Untungnya masih suka (nonton) sepak bola

 

Di dunia kecil yang terlalu cinta keseragaman tanpa alasan selain sekedar solidaritas lokal, sakit dan sengsara bersama, saya bersyukur banyak orang masih suka menonton sepak bola. Di antara banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dari sepak bola, kemampuan individu yang disenergikan dengan baik adalah salah satunya. Ini tontonan paling vulgar dari kemampuan individual, keunggulan pribadi yang bukan hanya diapresiasi dengan bayaran tinggi tetapi juga dirayakan banyak orang.

Tengoklah video-video yang dirujuk pada link-link berikut. Saat-saat zaman keemasan Ronald Koeman, tendangan gledek Roberto Carlos, tendangan lengkung David Beckham, kumpulan pamer skills dari Zinedine Zidane, gaya gocek Messi, sampai betapa mengesalkannya Inzaghi.

Masing-masing dari mereka punya kelebihannya sendiri-sendiri. Menyamakan Inzaghi dengan Cristiano Ronaldo, tentu tidaklah pas benar. Tetapi keduanya efektif punya daya bunuh dengan caranya tersendiri.

Para pemain bola punya caranya sendiri-sendiri untuk membantu timnya menang. Mau tendangan bebas, mau dribbling, mau tendangan jarak jauh, mau mengandalkan tandukan  untuk memperoleh gol terserah lah. Silakan dengan kemampuan terbaik dan spesialisasinya masing-masing.

Semuanya dengan satu tujuan, mencapai kemenangan. Perpaduan (sinergi) dari yang berbeda-beda itu lebih baik daripada kompak sama seragam salah arah. Kompak cuma duduk di pinggir lapangan atau cuma menonton dari tengah lapangan saat sebenarnya mampu berkontribusi itulah salah satu bahaya yang sesungguhnya, bukan perbedaan keunggulan.

Setidaknya masyarakat ini sebagian besar masih suka menonton sepak bola. Masih bisa paham bahwa ada yang lebih penting dari skill yang seragam sama persis, antara lain kemauan dan kehendak kuat untuk menang untuk menjadi lebih baik. Bahwa ada hal-hal yang lebih mendasar, misalnya kemauan untuk berkontribusi mencapai kemenangan tim dengan cara-cara yang masuk akal. Misalnya dengan cara mau mengejar bola atau memberi operan yang terarah, bukan dengan cara membakar dupa di tengah lapangan. Bukan pula hanya melakukan tugas spesifiknya tapi juga peduli dengan unjuk kerja (anggota) timnya, seperti video para goal keeper yang marah ini.

Analogi seperti ini masih bisa dipakai, kecuali kalau memang penghobinya sekalipun hanya sibuk berebut sebuah bola.

 

Sumber gambar: UEFA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *