Dua hutang Jepang

Peralihan sejenak dari delapan jam pelajaran berurutan hari ini …

Kalau menyebut hutang-hutang bangsa dan negara Jepang pada dunia, terutama berkenaan dengan masa lalunya yang sempat menyerbu dan menjajah negara lain, ada kemungkinan responnya berkaitan dengan kejahatan perang yang mereka lakukan. Tapi bukan itu yang ingin saya tulis siang ini. Kali ini bukan tentang dosa-dosa (para pendahulu) bangsa Jepang pada bangsa-bangsa lain. Melainkan pada dua hal yang ikut mendorong Jepang menjadi negara maju seperti sekarang ini.

Bahasan seperti ini antara lain terpicu oleh diskusi dengan beberapa rekan, mengenai kemajuan dan mengapa orang bersedia untuk menjadi lebih maju. Secara primitif, bahasan antara lain mengerucut pada surga dan neraka. Betapa secara primitif manusia (sepertinya) perlu iming-iming hal-hal yang menyenangkan, surgawi, dan juga perlu ancaman yang menakutkan seperti neraka. Tepat seperti ungkapan carrot and stick (dijanjikan wortel dan diancam dengan tongkat).


sumber gambar: Wikipedia

Sederhananya bahkan untuk bidang pendidikan relatif tidak mudah untuk memasarkan ide constructivism, masih nyaman pada mode behaviorism. Berpusat pada hukuman dan hadiah. Karena itu untuk dapat bergerak maju, tampaknya perlu gula-gula yang menggoda, semacam surga dan perlu ancaman yang menakutkan, seperti kabar siksa neraka.

Lalu apa hubungannya dengan Jepang? Nah menurut catatan sejarah ada dua peristiwa yang memberikan semacam dosis neraka yang cukup untuk (sebagian) bangsa Jepang. Yang pertama adalah pembukaan paksa pelabuhan dan perdagangan Jepang oleh negara Amerika Serikat, diwakili oleh Commodore Matthew C. Perry. Ini bisa jadi lecutan pertama di era modern bagi bangsa Jepang yang membangkitkan dengan kuat semangat untuk maju dan sejajar dengan bangsa lain. Pandangan yang tertuang dalam bentuk tulisan mengenai kemajuan Jepang dalam industri dan hubungannya dengan peristiwa seperti ini dapat dibaca pada tautan-tautan berikut: link 1, link 2.

Hutang kedua Jepang bisa jadi datang dalam bentuk penderitaan dan malu yang amat sangat, bencana bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Saat itu Jepang bahkan sudah maju bila dibanding banya negara lainnya, terbukti mereka berani menantang dan berperang melawan negara-negara Barat, dan mereka terbukti berperang dengan baik. Jepang kalah karena tekanan Amerika Serikat dan Soviet di bawah Stalin. Dua peristiwa ini (bersama hal-hal lainnya) mampu ikut mendorong dengan sangat sehingga Jepang menjadi negara maju seperti sekarang.

Bisa diperkirakan bahwa tidak ada bangsa waras yang senang untuk ditodong dan dipaksa oleh bangsa lain, seperti Jepang ditodong oleh pemerintah Amerika Serikat dahulu lewat Komodor Perry. Tidak ada pula bangsa bernalar baik yang nyaman dalam pengetahuan bahwa keberadaan mereka dapat dihilangkan atau dimusnahkan kapan saja. Meraka harus melakukan sesuatu dalam satu dan lain cara untuk mempertahaankan keberadaan mereka. Jepang mengejar ketertinggalan melalui kemajuan teknologi. Sekian puluh tahun kemudian dunia mengenal cukup banyak produsen asal negara mereka. Mereka memimpin dalam damai melalui sains, teknologi dan ekonomi.

Aplikasinya ke negeri ini, pertanyaannya adalah,”Apakah yang bisa menjadi padanan (persamaan) dua peristiwa yang dialami Jepang dahulu itu?” Apa yang cukup membuat kita merasa sangat terancam secara kolektif?

 

Puzzle

Pada tulisan sebelumnya saya sudah menceritakan bagaimana saya meminta para mahasiswa untuk intensif membaca berbagai bahan bacaan yang sudah saya urutkan. Idealnya memang mahasiswa sudah lancar mencari semua bahannya sendiri. Tetapi sebagai pembimbing saya tentu harus pula adaptif dalam batas yang wajar. Budaya baca masih harus dikembangkan cukup jauh agar kemandirian untuk mencari sumber informasi bisa secara penuh dicapai.

Saya meminta mahasiswa untuk membaca sejumlah application note dari produsen komponen. Hal ini sengaja dan bukan tanpa tujuan. Idealnya memang mempelajari sesuatu itu dapat lebih mudah dari textbook atau kalau hendak memenuhi kaidah penelitian dan penulisan ilmiah haruslah mengutamakan dari paper dari jurnal-jurnal ilmiah peer reviewed yang terkenal memiliki reputasi yang bagus. Itupun sumber tulisannya primer, bukan kutipan-dari-kutipan-dari-kutipan. Tapi, ya itu idealnya. Texbook yang bisa diperoleh secara legal harganya cukup mahal dan itu pun sulit tersedia, termasuk yang berbentuk ebook. Jurnal pun setali tiga uang, sama saja, mahal dan aksesnya cukup sulit (untuk elektronika misalnya berbagai jurnal dari IEEE).

Tapi alasan utama yang sesungguhnya bukanlah hal-hal tersebut, yang walaupun caranya tidak ideal dan tidak benar masih dapat diatasi dengan cara sepanyol atau malah penuh. Memalukan memang, tapi itulah kondisi riilnya. Alasan sesungguhnya saya meminta mahasiswa untuk membaca berpuluh sumber bacaan itu adalah untuk melatih keterampilan mereka dalam menyusun puzzle. Seperti pada gambar di bagian paling atas tulisan ini yang saya peroleh dari business2community.com. Masing-masing informasi yang mereka peroleh itu persis seperti keping-keping puzzle. Mereka harus berusaha mengumpulkannya, menyeleksinya lalu menyusunnya menjadi satu bagian besar yang utuh.

puzzle-04
sumber gambar:science-all.com

Sekalipun terkesan remeh dan sederhana, kemampuan ini adalah kemampuan standar yang harusnya dimiliki oleh setiap lulusan perguruan tinggi. Untuk semua jenjang, berlaku sama. Dalam kehidupan tidak selalu semua informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah (problem solving) maupun pekerjaan lainnya datang dalam bentuk sesuatu yang utuh. Padahal untuk menyelesaikan dengan benar seringkali kita memerlukan informasi yang lebih lengkap dari yang sudah kita terima.

Ketidaklengkapan informasi ini sendiri menjadi peluang bisnis bagi banyak pihak. Contoh sederhananya adalah profesi wartawan, mereka mengumpulkan, menyeleksi dan merangkai berbagai informasi yang diterima menjadi suatu berita yang baik yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Begitu juga banyak jasa konsultasi yang mendasarkan bisnisnya pada upaya pengumpulan informasi bagi para client. Sayangnya bagi para engineer, technologist maupun technician, kemewahan berupa bantuan dan sokongan penuh dari para konsultan seperti itu tidak selalu bisa didapatkan. Misalnya karena nilai keekonomian pelayanan pengumpulan dan pengolahan informasi itu tidak dapat disetujui (unjustifiable). Seringkali bahkan informasi dari pihak ketiga yang telah berupaya mengumpulkan dan menyarikan informasi primer masih perlu dibandingkan dan diolah dengan sumber-sumber informasi lain.

Saya melihat kemampuan mencari, membandingkan, menyeleksi menyusun dan menggabungkan berbagai (sumber) informasi menjadi satu bagian besar yang utuh masih cukup lemah pada diri saya sendiri. Sayangnya saya juga melihat kelemahan ini pada cukup banyak pihak. Tentu saja saya bisa tidak peduli, toh itu orang lain. Tetapi dalam suatu tim, meskipun tim yang sangat besar, ini berisiko. Bukankah ada ungkapan;

A chain is only as strong as its weakest link.

Kemampuan untuk menyusun berbagai kepingan puzzle informasi dalam berbagai tingkat adalah keterampilan mutlak dari komponen suatu bangsa di era banjir informasi, bisa surfing di atasnya atau tenggelam bersama. Anak-anak muda ini sungguh-sungguh harapan masyarakat dalam pengertaian yang sesungguhnya. Jika nanti mereka gagal berjaya juga, kaum tua juga akan ikut menderita, bahkan mungkin akan lebih menderita dari kaum muda yang masih lebih berkemampuan.

Dalam tulisan yang sebelumnya (di sini) saya menuliskan kembali makna illiterate di dunia modern menurut Alvin Toffler, kemudian saya menyambungnya dengan bagian korelasi dan kausalitas. Menyusun keping-keping puzzle informasi itu menuntut kemampuan untuk paham tentang korelasi dan kausalitas untuk masing-masing bahasan. Sebaliknya dengan semakin sering berlatih menyusun keping-keping puzzle informasi kita sebenarnya semakin melatih keterampilan untuk melihat korelasi dan kausalitas antar bagian dari informasi yang kita kumpulkan. Ini mengurangi kebiasaan untuk menganut cocoklogi/cocokologi maupun gathukologi. Walaupun tidak semua yang masih bersifat spekulatif itu salah, hipotesis atau dugaan awal misalnya. Ini adalah sebuah titik awal atau kerangka yang memungkinkan dan memudahkan untuk menelaah dan menjelajah lebih lanjut.

N388
sumber gambar:harriscomm.com

Manfaat praktis lain dari latihan menyusun keping-keping puzzle informasi adalah kemampuan untuk dapat lebih melihat susunan informasi sebagai suatu gambaran yang lebih besar, lebih utuh. Cerita tentang gajah dari sengketa para tuna netra (yang difabel sejak lahir atau belum pernah meilhat citra gajah sebelumnya) adalah cerita yang sangat menarik dan analogi yang dahsyat. Tapi saya simpan untuk lain waktu saja. Intinya adalah seringkali kita tidak mampu melihat suatu (keping) informasi adalah suatu bagian dari sesuatu yang lebih besar. Informasi itu menjadi terisolasi, terasing seolah olah tidak ada korelasi, hubungannya dengan informasi yang lain. Padahal yang sebenarnya adalah kebalikannya, justru berhubungan satu sama lain. Pola ini berlawan arah dari cocoklogi/cocokologi atau gathukologi yang malah berusaha memaksakan agar dua hal yang berbeda dan tidak berhubungan menjadi suatu aliran informasi yang memiliki benang merah yang sangat kuat dan jelas. Phew!

 

Salahmu sendiri

MEMBACA

Sampai awal bulan ini (Maret) saya memberi para mahasiswa bimbingan saya target bahan bacaan. Sesuatu yang tampaknya dibenci banyak mahasiswa. Apalagi bahan bacaan itu (“kebetulan”) hampir semuanya berbahasa asing. Usahanya menjadi dua kali lipat, membaca untuk berusaha memahami dan (karena itu) sampai perlu membuka kamus atau menggunakan Google Translate.

2016-03-12_10-29-44

Tujuannya tentu bukan gaya-gayaan atau untuk keren-kerenan. Ini sebenarnya langkah dan tugas yang amat biasa di sistem yang lebih maju dalam sains dan teknologi. Saat tuntutan kemajuan dan kemampuan bersaing jauh lebih tinggi daripada sekedar membela kemalasan. Terlebih lagi bentuk kemalasan yang minim mendorong kemajuan. Contoh bentuk “kemalasan” yang mendorong kamajuan adalah remote control dan wireless phone (kemudian cell phone lalu smartphone). Budaya membaca dan belajar memang belum menjadi bagian dari budaya dan peradaban di sebagian masyarakat kita di Indonesia, jujur saja lah.

Ada beberapa tujuan yang bisa saya kemukakan dari tugas baca seperti pada gambar screenshot di atas. Pertama tentu saja agar mahasiswa yang mengerjakan tugas akhir memahami terlebih dahulu peta lebar pekerjaan yang akan dilakukannya. Dengan kata lain overview. Keduaownership. Di banyak tempat, sudah biasa bahwa Tugas Akhir / Skripsi adalah pekerjaan dari mahasiswa sepenuhnya. Mereka lah yang mati-matian berjuang dari awal sampai akhir, berjibaku. Konon di negara maju, kemandirian pengerjaan tugas sekolah/perguruan tinggi relatif amat tinggi, didukung dengan sumber bantuan seperti Internet, perpustakaan dan workshop. Ini pantas ditiru, langkahnya antara lain dengan banyak membaca bahan-bahan yang relevan dengan apa yang akan dikerjakan. Baik yang berkenaan langsung maupun bahan bacaan yang sifatnya mendukung. Terkadang bahan bacaan yang tidak langsung membahas apa yang akan dikerjakan oleh mahasiswa malah menjadi bahan yang mendasari dan menjadi bahan yang fundamental untuk karya yang akan dihasilkan. Bahasan yang bersifat filosofis umumnya menjadi bahasan dalam golongan ini. Sedari awal mahasiswa dilatih untuk memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap pekerjaannya dengan berinvestasi waktu dan sumberdaya lainnya pada bahan-bahan belajar yang menjadi dasar dari pekerjaaannya.

Ketiga, mahasiswa (siswa perguruan tinggi) yang telah lulus seharusnya telah berhenti menjadi pembeo. Orang yang hanya menuruti apa kata orang lain begitu saja tanpa pengkajian sama sekali, sekalipun itu sesungguhnya adalah kajian dalam bidangnya. Terlebih lagi sekedar mengekor sumber yang tidak terpercaya. Keprihatinan cukup banyak pihak juga menjadi keprihatinan saya, budaya membaca dan belajar masih sangat rendah. Karena itu, melalui tugas membaca sumber-sumber bacaan mahasiswa dilatih untuk mengacu pada sumber-sumber yang relatif dapat dipercaya, sumber-sumber primer dan sekunder. Sumber-sumber yang lebih dekat ke asal informasi dan mengurangi distorsi informasi yang tidak perlu.

Mahasiswa juga dilatih untuk memperbandingkan informasi yang datang dari berbagai sumber mengenai hal yang sama. Mengurangi kebiasaan membeo untuk hal-hal yang semestinya ditelusuri terlebih dahulu. Hal-hal yang sebenarnya merupakan bagian dari bidang pekerjaannya. Ini seperti mengumpulkan kepingan puzzle, memilih dan menyusunnya. Detail informasi sering perlu disusun sedemikan rupa agar menjadi gambaran yang pas/tepat dari sesuatu yang lebih besar. An overview, a bigger picture. Suatu keterampilan yang diperlukan kalau mau bersaing di bidang pekerjaan engineering di level lulusan perguruan tinggi. Salah itu biasa, tetapi kesalahan yang berasal dari keengganan akibat tidak terlatih adalah suatu pola. Pola yang merugikan dan berbahaya, termasuk di antaranya tidak terbiasa membandingkan sumber informasi.

 

BERLATIH BENAR DAN SALAH

Setelah fondasi membaca berbagai bahan bacaan untuk mendapatkan gambaran besar (overview) dari pekerjaan, berlatih untuk peduli terhadap pekerjaan yang dilakukan, mampu mencari kemudian membandingkan dan menyusun kepingan-kepingan informasi, maka langkah selanjutnya (dengan tetap meneruskan kegiatan membaca dengan intensif) adalah untuk berlatih melakukan pemrograman perangkat.

Kebetulan bimbingan saya tahun ini memiliki dasar penggunaan sistem yang sama, ada bagian pekerjaan yang seragam. Ini memudahkan proses belajar bersama. Keempatnya menggunakan sistem dengan komponen utama mikrokontroler. Komponen ini memerlukan pemrograman perangkat lunak untuk dapat beroperasi dengan benar sesuai yang dikehendaki.

Sebagaimana bagian lain, ada banyak sisi yang bisa menjadi cerita menarik yang dapat diangkat dari pekerjaan ini. Kali ini sisi yang dapat disebut sebagai “berlatih salah”. Tapi sebelumnya, ada baiknya untuk menyampaikan bagian yang benar, manfaat berlatih software programming, terlebih dahulu.

Ada banyak manfaat yang bisa didapat dengan belajar melakukan pemrograman. Di negara-negara maju, bahkan anak-anak sudah diajari dan dilatih untuk melakukannya. Ini sebenarnya, IMHO, bukan tentang program komputer, tetapi justru lebih tentang manusianya, tentang kemampuan berpikir [1]. Saya mengakui sebagai seorang amatir dalam hal ini, tetapi bahkan sebagai amatir sekalipun ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan pemrograman perangkat lunak (software) ini, yang bahkan tidak selalu mengenai software.

Misalnya, dengan berlatih melakukan pemrograman, kita akan lebih akrab dengan konsep what-if, bagaimana seandainya jika. Ini bagian penting dari kegiatan pemecahan masalah, perencanaan dan kreatifitas secara umum. Bagaimana jika ini yang dilakukan, apa akibatnya? Bagaimana jika yang terjadi sesuatu yang tidak justru tidak ingin diperoleh, apa antisipasi yang dapat dilakukan? Hal-hal seperti ini dapat dilatih dengan menggunakan branching (percabangan) pada flow control (pengendalian aliran program). Misalnya dengan if statement atau switch statement. Berlatih mengantisipasi dengan berandai-andai dalam pemrograman itu bukanlah lamunan pengandaian yang kosong. Ini justru melatih kesigapan pikiran. Melatih memperkirakan apa yang mungkin terjadi, apa antisipasinya. Setidaknya berlatih tabah dan tidak terkejut kalau sesuatu yang diperkirakan benar-benar terjadi tetapi kuasa kita atasnya amatlah kecil, hehehe.

Selain itu, masing dengan flow control, kita bisa berlatih meringkas. Berlatih melakukan otomasi proses yang sama yang berlangsung berulang-ulang. Kita bisa melakukannya dengan looping, seperti do dan/atau while, atau dengan for loop statement. Kita berlatih untuk mengidentifikasi hal-hal yang berlangsung berulang-ulang dan dapat diringkas menjadi suatu yang bersifat otomatis. Berlatih menggabungkan bagian yang sesungguhnya sama dari banyak proses yang berbeda.

2016-03-12_09-34-21c

Gambar tepat di atas paragraf ini adalah contoh hasil kompilasi dari listing program yang salah, kode yang salah. Kompiler memberikan pesan bahwa terjadi kesalahan sehingga program gagal dikompilasi. Ada dua bentuk kesalahan dalam pemrograman, yaitu kesalahan syntax dan kesalahan logika. Kesalahan dalam bentuk pertama secara umum biasanya dapat lebih mudah untuk ditangani, diperbaiki. Sekalipun belum tentu compiler menunjukkan letak tepat dari sumber kesalahan dalam bentuk kesalahan syntax tetapi setidaknya compiler telah berusaha menunjukkan bagian program yang menyebabkan kesalahan. Hal yang berbeda untuk kesalahan dalam bentuk kesalahan logika dalam melakukan pemrograman. Kadang saya menyebut bentuk kesalahan ini sebagai kesalahan gagal pikir. Secara tradisional compiler dikatakan sangat terbatas atau bahkan sama sekali tidak memeriksa bentuk kesalahan logika dalam kode program. Meski terbatas, salah satu perangkat bantu untuk mengurangi kesalahan adalah lint, keterangannya bisa dibaca di tautan ini dan di sini.

Rencananya sebagai awalan, setelah fondasi pemrograman diperkirakan cukup dilatih, saya akan belajar bersama dnegan mahasiswa bimbingan TA mengenai kelasahan dalam bentuk syntax error, seperti pada gambar. Bentuk kesalahan ini lebih sederhana, dan seperti manusia yang baru belajar yang umumnya belajar merangkak terlebih dahulu sebelum belajar melangkah tegak dan kemudian berlari, begitu pun pelajaran ini akan dilakukan.

Apa pentingnya kesalahan ini justru dilatih? Jawabannya sederhana, seperti dalam banyak hal di dunia nyata ada sejumlah skenario kesalahan yang sengaja dilatih. Dengan simulator, para pilot pesawat terbang berlatih penanganan kegagalan mesin saat penerbangan. Pasukan anti teror berlatih situasi penyanderaan. Pemadam kebakaran berlatih melakukan upaya pemadaman di gedung bertingkat. Semuanya menuju pada kesiapan dan kesigapan pada saat situsai yang sebenarnya terjadi. Mereka mengurangi kemungkinan gagap dan bahkan gagal berfungsi dengan baik saat situasi yang sebenarnya terjadi. Begitu pun untuk kegiatan pemrograman ini, berlatih agar siap dan sigap, agar terbiasa mengatasi kesalahan yang mungkin terjadi.

Bentuk syntax error dapat terjadi karena kita tidak/belum mengetahui bagaimana melakukan penulisan kode yang benar. Hal ini dapat diatasi dengan banyak mambaca dan menonton sumber-sumber yang relevan. Hal yang sudah dibahas di bagian awal tulisan ini. Kesalahan juga bisa terjadi karena kurang berlatih, itulah yang diusahakan ditangani dengan latihan ini.

Berlatih salah dengan sengaja dalam pemrograman, dalam waktu dan tempat yang tepat, sangatlah penting. Kita perlu berlatih sedapat mungkin dalam batas proporsional untuk dapat menerjemahkan dengan baik pesan kesalahan oleh compiler. Ini mempercepat proses perbaikan (debugging) dan menghindarkan rasa frustasi yang tidak perlu. Frustasi dapat menyebabkan kondisi emosional yang tidak baik yang justru akan mengganggu proses pengerjaan Tugas Akhir dan pekerjaan lainnya.

Salah satu manfaat lain dari berlatih pemrograman perangkat lunak komputer (dalam berbagai bentuk perangkat fisik) adalah berlatih untuk bertanggung jawab secara proporsional. Misalnya, saat kita berlatih syntax suatu bahasa pemrograman kita sedikit banyak terlatih secara otomatis untuk mengingat bagian-bagian yang paling sering kita lakukan dan bagian yang terpenting. Saat kita melakukan kesalahan menulis syntax kode karena lupa, kita tidak bisa menyalahkan orang lain. Dengan asumsi tidak ada gangguan luar yang signifikan, kita yang menulis sendiri kode itu, kita lah yang secara umum bertanggung jawab atasnya. Apalagi kalau kesalahan itu terjadi karena kita kurang rajin membaca, kurang rajin mati-matian belajar. Ini adalah suatu bentuk latihan yang baik. When you learn to code, you and you alone are the master of your own code.

 

Footnotes    (↵ returns to text)

  1. Marina Umaschi Bers is a professor both of child and human development and of computer science at Tufts University. “Our research shows learning how to program has an impact in improving sequencing skills,” she told me in September. “If you get better at sequencing, it has a measurable positive effect on reading comprehension. A parent can have their kid engage in coding with the knowledge that a lot of kids won’t become programmers, but there is this broad-based benefit.”
    http://www.npr.org/sections/ed/2016/01/12/462698966/the-president-wants-every-student-to-learn-computer-science-how-would-that-work

Untungnya masih suka (nonton) sepak bola

 

Di dunia kecil yang terlalu cinta keseragaman tanpa alasan selain sekedar solidaritas lokal, sakit dan sengsara bersama, saya bersyukur banyak orang masih suka menonton sepak bola. Di antara banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dari sepak bola, kemampuan individu yang disenergikan dengan baik adalah salah satunya. Ini tontonan paling vulgar dari kemampuan individual, keunggulan pribadi yang bukan hanya diapresiasi dengan bayaran tinggi tetapi juga dirayakan banyak orang.

Tengoklah video-video yang dirujuk pada link-link berikut. Saat-saat zaman keemasan Ronald Koeman, tendangan gledek Roberto Carlos, tendangan lengkung David Beckham, kumpulan pamer skills dari Zinedine Zidane, gaya gocek Messi, sampai betapa mengesalkannya Inzaghi.

Masing-masing dari mereka punya kelebihannya sendiri-sendiri. Menyamakan Inzaghi dengan Cristiano Ronaldo, tentu tidaklah pas benar. Tetapi keduanya efektif punya daya bunuh dengan caranya tersendiri.

Para pemain bola punya caranya sendiri-sendiri untuk membantu timnya menang. Mau tendangan bebas, mau dribbling, mau tendangan jarak jauh, mau mengandalkan tandukan  untuk memperoleh gol terserah lah. Silakan dengan kemampuan terbaik dan spesialisasinya masing-masing.

Semuanya dengan satu tujuan, mencapai kemenangan. Perpaduan (sinergi) dari yang berbeda-beda itu lebih baik daripada kompak sama seragam salah arah. Kompak cuma duduk di pinggir lapangan atau cuma menonton dari tengah lapangan saat sebenarnya mampu berkontribusi itulah salah satu bahaya yang sesungguhnya, bukan perbedaan keunggulan.

Setidaknya masyarakat ini sebagian besar masih suka menonton sepak bola. Masih bisa paham bahwa ada yang lebih penting dari skill yang seragam sama persis, antara lain kemauan dan kehendak kuat untuk menang untuk menjadi lebih baik. Bahwa ada hal-hal yang lebih mendasar, misalnya kemauan untuk berkontribusi mencapai kemenangan tim dengan cara-cara yang masuk akal. Misalnya dengan cara mau mengejar bola atau memberi operan yang terarah, bukan dengan cara membakar dupa di tengah lapangan. Bukan pula hanya melakukan tugas spesifiknya tapi juga peduli dengan unjuk kerja (anggota) timnya, seperti video para goal keeper yang marah ini.

Analogi seperti ini masih bisa dipakai, kecuali kalau memang penghobinya sekalipun hanya sibuk berebut sebuah bola.

 

Sumber gambar: UEFA

Penghalang kemajuan, tak lagi tentang buta huruf

…mencerdaskan kehidupan bangsa…

Dahulu, barangkali ada fase perjuangan pendidikan yang menitikberatkan pada kesadaran mengapa kita perlu bersatu sebagai sebuah bangsa untuk bisa merdeka. Lepas dari penjajahan fisik oleh bangsa dari negara asing. Lalu setelah itu berjuang agar setidaknya sebagian besar anggota masyarakat bisa baca tulis, tidak lagi buta huruf. Lalu apa selanjutnya?

 

BUTA HURUF MODERN

Seperti pada gambar di bawah ini Alvin Toffler menyatakan bahwa:

The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn. Alvin Toffler

 

Pengertian literasi (literacy / melek aksara) di dunia yang sudah banyak sekali aktivitas kehidupan dilakukan dengan cepat ini sudah bergeser. Literasi tidak lagi sekedar kemampuan dan keterampilan membaca dan menulis. Tetapi juga sudah termasuk pada penguasaan bagian-bagian dari sains dan teknologi, pada pemecahan masalah dengan pengetahuan yang dimiliki [1].

Lebih jauh jika merujuk pada ungkapan Alvin Toffler di atas, di dunia modern orang yang buta huruf bukanlah (hanya) orang yang benar-benar tidak bisa membaca dan menulis, tetapi bahkan termasuk mereka yang tidak dapat belajar, unlearn, dan belajar kembali.

Kata learn dalam bahasa Inggris mungkin lebih mudah untuk diterjemahkan dan dipahami. Kata learn  berarti belajar, relearn artinya belajar ulang. Nah yang menurut saya perlu usaha ekstra adalah memahami kata unlearn. Menurut saya kata unlearn tidak dapat begitu saja diterjemahkan menjadi “tidak belajar” atau “berhenti belajar”. Yang lebih cocok adalah penjelasan bahwa unlearn itu adalah suatu upaya atau proses untuk menghilangkan atau membuang suatu pengetahuan yang pernah kita miliki atau pelajari. Misalnya, kita sudah terbiasa untuk belajar pelajaran di sekolah hanya dengan cara menghafal buta karena dulu begitulah cara kita memulai belajar, nah saat kita sudah mengetahui bahwa cara ini salah maka kita mulai perlu unlearn. Kita perlu membuang kebiasaan lama yang salah itu. Setelah punya kesadaran itu, tahap berikutnya adalah mempelajari cara yang baru untuk hal yang sama, relearn. Misalnya untuk contoh ini, relearn cara belajar yang lebih efektif dari yang biasa kita lakukan, menghafal buta.

Berdasarkan pemahaman itu, mereka yang tidak pernah berubah, tidak berevolusi selama belasan atau bahkan puluhan tahun di era modern ini bisa jadi tergolong sebagai illiteratesekalipun ia bisa baca tulis bahkan dalam banyak bahasa.

Banyak hal di dunia ini yang memang cepat sekali berubah, terutama yang berkaitan dengan teknologi. Tantangannya adalah, teknologi itu masuk ke dalam hampir semua aspek kehidupan dan peradaban manusia. Karenanya peradaban pun terdorong untuk lebih cepat berubah.

Generasi saya di banyak tempat pernah mengalami peralihan dari mesin ketik sampai ke tablet. Pernah mengalami transisi dari telepon yang menggunakan rotary dial sampai telepon pintar dengan touchscreen. Dari komputer PC desktop kotak besar, sampai ke laptop, bahkan sekarang sudah mulai beredar komputer yang cuma sedikit lebih besar dari ukuran jempol (Intel Compute Stick). Beberapa orang dari generasi terdahulu yang sekarang masih hidup sempat mengalami sendiri era saat memprogram komputer dilakukan dengan menggunakan kartu berlubang. Yang dulu sempat belajar pemrograman komputer dari Quick Basic, Pascal, VB6, Delphi, Java sampai Python, sempat merasakan bagaimana sebagian pemahaman dan keterampilan berlanjut dan sebagian mesti diganti.

Zaman berubah, duduk santai di tengah jalan hanya berarti menyediakan diri untuk dilindas. Yang tetap begitu-begitu saja selama belasan bahkan puluhan tahun sebenarnya menjadi sangat bergantung pada lingkungan sekitar yang terdekat. Ini golongan yang paling rentan akan bahaya berbagai bentuk tsunami yang datang, saat ekonomi dibangun tanpa lokomotif yang terus diperbaharui, kondisi menjadi riskan. Saat Apple dan Samsung berperang dengan rilis produk baru saat yang sama kita meriang karena harga batu bara anjok. Negara-negara maju itu tampaknya selalu sibuk untuk mencari the next big thing, sementara negara-negara tertentu sekilas tampak merasa sudah cukup dengan apa yang ada. Sampai suatu saat ketika tsunami itu datang.

 

KORELASI DAN KAUSALITAS

Selain kemuan dan kemampuan untuk terus belajar dan mengganti cara dan pemahaman lama dengan yang lebih efektif tantangan kemajuan lainnya adalah tentang penghormatan yang tinggi pada korelasi dan kausalitas.

Sebenarnya bagian ini layak menjadi yang pertama, mendahului hal tentang literasi. Tetapi tanpa literasi, tanpa kemampuan membaca dan menulis, konsep korelasi dan kausalitas akan lebih sulit untuk diterima. Dan tanpa kemampuan untuk learn, unlearn dan relearn konsep ini akan jauh lebih sulit diterima, karena orang cenderung akan selalu nyaman dengan konsep lama yang dipegangnya, suatu yang sebenarnya masih manusiawi.

Korelasi dapat berarti suatu teknik khusus dalam bidang statistika [2]. Namun kita bisa mencoba mengambil esensinya tanpa perlu terjebak dalam detail teknik statistika, korelasi adalah keterhubungan antara satu hal dengan hal lainnya. Korelasi akan menjadi penghantar yang baik untuk konsep selanjutnya yaitu kausalitas.

Korelasi dalam bentuknya yang sederhana berperan penting untuk memerangi gathukologi, penghubungan paksa antara satu hal dengan hal yang lain. Pengenalan konsep sederhana korelasi mendorong orang untuk lebih bersedia menerapkan cara berpikir ilmiah dalam kehidupan sehari-hari. Untuk bersedia memikirkan apakah benar ada hubungan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain, meski belum tentu dalam bentuk hubungan sebab-akibat. Entah apakah korelasinya positif ataukah negatif.

Pemahaman dasar tentang korelasi berperan penting dalam mengamankan keterbukaan pikiran, suatu hal yang utama dalam sains. Dalam sains dan juga kehidupan, berpikiran terbuka sangatlah penting. Ada yang mengatakan pikiran itu seperti parasut, hanya akan berfungsi baik jika terbuka. Tetapi sebagai keseimbangan, berpikir terbuka tidak berarti kita percaya dan setuju pada semua hal, pada semua klaim. Seperti yang dinyatakan ulang oleh ilmuwan Carl Sagan;

Keeping an open mind is a virtue—but, as the space engineer James Oberg once said, not so open that your brains fall out.Carl Sagan

Dalam kaitannya dengan berpikir terbuka, konsep sederhana tentang korelasi berfungsi seperti rem yang menjaga kita tetap dapat melaju dengan aman menuju tujuan. Tanpa konsep dasar korelasi, bangunan sains akan tidak akan terstuktur baik seperti sekarang. Banyak hal hanya akan berlandaskan pada pijakan yang lemah, hasil lamunan semata dan pencocokan yang ngawur.

Setelah korelasi (hubungan, relationship) berikutnya adalah kausalitas (sebab akibat). Hubungan sebab akibat adalah bentuk khusus dari korelasi. Tidak semua hubungan dalam korelasi adalah hubungan sebab akibat. Inilah bagian yang memang mudah untuk disalahpahami. Ada banyak bahasan bagus mengenai hal ini, bagaimana dua hal yang berhubungan (correlated) tidak selalu merupakan hubungan sebab akibat. Dengan bantuan Google, carilah kalimat serupa ini:
Correlation vs. Causation atau correlation does not imply causation.

 

sci4

Pada gambar di atas, misalkan ditemui bahwa saat konsumsi ice cream meningkat maka saat itu juga angka orang yang tenggelam (drowning) meningkat. Tentu saja untuk contoh ini kita dapat mudah memahami bahwa angka orang yang tenggelam meningkat bukan sebagai akibat dari konsumsi ice cream, demikian pula sebaliknya jumlah konsumsi ice cream tidak meningkat sebagai akibat banyaknya orang yang tenggelam. Ada faktor lain di sana, faktor musim panas (summer). Sebagai akibat musim panas banyak orang yang mengkonsumsi ice cream dan di periode yang sama banyak orang yang berenang, dan karenanya jumlah orang yang tenggelam (drowning) meningkat. [3]

Contoh lain pada gambar berikut ini dapat mempermudah pemahaman tentang korelasi dan kausalitas (sumber: moz.com) >>Correlation vs. Causation (A Mathographic)

 

KEMAJUAN TANPA SEBAB

Baiklah, setelah mencoba memahami dasar tentang korelasi dan kausalitas, lalu apa? Apa hubungannya dengan kemajuan (atau penghalang kemajuan)?

Yang saya perhatikan langsung maupun tidak langsung dari berbagai macam bentuk media, penghormatan selayaknya terhadap kausalitas di masyarakat kita masihlah rendah. Bah, apa pula kausalitas perlu dihormati segala? Mungkin itu yang ada di benak sebagian pembaca. Mari kita buka sedikit lagi, pernahkah anda melihat kecelakaan di jalan raya lalu yang disalahkan adalah si komo atau mungkin juga macet gara-gara si komo? Untuk contoh se-vulgar itu, mudah bagi bayak orang untuk spontan bertanya, “Apa hubungannya?” Atau, “Ah ada-ada saja.”

Yah contoh pada paragraf sebelum ini adalah contoh yang vulgar, gampang dipikirnya. Tapi coba perhatikan banyak contoh lain yang tidak se-hitam-putih contoh itu. Saat pesawat terbang jatuh, saat gedung roboh, saat jembatan runtuh, saat malapraktik, sudahkah kita mengusut penyebabnya dengan mengacu pada pemahaman akan korelasi dan kausalitas? Bayangkan saat mahasiswa teknik elektronika menyalahkan tahun monyet sebagai biang kerok kesalahannya sendiri dalam memasang kabel penghubung. Bayangkan juga saat mahasiswa teknik sipil menjadikan zodiaknya yang sedang tidak bersinar minggu ini sebagai kambing hitam salah hitung di mata kuliah mekanika teknik. Mau jadi apa kita?

Benar bahwa sains dan teknologi (dan karenanya engineering) belum bisa memberikan jawaban tepat untuk semua pertanyaan yang pernah diajukan manusia. Tetapi jangan lupa, pertama, sejak puluhan tahun selalu ada progress yang nyata yang bisa dilihat dan dirasakan hasilnya. Kedua, yang sudah diketahui pun sudah banyak, sangat banyak. Yang itu saja jika diperhatikan dan diamalkan dengan benar akan mendatangkan manfaat yang amat besar. Jangan memperbodoh generasi masa depan dengan kekonyolan yang teramat sangat, seperti juga generasi terdahulu toh bahkan tidak mau mewariskan nasib buta-hurufnya kepada kita yang belakangan datang di bumi.

Dalam bidang sosial-politik (sebut saja begitu) contoh paling gampang adalah kebiasaan untuk melempar batu pada setan yang paling dianggap nyata. Dulu zaman orde baru, satu-satunya orang yang menjadi musuh adalah Pak Harto. Seolah-olah jika beliau jatuh, masalah selesai. Kenyataannya kan tidak, tidak segampang itu analisisnya. Awalan tidak boleh menjadi akhiran untuk hal semacam ini. Lalu yang sekarang dianggap pendosa tunggal adalah Presiden Joko Widodo. Semua-semua pokoke salah Jokowi. Edyan.

Dalam lingkup yang lebih kecil, penghargaan yang kurang pada korelasi dan kausalitas akan membuat orang, misalnya, malas membaca, malas belajar. Karena orang menganggap kemajuan yang bisa didapatnya bukan karena (dan/atau bahkan tidak ada hubungannya) dengan proses membaca dan belajar. Dengan pemahaman yang salah seperti itu akan menjadi lumrah jika ada orang yang beranggapan bahwa sukses tahun ini bisa diraih hanya karena tahun ini bertepatan dengan shio monyet. Sekonyol itu.

Katakanlah ini pemahaman dari satu orang, bagaimana jika yang berpikiran begitu ada seribu orang atau lebih? Apa jadinya? Dapatkah kita sebagai bangsa dan negara bisa maju tanpa sebab? Bangsa mana yang bisa kita contoh sebagai model yang berhasil dengan metode simsalabim seperti itu?

Saat tulisan ini saya kerjakan ada heboh tentang kopi beracun. Sekedar simulasi coba bayangkan pembela si A yang sudah sah terbukti dan mengakui menaruh racun di kopi si B melakukan pembelaan yang “ajaib”. “Benar client saya memang menaruh racun di kopi si B. Tapi apa hubungannya antara racun dalam kopi dengan kematian si B? Tidak ada hubungan antara minum racun dengan kematian seseorang!” #jrenggg. Itu dialog rekaan yang amat dahsyat, tapi tidakkah kita memang berpola seperti itu?

Kita ingin maju, ingin mengelola sumber daya alam secara mandiri, ingin punya cukup modal untuk mengelola alam kita. Kita tidak ingin dijajah bangsa asing, kita tidak ingin ini dan itu dan ini dan itu. Pertanyaannya sudahkah kita punya kesadaran bersama, kesadaran kolektif tentang apa-apa saja yang diperlukan untuk maju? Pengorbanan bersama (benar-benar bersama) apa saja yang perlu diberikan sebagai syarat mutlak? Atau maunya ribut saban tahun, anti asing dan aseng? Cuma itu?

Kalau USA, Jepang, China, Korsel bisa maju dan kita pun mengakui kemajuan mereka, sudahkah kita siap meniru mereka? Mengadopsi unsur-unsur yang menjadi faktor penting kemajuan mereka? Atau maunya gratisan lagi. Merasa bumi ini diwariskan pada kita, begitu saja?

Dari sedikit yang saya tahu salah satu ilmu paling dasar sebagai pendorong kemajuan mereka adalah penghormatan yang sangat tinggi pada korelasi dan kausalitas. Sederhananya; jika begini maka (akan sangat mungkin) akan begitu. Unsur keajaiban dan kemajuan berbasis proses acak tampaknya bukan menu utama mereka di negara-negara maju. Maju setahap demi setahap sambil melakukan perbaikan, sesekali mengambil risiko yang layak dengan melompat, itu yang mereka lakukan.

Mentalitas ini sepertinya tergambar baik bahkan pada kepercayaan tentang keberuntungan, sebagai mana yang diungkap jauh hari sebelumnya oleh Lucius Annaeus Seneca (c. 4 BC – A.D. 65):

Luck is what happens when preparation meets opportunity.Seneca

Kadang memang benar ada ikan yang jatuh dari langit, tetapi kalau lantas kita berharap ada hujan koin emas dari langit maka pertanyaannya kemudian adalah seberapa mungkin itu terjadi?

Selain tentang keberuntungan, prinsip yang sama juga berlaku tentang ketidakberuntungan. Saat tahun 1995 sebuah department store bernama Sampoong di kota Seoul, Korsel, runtuh maka pihak otoritas di sana tidak sebegitu konyolnya menuduh sihir hitam sebagai penyebabnya. Penyelidikan dilakukan dan penyebab bencana yang menewaskan sekitar 500 orang itu ditemukan. Cara pengelola gedung meletakkan dan memindahkan pendingin udara di atap bangunanlah yang menyebabkan retak yang kemudian malah diabaikan tanpa perbaikan.  Begitu pula saat pesawat ulang alik Challanger meledak pada tahun 1986, yang dituduh  sebagai penyebab bukanlah kekurangajaran manusia yang ingin menembus langit. Saat komite penyelidikan dibentuk, Richard Feynman, seorang ilmuwan Fisika teroritis yang menemukan penyebabnya (bisa dilihat di sini). Cincin berbentuk O (O-ring) yang ternyata menjadi material penyebab bencana.

Ada banyak contoh serupa ini yang terdokumentasikan dengan baik, bahkan dibuat dalam tayangan televisi yang naratif. Tontonan yang lebih mudah untuk dipahami. Beberapa bahkan sudah ada yang mengunggahnya di YouTube. Misalnya seri Mayday (atau dinamakan juga sebagi Air Crash Investigation(s) atau Air Disasters), sudah banyak diunggah di YouTube, hanya cukup menuliskan nama serialnya maka akan anda temukan cukup banyak episode yang bisa ditonton. Serial lain yang serupa tetapi untuk tema yang lebih luas (seperti tentang gedung dan jembatan) adalah engineering disaster. Seri dokumenter ini pun sudah banyak dijumpai di YouTube, silakan disaksikan. Dari dua serial dokumenter ini saja kita bisa belajar bagaimana (sebagian) orang di negara maju benar-benar menghargai korelasi dan kausalitas. Ada proses ada sebab dan ada akibat, entah sudah diketahui atau masih dicari. Tidak tiba-tiba ajaib begitu saja.

Bagi saya kurangnya penghargaan terhadap prinsip dasar korelasi dan kausalitas adalah penghalang kemajuan yang teramat nyata.

 

MEMBACA DAN BELAJAR 

Idealnya membaca dan belajar sebagai faktor kemajuan dibahas terpisah. Tetapi untuk cakupan artikel kali ini, sebaiknya disatukan saja dengan lingkup yang dibatasi. Lagipula bagi sebagian kita belajar dan membaca itu sudah seperti satu kesatuan. Padahal yang dibaca hanyalah komik Gerombolan Siberat, hahaha.

Baiklah, setelah literacy  dan korelasi serta kausalitas, pendorong kemajuan berikutnya adalah kemauan dan kebiasaan membaca. Dengan literasi kita paham bagaimana membaca dan menulis, bagaimana pentingnya belajar dan mengulangi pelajaran. Bahkan kita paham bahwa beberapa pelajaran harus dilupakan dan diganti dengan yang lebih baik. Kita berubah, kita berevolusi. Kita yang sekarang bukan kita yang sepuluh tahun yang lalu. Dengan korelasi dan kausalitas kita yakin apa yang kita lakukan (dan yang tidak kita lakukan) akan berdampak. Tidak ada yang ajaib, yang ada adalah yang belum dipahami, belum bisa dijelaskan. Ilmu bedah dan pengobatan medis yang tampak begitu mudah dan masuk akal bagi banyak orang sekarang, ribuan tahun yang lalu hal seperti itu akan dianggap sihir bin magic.

Kalau sudah yakin dengan apa-apa yang kita lakukan punya dampak, kalau sudah yakin bahwa alam ini bekerja dengan cara-cara tertentu yang terus menerus masih diusahakan untuk dipelajari umat manusia maka kita akan lebih tertarik untuk mempelajarinya. Salah satu cara yang paling efektif dari belajar adalah dengan membaca. Bayangkan kalau kita percaya seluruh proses di alam semesta (termasuk di bumi) ini bersifat acak. Akan lebih sedikit orang yang tertarik untuk mempelajarinya, karena toh “ilmunya” akan lebih banyak percuma, sia-sia. Orang belajar membuat  pesawat terbang agar bisa take-off dan landing dengan selamat itu karena orang percaya ada mekanisme alam tertentu yang kalau dipahami dan ditaati (atau diakomodasi) maka akan jauh lebih besar kemungkinan pesawat itu akan selamat daripada celaka. Logika sederhana yang enggan dipahami beberapa orang.

Minat baca di Indonesia yang masih rendah itu sudah rahasia umum. Cari saja beritanya di Internet, bahkan hasil penelitian yang dipublikasi pun ada atau perhatikan saja sendiri di kehidupan sehari-hari.

Sejujurnya saya pribadi sangat senang dengan fenomena smartphone dalam kaitannya dengan kegiatan membaca. Entah kenapa, membaca di tempat umum itu masih dianggap aneh. Beda dengan mendengar musik, nonton film atau bahkan bermain game. Dengan smartphone saya tidak lagi menarik perhatian di tempat umum, pura-pura saja bermain game atau menonton film, padahal sih sedang membaca buku.

Mengenai manfaat membaca berbagai bacaan bermutu yang memperluas wawasan itu sudahlah terlalu banyak yang membahas. Yang kurang adalah pelaksanaannya. Bagaimana mau mengungguli bangsa maju dalam sains dan teknologi kalau membaca saja sudah segan. Bagaimana dengan yang semacam YouTube atau Vimeo? Okelah kalau itu pembelaannya, tapi apa sih sebenarnya yang paling rajin ditonton?

Dengan membaca (dan sekarang plus lewat tayangan audio-visual) kita bisa belajar dari orang dan bangsa lain. Lagi; learn, unlearn and relearn. Tengoklah Jepang, mereka masih punya pedang samurai (katana) mereka masih punya kimono. Tapi apakah Jepang yang sekarang sama dengan Jepang seratus tahun yang lalu? Apa saja yang mereka pelajari, tiru, kembangkan dan sekarang unggul dari bangsa-bangsa Barat? Coba telisik bagaimana rata-rata minat baca orang Jepang, lalu bandingkan dengan Indonesia. Apakah kita sudah merasa perlu mengejarnya?

Budaya membaca paling strategis dikembangkan di perguruan tinggi. Inilah dojo, tempat akal pikir diasah. Apapun jenisnya murni akademik maupun vokasi. Yang membedakannya hanyalah titik beratnya. Khusus untuk engineering gambar berikut dari bunkclass dapat memberi gambaran perbedaan dan titik temu antara engineering technology  dan engineering (engineering science).

 

Saat menjelajah di Internet saya menemukan salah satu informasi yang menarik mengenai engineering technology, bahwa untuk dapat mengikuti pelajaran seseorang dituntut untuk memiliki kemampuan yang baik dalam membaca (www.pct.edu):

Students testing below MTH 005 are not permitted to take Electronics (EET) courses until MTH 004 has been successfully completed. Students testing deficient in three areas (mathematics, English, reading) are not permitted to take Electronics courses until remediation has been completed in all three areas. Students testing deficient in English and/or reading are required to remediate these areas during their first semester. Students testing into MTH 005 or MTH 006 are permitted to take first semester Electronics courses. Students need to be in MTH 180 or above in their second semester; otherwise, students need instructor permission to continue into a second semester Electronics course.

Jadi siapa bilang kemampuan membaca dan kemauan untuk rajin membaca itu tidak penting untuk mahasiswa teknik di jenis pendidikan vokasi (engineering technology)? Sayangnya untuk mahasiswa di jenis pendidikan apapun tampaknya budaya membaca ini belum luas diterapkan sehari-hari. Agak berbeda dengan budaya kongkow di pinggir jalan, hampir tiap hari ngalor-ngidul dipraktikkan, dan jadi semcam gaya hidup.

Tampaknya sejauh ini, tidak ada lagi tawar menawar untuk budaya rajin membaca dan belajar bagi kemajuan. Mau maju? Baca dan belajar!

 

PENGAJAR DAN MEDSOS

Konon kabarnya, #ehmmm, kontrak pengajar di Indonesia itu antara lain adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Itu pun bagi yang masih ingat, #ehmmm. Untuk itu tentu syarat pertamanya adalah kesadaran dan kemauan untuk mencerdaskan diri sendiri terlebih dahulu. Tetapi dengan kesadaran terhadap ruang waktu, kalau menunggu sampai usaha mencerdaskan diri sendiri sampai mencapai puncak, belum tentu banyak yang mampu. Bisa-bisa keduluan habis umur sebelum bisa mengajar. Karena itu menurut saya langkah yang lebih rasional untuk menjalankan tugas adalah dengan mengajar sambil selalu belajar dan karenanya memiliki mental sebagai pelajar.

Terus menerus belajar itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Terutama karena sebagai konsekuensi dari belajar, pelajar akan lebih mudah berada posisi yang vulnerable, posisi yang rentan. Untuk menjadi pelajar yang baik kita perlu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, pada titik tertentu perlu untuk bersikap sebagai orang yang masih bisa diajar (teachable). Ini yang sering berat bagi yang terbiasa merasa sudah tahu segalanya. Mereka yang sudah biasa menjadi sumber akan berpotensi mengalami kesulisan saat harus menjadi penerima. Untuk  bisa belajar dengan baik pikiran harus lebih terbuka, siap menerima. Siap mencoba sesuatu yang baru tetapi juga siap untuk mengganti bahkan membuang yang dulu pernah dengan susah payah dipelajari, siap untuk learn, unlearn and relearn.

Berbeda dengan belasan apalagi puluhan tahun yang lalu, sumber belajar online saat ini sudah begitu banyak. Dari MOOC (seperti EdX, Cousera, Udacity, MIT OCW), atau web site dari perguruan tinggi seperti Stanford, CornellUniversity of Michigan, Oxford, Cambridge, Yale, Berkeley. Bahkan bisa juga dari layanan video seperti YouTube. Dunia tampak mengecil dan banyak hal menjadi tampak lebih cepat.

Media sosial (medsos) seperti Blogspot, WordPress, Facebook, Twitter bahkan juga bisa menjadi sarana belajar. Menerima, memberi dan menyebarkan informasi menjadi relatif begitu mudah bagi lebih banyak orang sekarang. Persoalannya mau atau tidak. Di layanan jejaring sosial online sudah ada banyak kelompok peminatan yang berbagi informasi mengenai topik tertentu, mudah dijumpai. Mereka yang memiliki minat yang sama bisa saling berbagi. Ini potensi bagi para pengajar untuk terus belajar dan pada saat yang sama menyebar informasi.

Lewat Internet, misalnya orang bisa belajar bahasa Jawa, sekedar sebagai contoh. Tidak harus khusus pergi ke tanah Jawa, tutorial dan mentoring intensif pun bisa dilakukan lewat Internet. Potensi seperti ini tidak untuk diremehkan, buktinya hanya karena saya tinggal bertahun-tahun di Jawa belum tentu saya berhasil menguasai bahasa Jawa dengan baik. Sungguh-sungguh belajar walaupun hanya lewat Internet malah mungkin akan bisa mengalahkan orang yang berada secara fisik namun tidak benar-benar membuka pikiran dan panca inderanya untuk menyerap dengan baik.

Melalui media sosial, konsep literasi modern (learn, unlearn, relearn) dapat lebih mudah untuk disebarkan, lengkap dengan contoh dan argumen. Melalui berbagai berita, konsep sederhana tentang korelasi dan kausalitas yang menjadi fondasi sains dan teknologi modern dapat lebih mudah untuk dipahami. Begitu pula tentang pentingnya kemampuan dan minat baca bagi kemajuan pribadi dan bangsa. Dan akhirnya berita bagaimana masyarakat yang maju adalah masyarakat yang memiliki gairah untuk terus belajar, terus mengembangkan sesuatu yang baik, dapat menjadi pembanding untuk membangkitkan semangat. Kalau kita tidak ingin dikuasai dan didikte oleh bangsa asing, maka kita perlu maju. Dan untuk maju ada sejumlah syarat dan pengorbanan bersama untuk melaksanakannya. Tidak ada yang kemajuan yang ajaib didapat tiba-tiba, out of the blue, simsalabim.

Jepang jatuh bangun dalam mencapai kemajuan, tidak ada yang tiba-tiba, tapi itu bahan untuk tulisan di lain waktu. Kalau tidak bersedia melakukan langkah-langkah yang logis dan sistematis, saya khawatir kita hanya akan menjadi bagian dari ball and chain (seperti pada gambar di bagian paling atas). Bukannya menjadi bagian dari pendorong, kita malah menjadi bagian dari beban penghambat kemajuan.

Sudahkah kita berusaha dan berperan?

 

Udate terakhir: 7 Februari 2016

Footnotes    (↵ returns to text)

  1. What is Literacy?
    Defining literacy in our changing world is not easy. Several years ago, being literate meant being able to read and write a little. Now, being literate means being able to read and write at a level to be successful in today’s world and also being proficient at math, knowing how to use technology, and knowing how to solve problems and make decisions.
    http://literacy.kent.edu/Oasis/Workshops/facts/whatis_lit.html
  2. Correlation is a statistical technique that can show whether and how strongly pairs of variables are related. For example, height and weight are related; taller people tend to be heavier than shorter people. The relationship isn’t perfect. People of the same height vary in weight, and you can easily think of two people you know where the shorter one is heavier than the taller one. Nonetheless, the average weight of people 5’5” is less than the average weight of people 5’6”, and their average weight is less than that of people 5’7”, etc. Correlation can tell you just how much of the variation in peoples’ weights is related to their heights.
    Although this correlation is fairly obvious your data may contain unsuspected correlations. You may also suspect there are correlations, but don’t know which are the strongest. An intelligent correlation analysis can lead to a greater understanding of your data.
    http://www.surveysystem.com/correlation.htm 
  3. There is a well-established relationship between the consumption of ice cream (let’s say, measured in number of ice cream cones eaten), and the number of deaths by drowning. One can predict the number of drowning deaths from the number of ice creams consumed. However, ice cream consumption is not the cause of the drowning deaths (any more than the drowning deaths cause an increase in the amount of ice cream consumption). While ice cream consumption and drowning are correlated, the warm temperatures of summer are what lead to both increased ice cream consumption and the increased rate of deaths by drowning.
    http://www.openwindowlearning.com/topic/hypotheses-theories-laws/ 

Tidak diterima indekost

Saya baru saja selesai membaca tulisan yang menyampaikan semcam keluh kesah rekan-rekan setanah-air mengenai tindakan diskriminatif yang mereka terima. Sebaiknya, IMHO, tulisan tersebut tidak saya bagi di sini.

 

 

 

SULIT MENCARI TEMPAT INDEKOST

Salah satu poin yang disampaikan di tulisan itu adalah tentang bagaimana (sebagian dari) mereka kesulitan mencari kost (indekost). Ini poin yang berdasarkan sekelumit pengalaman pribadi saya, bisa diverifikasi. Artinya penulisnya (dengan bandingan pengalaman saya) tidak sekedar mengarang.

Sebenarnya keengganan menerima (maha)siswa yang hendak kost tidak hanya menimpa beberapa mereka yang berasal dari beberapa daerah di bagian timur Indonesia. Mereka yang berasal dari beberapa tempat di bagian barat Indonesia pun mengalami hal serupa. Hanya tampaknya tidak semenonjol berita mengenai penolakan mereka yang “berasal dari timur”.

Saya pernah mendengar sendiri. Memang jujur saja agak sulit menyalahkan para pemilik atau penjaga rumah kost atau kontrakan. Alasan mereka sering sulit ditolak. Misalnya ada yang diciri sebagai mereka yang suka ribut (dalam bersuara) bahkan hingga jauh malam, sering berkumpul (kedatangan teman-temannya sebagai tamu) hingga mengganggu penghuni dan tetangga yang lain, kadang mabuk-mabukan, gampang emosi dan berkelahi. Kalau ribut antar sesamanya saja sering sampai di jalanan. Yang ini saya pernah kebetulan pas sekali melihat dan mendengar ribut antara pria dan wanita, dari rumah sampai ke jalan.

Ada pula yang menulis (yang ini saya belum pernah mengetahui sendiri) bahwa mereka tidak bertanggung jawab. Kalau yang saya pernah dengar sendiri adalah persepsi bahwa mereka “lebih susah untuk diatur”. Untuk urusan ini bahkan yang dari daerah barat pun diciri dengan pola perilaku yang sama. Tidak peduli, tidak mau tahu dengan kenyamanan orang lain. Masih lumayan kalau kurang-lebih, ada lebihnya. Lha kalau yang ada kurang terus?

 

MEMISAHKAN DIRI

Saya bersimpati pada yang berusaha keluar dari “komunitasnya” dan mencari ketenangannya sendiri. Saya kenal secara pribadi beberapa yang begitu, dan … saya pun seperti itu. Ada yang menyampaikan ke saya bahwa dia tidak suka dengan lingkungannya yang terkesan tidak niat untuk belajar. Sering mabok tak terkendali, dan seterusnya. Sedikit kenakalan mungkin masih bisa ditolelir sebagai bagian dari perjalanan. Tapi kalau sudah jadi pola dan menu utama?

Tidak mudah untuk memisahkan diri, perlu kekuatan yang lebih. Mereka yang berjalan sendiri itu bisa dimusuhi teman sekampungnya. Saat bahaya (dalam bentuk apapun) mereka itu harus bertahan sendiri atau dalam kelompok yang jauh lebih kecil. Dari luar, mereka pun tidak mudah untuk diterima. Mereka terkena getah dari perbuatan orang-orang yang bisa jadi bahkan mereka tidak kenal sama sekali.

Biasanya kalau tidak menyamar sebagai bagian dari komunitas lain (bagi yang “beruntung”, terutama dalam hal penampilan fisik), ya mereka kost bersama teman kuliah yang sudah mengenal mereka sebelumnya. Teman ini menjadi semacam penjamin bagi mereka yang tergolong sebagai kelompok berisiko ini.

 

TIDAK MUDAH

Saya mengenal (cukup akrab) beberapa pemilik dan penjaga kost, tentu dalam jumlah sangat terbatas. Selain itu juga beberapa kali mendengar pembicaraan seputar masalah serupa ini. Yang perlu saya sampaikan di tulisan ini adalah bahwa saya belum pernah mendengar sendiri penolakan berdasar atas kebencian terhadap perbedaan penampilan fisik. Terutama di Yogyakarta (Jogja). Hanya alasan-alasan seperti yang sudah saya ungkap di atas, cuma seputar itu saja.

Ini memang menjadi sangat tidak adil bagi mereka yang tidak suka berbuat onar, tidak gampang marah sampai berkelahi fisik dan tidak suka rusuh. Pendeknya mereka datang dari jauh dengan niat baik untuk belajar, di kampus dan mengenal dunia lain selain yang sudah biasa mereka temui.

Juga harus bisa dipahami posisi dan sudut pandang dari pemilik dan (apalagi) penjaga indekost. Mereka mencari penghidupan dan kalau bisa bukan masalah tambahan. Seperti calon penghuni kost yang bisa memilih tempat yang ingin ditinggali, para pengelola kost pun memilih mana kira-kira calon penghuni yang mendatangkan keuntungan dan bukannya sejumlah masalah baru. Beberapa adil beberapa tidak, ya begitulah.

Yang bisa dilakukan oleh mereka yang sekarang tinggal di banyak tempat indekost adalah sebisa mungkin berbaik-baik kelakuan. Kalau anda-anda sering berbuat onar, berkelahi dan sejenisnya maka adik-adik tingkat dari daerah anda yang nanti akan sangat mungkin mengalami kesulitan. Menurut saya, orang Jogja masih sangat toleran. Dan sejujurnya saya masih lebih menghormati beberapa tukang parkir di Jogja bahkan dari yang bukan tukang parkir. Mereka yang saya tahu sangat friendly, tentu pasti tidak semua. Setidaknya itu Jogja yang saya tahu.

sumber gambar: http://greatadventure24.com/

Belajar dari PD I

Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.

~George Santayana

Mereka yang tidak mengingat sejarah akan dikutuk untuk mengulanginya. Begitulah ungkapan yang tampaknya masih lebih sering terbukti benar daripada salah. Dan salah satu bentuk pelajaran sejarah yang terpenting adalah sejarah peperangan yang dilakukan oleh umat manusia.

Perang yang pernah terjadi memberi banyak sekali pelajaran bagi generasi yang datang belakangan. Dan selalu saya katakan, generasi yang lahir dan besar di era Internet ini punya banyak sekali kesempatan untuk belajar dengan lebih baik dari generasi dari era sebelumnya. YouTube dan Vimeo memberikan banyak bahan pelajaran yang bahkan dikemas dalam bentuk hiburan. Kaum, golongan dan bangsa yang paling mampu banyak belajar, akan berpeluang untuk mendominasi dan menguasai bangsa lain yang enggan untuk belajar. Termasuk belajar dari peperangan di masa lalu.

Perang Dunia I adalah perang terbesar umat manusia. Dalam beberapa video berikut dapat dipelajari salah satu sudut pandang mengapa peperangan itu dapat disebut peperangan konyol yang tidak perlu.

Berikut adalah beberapa playlist yang menarik tentang PD I yang dalah ditemui di YouTube. Silakan klik tanda + untuk mempelajari cara pernggunaan playlist player berikut.

Penggunaan YouTube Playlist

Video utama yang siap dimainkan ada di sebelah kiri. Di sebelah kanan adalah daftar video (playlist) yang dapat dipilih untuk dimainkan (di bagian kiri). Pada bagian bawah terdapat panel yang berisi beberapa icon.

Agar tidak mengganggu tampilan playlist di sebelah kanan dapat disembunyikan dengan menekan icon  yang memiliki tooltip “Toggle Playlist” (  ).

Untuk menyaksikan tayangan secara penuh (fullscreen) anda dapat melakukan klik pada icon  ), “Toggle Fullscreen”.

Penyegaran >> berbagi file di Google Drive [pics]

Quick note ini sebenarnya sekedar penyegaran terutama untuk yang sudah pernah mencoba mengutak-atik, tinkering bagaimana cara mempergunakan Google Drive. Terutama bagaimana cara berbagi akses terhadap file kepada orang lain.

Yang paling penting adalah file yang di-share itu benar-benar dapat diakses oleh orang lain. Jadi untuk mencobanya terlebih dahulu perlu logout dari akun Google.

Silakan klik pada gambar untuk memperbesar tampilan.

Membaca Review >> Free Wolfram Programming Lab And Book

Kadang-kadang sebelum mengalokasikan waktu untuk tinkering kita perlu membaca beberapa review tentang sesuatu yang kita minati untuk pelajari. Ini semacam studi kelayakan (feasibility study) karena bagaimana pun waktu kita di muka bumi ini terbatas. Waktu yang diluangkan untuk mempelajari telaah beberapa orang seringkali lebih singkat daripada langsung mencoba tanpa pendahuluan sama-sekali. Salah satunya, misalnya telaah mengenai Wolfram Language ini.

Salah satu tindakan cerdas saat tertinggal, berada di barisan belakang, adalah mempelajari apa saja yang dialami oleh mereka yang sudah berada di depan. Kalau itu pun tidak dilakukan, akan rugi dua kali. Sudahlah tertinggal, dapatnya bisa jadi sisa-sisa dari yang di depan, akan celaka juga seperti yang sudah dialami oleh yang duluan. Membaca adalah kuncinya, sudah ratusan tahun resep itu tidak berubah. Sekarang ditambahi pula dengan yang semacam YouTube dan Vimeo (via vpn).

Wolfram has high hopes for its programming language and it is doing a lot to get attract attention to it. The real question is, will it go the final mile that is obviously needed to make it live beyond its current narrow confines.

wolframicon

Everyone seems to be impressed that Apple finally open sourced Swift and it has to be said that this succeeded in generating a lot of fresh interest in an otherwise unremarkable language. It seems that going open source, assuming you didn’t start out open source is something that companies are beginning to understand is essential to the success of a language. However, Wolfram Language is very very definitely closed source and proprietary.

Wolfram Language was really just the scripting language of Mathematica until suddenly Wolfram woke up to the fact that presented it as a separate entity it could somehow transcend the status of a proprietary math package.

The language itself is mostly unremarkable – a mix of list processing with optional functional and object-oriented programming features. You can write a Wolfram Language program using almost any paradigm you care to pick. It also features term rewriting which gives it the self modifying power of Lisp like languages. However when you are using Mathematica it isn’t really the quality of the language that attracts, it is the range of functions available.

wolflab3

What makes Wolfram Language powerful is that if you want to solve an equation you simply use the solve function. If you want to do a Fourier Transform then there is an FFT function. If you want to do a Principle Components analysis then use the PCA function and so on.

The language is chock full of big sophisticated functions that you can use to do big sophisticated things in just one or two function calls. This is what makes Wolfram programs look so terse and hence efficient.

Untuk membaca tulisan utuh silakan mengakses link ini.