Puzzle

Pada tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan bagaimana saya meminta para mahasiswa untuk intensif membaca berbagai bahan bacaan yang sudah saya urutkan. Idealnya memang mahasiswa sudah lancar mencari semua bahannya sendiri. Tetapi sebagai pembimbing saya tentu harus pula adaptif dalam batas yang wajar. Budaya baca masih harus dikembangkan cukup jauh agar kemandirian untuk mencari sumber informasi bisa secara penuh dicapai.

Saya meminta mahasiswa untuk membaca sejumlah application note dari produsen komponen. Hal ini sengaja dan bukan tanpa tujuan. Idealnya memang mempelajari sesuatu itu dapat lebih mudah dari textbook atau kalau hendak memenuhi kaidah penelitian dan penulisan ilmiah haruslah mengutamakan dari paper dari jurnal-jurnal ilmiah peer reviewed yang terkenal memiliki reputasi yang bagus. Itupun sumber tulisannya primer, bukan kutipan-dari-kutipan-dari-kutipan. Tapi, ya itu idealnya. Texbook yang bisa diperoleh secara legal harganya cukup mahal dan itu pun sulit tersedia, termasuk yang berbentuk ebook. Jurnal pun setali tiga uang, sama saja, mahal dan aksesnya cukup sulit (untuk elektronika misalnya berbagai jurnal dari IEEE).

Tapi alasan utama yang sesungguhnya bukanlah hal-hal tersebut, yang walaupun caranya tidak ideal dan tidak benar masih dapat diatasi dengan cara sepanyol atau malah penuh. Memalukan memang, tapi itulah kondisi riilnya. Alasan sesungguhnya saya meminta mahasiswa untuk membaca berpuluh sumber bacaan itu adalah untuk melatih keterampilan mereka dalam menyusun puzzle. Seperti pada gambar di bagian paling atas tulisan ini yang saya peroleh dari business2community.com. Masing-masing informasi yang mereka peroleh itu persis seperti keping-keping puzzle. Mereka harus berusaha mengumpulkannya, menyeleksinya lalu menyusunnya menjadi satu bagian besar yang utuh.

puzzle-04
sumber gambar:science-all.com

Sekalipun terkesan remeh dan sederhana, kemampuan ini adalah kemampuan standar yang harusnya dimiliki oleh setiap lulusan perguruan tinggi. Untuk semua jenjang, berlaku sama. Dalam kehidupan tidak selalu semua informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah (problem solving) maupun pekerjaan lainnya datang dalam bentuk sesuatu yang utuh. Padahal untuk menyelesaikan dengan benar seringkali kita memerlukan informasi yang lebih lengkap dari yang sudah kita terima.

Ketidaklengkapan informasi ini sendiri menjadi peluang bisnis bagi banyak pihak. Contoh sederhananya adalah profesi wartawan, mereka mengumpulkan, menyeleksi dan merangkai berbagai informasi yang diterima menjadi suatu berita yang baik yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Begitu juga banyak jasa konsultasi yang mendasarkan bisnisnya pada upaya pengumpulan informasi bagi para client. Sayangnya bagi para engineer, technologist maupun technician, kemewahan berupa bantuan dan sokongan penuh dari para konsultan seperti itu tidak selalu bisa didapatkan. Misalnya karena nilai keekonomian pelayanan pengumpulan dan pengolahan informasi itu tidak dapat disetujui (unjustifiable). Seringkali bahkan informasi dari pihak ketiga yang telah berupaya mengumpulkan dan menyarikan informasi primer masih perlu dibandingkan dan diolah dengan sumber-sumber informasi lain.

Saya melihat kemampuan mencari, membandingkan, menyeleksi menyusun dan menggabungkan berbagai (sumber) informasi menjadi satu bagian besar yang utuh masih cukup lemah pada diri saya sendiri. Sayangnya saya juga melihat kelemahan ini pada cukup banyak pihak. Tentu saja saya bisa tidak peduli, toh itu orang lain. Tetapi dalam suatu tim, meskipun tim yang sangat besar, ini berisiko. Bukankah ada ungkapan;

A chain is only as strong as its weakest link.

Kemampuan untuk menyusun berbagai kepingan puzzle informasi dalam berbagai tingkat adalah keterampilan mutlak dari komponen suatu bangsa di era banjir informasi, bisa surfing di atasnya atau tenggelam bersama. Anak-anak muda ini sungguh-sungguh harapan masyarakat dalam pengertaian yang sesungguhnya. Jika nanti mereka gagal berjaya juga, kaum tua juga akan ikut menderita, bahkan mungkin akan lebih menderita dari kaum muda yang masih lebih berkemampuan.

Dalam tulisan yang sebelumnya (di sini) saya menuliskan kembali makna illiterate di dunia modern menurut Alvin Toffler, kemudian saya menyambungnya dengan bagian korelasi dan kausalitas. Menyusun keping-keping puzzle informasi itu menuntut kemampuan untuk paham tentang korelasi dan kausalitas untuk masing-masing bahasan. Sebaliknya dengan semakin sering berlatih menyusun keping-keping puzzle informasi kita sebenarnya semakin melatih keterampilan untuk melihat korelasi dan kausalitas antar bagian dari informasi yang kita kumpulkan. Ini mengurangi kebiasaan untuk menganut cocoklogi/cocokologi maupun gathukologi. Walaupun tidak semua yang masih bersifat spekulatif itu salah, hipotesis atau dugaan awal misalnya. Ini adalah sebuah titik awal atau kerangka yang memungkinkan dan memudahkan untuk menelaah dan menjelajah lebih lanjut.

N388
sumber gambar:harriscomm.com

Manfaat praktis lain dari latihan menyusun keping-keping puzzle informasi adalah kemampuan untuk dapat lebih melihat susunan informasi sebagai suatu gambaran yang lebih besar, lebih utuh. Cerita tentang gajah dari sengketa para tuna netra (yang difabel sejak lahir atau belum pernah meilhat citra gajah sebelumnya) adalah cerita yang sangat menarik dan analogi yang dahsyat. Tapi saya simpan untuk lain waktu saja. Intinya adalah seringkali kita tidak mampu melihat suatu (keping) informasi adalah suatu bagian dari sesuatu yang lebih besar. Informasi itu menjadi terisolasi, terasing seolah olah tidak ada korelasi, hubungannya dengan informasi yang lain. Padahal yang sebenarnya adalah kebalikannya, justru berhubungan satu sama lain. Pola ini berlawan arah dari cocoklogi/cocokologi atau gathukologi yang malah berusaha memaksakan agar dua hal yang berbeda dan tidak berhubungan menjadi suatu aliran informasi yang memiliki benang merah yang sangat kuat dan jelas. Phew!