasarkan asumsi tertentu. Tentang syarat minimal pengetahuan tertentu yang harus dimiliki oleh mahasiswa untuk bisa mengikuti perkuliahan. Beberapa dari persyaratan itu dinyatakan dalam bentuk prasyarat. Terutama untuk hal-hal yang dianggap bersifat baru (bagi mahasiswa). Beberapa yang lain, menurut saya, diasumsikan telah dimiliki dan karenanya dianggap tidak perlu dinyatakan ulang untuk tiap mata kuliah.

Misalnya, tentu saja untuk mahasiswa di Indonesia diasumsikan sudah bisa membaca dan menulis dengan huruf latin dalam bahasa Indonesia. Hal semacam ini sudah dianggap merupakan suatu kewajaran dan tidak perlu selalu dinyatakan sebagai prasyarat di setiap mata kuliah. Calon mahasiswa sudah melalui proses ujian masuk perguruan tinggi, dan yang lebih penting sudah lulus jenjang pendidikan terdahulu. Secara klasik, mahasiswa adalah seorang yang telah lulus dari jenjang pendidikan menengah (SMA dan yang sederajat). Yang sebelumnya telah lulus dari SMP, begitu seterusnya. Karenanya mahasiswa Indonesia asli yang belum bisa membaca menulis dalam bahasa Indonesia adalah suatu keajaiban.

Contoh itu sekalipun konyol, adalah contoh yang kontras, hitam-putih. Yang lebih sulit untuk terdeteksi adalah contoh yang lebih “abu-abu”. Misalnya untuk memahami suatu perkuliahan yang sangat matematis, mahasiswa diasumsikan sudah memilki fondasi yang baik untuk beberapa bagian yang menjadi dasar pengajaran. Padahal tidak semua hal terujikan dengan baik pada saat menyelesaikan kuliah yang menjadi prasyarat. Begitupun dengan jenjang pendidikan sebelumnya. Sehingga dengan asumsi yang “meleset” seperti ini akan mendatangkan kesulitan yang cukup berat baik bagi mahasiswa maupun bagi pengajarnya.

Saya sendiri mengalami hal ini sebagai mahasiswa, ada fondasi yang tidak terolah baik yang menyulitkan saya untuk memahami perkuliahan pada mata kuliah yang mengasumsikan bahwa mahasiswa telah memiliki dasar yang baik. Kalau jumlah yang seperti saya ini banyak, waktu dan tenaga pengajar akan kurang efektif dipergunakan. Lebih baik dialihkan untuk hal lain yang lebih bermanfaat dalam bidang tugasnya.

Lalu bagaimana? Itulah pertanyaan yang akan muncul. Secara sederhana, untuk orang-per-orang mahasiwa, kalau “beruntung” maka yang bersangkutan akan gagal (tidak lulus) di mata kuliah lanjutan itu. Kenapa saya tulis “beruntung”? Kalau mata kuliah itu sangat penting untuk dasar profesinya maka kekurangan yang terdeteksi di awal (atau setidaknya belum sampai di akhir) akan dapat lebih cepat diperbaiki. Kalau “kebetulan” tidak terdeteksi, maka akan lebih berat bagi mahasiswa untuk menyadari sendiri kekurangnnya dan (lebih penting lagi) keperluannya untuk melakukan perbaikan.

MENCARI PREAMP

Mengubah kekurangan menjadi keunggulan adalah semacam credo bagi entrepreneur dan engineer, alike. Begitu pula perihal belajar dari pengalaman. Dan itu juga yang menjadi salah satu dari bagian kisah hidup saya. Pengalaman gagal memahami suatu subyek karena dasar yang tidak baik dan kuat itu sungguh sangat tidak menyenangkan. Dan dalam bahasa saya,”Buta huruf itu jangan diwariskan.” Pengalaman salah dari suatu generasi itu merupakan bahan pelajaran untuk generasi berikutnya. Tidak layak bagi suatu generasi untuk tidak memberikan peringatan sama sekali bagi generasi berikutnya agar tidak melakukan kesalahan yang sama dalam situasi yang tidak jauh berbeda. Bagi tiap generasi, akan lebih baik untuk membuat kesalahan baru yang lebih bermakna untuk membangun peradaban.

Dalam kasus saya, meperbaiki prasyarat yang gagal itu perlu saya lakukan sampai pada tahap membongkar fondasi/dasar. Tidak hanya sibuk dengan asap tetapi perlu untuk mencari smoking gun, mencari sumbernya (root-cause). Tidak mudah, perlu pengorbanan dan karena itu sepertinya jarang yang mau melakukan. Akan lebih mudah bertahan dengan program yang sama tahun demi tahun. Adapun bagi saya, perjalanan saya itu sebagian hasilnya bisa saya bagi untuk generasi baru. Agar mereka dapat lebih mempergunakan sumber dayanya untuk melakukan kesalahan-kesalahan mereka sendiri yang baru, yang perlu bagi kemajuan. Bukan kesalahan-kesalahan para pendahulunya yang sebenarnya lebih mudah untuk tidak diulangi.

Bagian ini saya namai mencari preamp karena memang itulah intiya. Kalau sudah terpikir bahwa kapasitas (baik individual maupun kolektif) itu terbatas maka meningkatkannya adalah langkah yang paling masuk akal, selama memungkinkan. Seperti pada paragraf-paragraf di awal, jika sinyal masukan terlalu lemah diterima oleh penguat akhir (power amplifier) apalagi mengandung banyak noise maka proses penguatan seperti itu sama dengan menyia-nyiakan energi. Kurang bermanfaat, sering tidak efektif dan tentu tidak efisien. Sumber daya yang dibuat mubazir. Begitu pula dalam belajar. Saya dan banyak orang yang mengakui kekurangan perlu mancari apa yang diumpamakan sebagai preamp itu. Langkah paling cepat dan sesaat boleh jadi dengan bekerja sama dengan teman yang lebih mampu. Tetapi dalam jangka menengah dan jangka panjang, proses perbaikan itu perlu dilakukan dan dijalani sendiri. Boleh dengan bantuan orang lain, tetapi kita sendirilah yang paling berperan dan berusaha, bukan orang lain yang membantu.

Preamp itu sangat perlu, jika tidak sinyal terlalu lemah itu akan tertindih oleh noise. Terjadi kekacauan pada informasi yang dibawanya. Yang kalau langsung diperkuat oleh power amplifier, boleh jadi malah akan lebih memperbesar noise. Memperbesar kekacauan informasi dan justru memperbesar kesalahpahaman.

Salah satu tulisan pengakuan yang paling baik mengenai perjalanan hidup dan perjuangan dalam belajar menurut saya berasal dari tulisan Prof. Ir. Armein Zainal Rahmat Langi M.Sc., Ph.D. seorang guru besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung. Beliau sekarang menjadi rektor di Maranatha. Berikut kutipan tulisan beliau:

Dan Januari 1990 kuliah S2 saya dimulai. Saya harus menyelesaikan enam kuliah. Witold Kinsner, profesor saya mengusulkan saya ambil dua kuliah tiap semester. Sebenarnya saya ingin cepat selesai, tapi Profesor Kinsner takut saya tidak sanggup.

Benar juga. Susah. Semua berbahasa Inggris. Saya sudah dipersiapkan dengan baik. Tapi tetap saja tidak mudah. Wah kayaknya saya sudah tua nih. Pelajaran kok sukar masuk. Otak saya beku. Saya harus cari caranya.

Saya mengerahkan semua usaha saya. Saya meyakinkan diri bahwa saya cuma punya satu tugas. Satu: belajar. Dari pagi sampai malam tugas saya cuma satu. Belajar. Pagi sudah bangun dan sarapan sambil menyiapkan bekal makan siang. Kemudian naik bus menembus salju ke kampus, ke Lab. Saat jam kuliah, pergi ke kelas. Setelah itu kembali lagi ke Lab. Sering lari ke perpustakaan untuk mencari bahan. Kemudian kembali lagi ke lab. Saat sudah malam pulang ke apartemen, sering dengan bus terakhir. Tiap hari.

Saya teringat satu ilmu sakti yang saya temukan sejak kecil di Tomohon: fokus dan pengulangan. Semua yang saya tidak bisa saya coba berulang-ulang sampai bisa. Semua tugas saya kerjakan satu persatu. Semua soal saya coba. Saya latihan semua soal yang ada di buku teks. Teman-teman saya, apalagi orang Canada, heran, “Armein, you need to work smarter not harder”. Thanks, since I am not that smart I will work harder than anybody.

Saya datang ke Profesor Shivakumar, dosen kuliah ini. Saya jelaskan bahwa saya tidak bisa gagal. Saya bersedia diberi tugas apa saja untuk memperbaikinya. Kita ngobrol lama, dan dia memberi kesempatan sekali lagi. Dia berharap saya bisa nanti dapat C+, nilai minimal untuk lulus. Saya sebenarnya tidak berbakat matematika. Di rapor SMA pun hanya dapat enam atau tujuh. Nilai saya selama ini berkat kerja keras, harder than anybody. Saat saya berdiri di papan pengumuman, di pintu ruang Prof Shivakumar, saya nyaris menangis. Saya berhasil lolos, dan mendapat nilai B, bukan C+! Saya punya harapan untuk beasiswa. Sampai hari ini saya tidak akan lupa wajah dan nama Prof. Shivakumar. …

Di antara kutipan yang bagus dari tulisan yang bagus itu, ada dua hal yang perlu diberi warna tinta merah sebagai pengingat;

"Thanks, since I am not that smart I will work harder than anybody."

dan

"Nilai saya selama ini berkat kerja keras, harder than anybody."

 

doer01

Generasi belakangan jauh lebih beruntung dari generasi pendahulunya dalam hal sumber-sumber belajar. Bagi yang masih memungkinkan untuk mengakses Internet akan dapat mengakses sumber-sumber pengetahuan dunia. Lebih cepat dan lebih mudah dari generasi sebelumnya. Sebagai contoh kecil, untuk sumber-sumber belajar tinkering sebagian telah saya cantumkan di link ini. Belum lagi MOOC yang bebas akses hampir dari seluruh bagian dunia. Banyak hal bisa dipelajari dari MOOC (seperti EdX, Cousera, Udacity, MIT OCW), atau web site dari perguruan tinggi seperti Stanford, CornellUniversity of Michigan, Oxford, Cambridge, Yale, Berkeley. Bagi yang masih mengalami kesulitan mengenai bahasa, seperti juga saya, bisa mempergunakan bantuan Google Translate. Utamakan pemakaian untuk mengembangkan kemampuan belajar memahami bahasa asing, lebih dari sekedar menterjemahkan kata par kata. Mencari preamp (sebagai sebuah permumpamaan) sekarang ini relatif jauh lebih mudah. Jadi alasan apa lagi yang mau dipakai?

Sebagai seorang yang mengakui taraf kebodohan, tidak layak bagi saya untuk berpura-pura dan mengikuti “gaya belajar” orang yang dianggap pintar (setidaknya dalam pemahaman mitos di kalangan umum). Jika konon menurut umum orang pintar itu sekali dua kali belajar akan paham suatu pokok bahasan, maka saya tidak bisa begitu. Seperti yang diungkapkan Prof. AZRL; “…since I am not that smart I will work harder than anybody.” Saya perlu sadar diri.

Sebagai catatan tambahan tentang sadar diri itu tadi, alasan yang sama yang membuat saya tidak mendaftar menjadi seorang tentara lalu ingin masuk Kopasus, Marinir atau Paskhas. Kalau dengan kesadaran penuh, tanpa tekanan dan dengan informasi yang cukup baik saya mendaftar masuk menjadi anggota TNI maka saya pun harus bersedia berlatih dengan “menu yang ada”. Kalau, katakanlah, saya memaksakan diri dan, lagi katakanlah, saya berhasil masuk memulai pendidikan maka saya tidak hanya menyia-nyiakan sumber daya saya tetapi juga sumber daya pelatih saya. Posisi saya lebih baik diisi oleh orang yang lebih punya dedikasi tinggi dan benar cukup memenuhi syarat dasar. Saya sendiri pun bisa lebih berkembang di tempat dan bidang lain.

MENGOPTIMALKAN AMPLIFIER

Sebagaimana ada preamplifier dan power amplifier, kurang lebih begitu pulalah jenjang pendidikan dibagi-bagi. Supaya sistem berjalan dengan efektif dan efisien. Seorang profesor senior bisa saja membimbing mahasiswa untuk mulai belajar mengeja dan berhitung. Tetapi apakah itu cara yang paling tepat untuk memanfaatkan sumber daya sang profesor tadi? Di saat negara ini masih kekurangan jumlah orang dan kemampuan, yang ada perlu dimanfaatkan dengan lebih baik.

Dalam pengalaman saya dulu, tentulah saya sendiri yang harus “berakrobat” untuk mengatasi permasalahan “sinyal lemah” saya ini. Bukan bergantung, hanya pada pofesor pengajar saya. Saya minta bantuan teman-teman yang lebih mampu. Lalu untuk bagian-bagian yang strategis menurut saya untuk jangka panjang, saya bongkar sendiri. Perlu waktu dan biaya, tetapi hasilnya bisa dirasakan kemudian. Yang seperti ini, berproses seperti inilah yang tadi diistilahkan dengan “mencari preamp”. Berdasarkan pengalaman, saya nyatanya menemukan cukup banyak sumber yang berpotensi bisa dipergunakan sebagai preamp. Tinggal kemudian diperhatikan, dipikirkan yang mana saja yang paling sesuai.

Kalau merujuk ke pengalaman saya terdahlu, waktu dan tenaga profesor itu lebih baik dipergunakan untuk mengembangkan masukan yang sesuai. Sisanya perlu ditangani oleh yang lain, di jenjang yang berbeda. Itu kalau sistem mau lebih efektif dan efisien. Jangan lalu semua diserahkan, misalnya, ke para dokter spesialis atau hakim di Mahkamah Agung. Ya bisa macet sistemnya.

Cari perbandingan, akui kekurangan lalu jika setelah dipikir benar-benar memang perlu, carilah preamp.

 

image credit: Teachable >> http://www.aacleve.org/remaining-teachable/